Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan sebagian persoalan pendidikan kita sebenarnya sederhana: kita terlalu sibuk membuat anak tahu, tetapi lupa mengajarinya cara berpikir.
Saya teringat pada burung beo.
Burung beo bisa mengucapkan kata-kata manusia. Bahkan kalau dilatih terus-menerus, ia bisa mengucapkan kalimat dengan sangat lancar. Tetapi apakah ia memahami apa yang dikatakannya? Belum tentu.
Mesin fotokopi juga demikian. Ia bisa membuat salinan yang sangat persis. Tulisan yang benar akan disalin dengan benar. Tulisan yang salah pun akan disalin dengan kesalahan yang sama. Mesin itu tidak pernah bertanya, “Benarkah yang saya salin ini?”
Dua gambaran sederhana ini sebenarnya cukup untuk mengajak kita melihat kembali metode pendidikan.
Apakah kita sedang mendidik manusia yang mampu berpikir, atau hanya menghasilkan manusia yang pandai mengulang?
Di sekolah dan perguruan tinggi, kemampuan menghafal masih sering dianggap sebagai tanda penguasaan pengetahuan. Siswa mampu menyebutkan definisi, mahasiswa mampu mengutip teori, lalu dianggap telah memahami pelajaran.
Padahal, hafal dan paham adalah dua perkara yang berbeda.
Seorang mahasiswa bisa hafal pengertian hermeneutika, strukturalisme, positivisme, atau dekonstruksi. Tetapi ketika diberikan sebuah persoalan nyata, ia belum tentu tahu harus menggunakan konsep yang mana, mengapa konsep itu dipilih, dan bagaimana menerapkannya.
Di situlah persoalannya.
Pengetahuan memberi kita bahan untuk berpikir, tetapi nalar menentukan bagaimana bahan itu digunakan.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa jawabannya?” Kita juga perlu bertanya, “Mengapa jawabannya seperti itu?” Lebih penting lagi, “Bagaimana kamu sampai pada jawaban tersebut?”
Pertanyaan terakhir sering kali justru terlupakan.
Padahal dari sana kita bisa melihat kualitas cara berpikir seseorang.
Manusia tidak selalu memahami kenyataan dengan cara yang sama. Ada persoalan yang bisa didekati secara rasional dan logis. Ada yang membutuhkan pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya. Ada yang membutuhkan pembacaan terhadap bahasa dan makna. Ada pula persoalan yang baru bisa dipahami setelah kita melihat pengalaman dan sudut pandang subjek yang mengalaminya.
Karena itu, pendidikan seharusnya memperkenalkan peserta didik pada beragam cara bernalar, bukan memaksa semua persoalan masuk ke dalam satu cetakan.
Dalam pembahasan tentang nalar bahasa dan epistemologi bayani, misalnya, kita mengenal nalar aqliyah dan naqliyah, strukturalisme, hermeneutik, dialektik, sampai dekonstruksi. Masing-masing memiliki cara melihat persoalan yang berbeda.
Saya kira, ini bukan sekadar perkara teori filsafat.
Ini persoalan sehari-hari di ruang kelas.
Ketika seorang guru mengatakan, “Jawabannya seperti ini,” siswa seharusnya tidak hanya belajar mengingat jawaban tersebut. Ia perlu diberi kesempatan memahami alasan di baliknya. Kalau memiliki data atau argumentasi berbeda, ia juga perlu diberi ruang untuk mengujinya.
Tentu, berbeda pendapat bukan berarti bebas mengatakan apa saja.
Pendapat tetap harus punya alasan.
Di sinilah nalar kritis bekerja.
Saya kira salah satu tanda pendidikan yang sehat adalah ketika peserta didik tidak takut bertanya.
“Kenapa begitu?”
“Apakah selalu begitu?”
“Bagaimana kalau konteksnya berbeda?”
“Apakah ada penjelasan lain?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, bisa jadi justru di situlah proses belajar yang sebenarnya sedang terjadi.
Ilmu pengetahuan berkembang karena manusia tidak puas dengan jawaban yang sudah tersedia.
Newton tidak berhenti pada apel yang jatuh.
Einstein tidak berhenti pada fisika yang sudah mapan.
Para pemikir tidak menjadi penting karena mereka paling pandai menghafal buku pendahulunya, tetapi karena mereka mampu membaca kembali pengetahuan yang telah ada dan menemukan persoalan baru di dalamnya.
Dalam bahasa dekonstruksi, sesuatu yang sudah mapan dapat dibaca kembali untuk menemukan kemungkinan pemahaman yang lain.
Artinya, pendidikan perlu mengajarkan keberanian untuk membaca ulang.
Bukan sekadar menerima.
Hal yang sama berlaku bagi guru dan dosen.
Guru bukan mesin untuk memindahkan isi buku ke kepala murid. Dosen juga bukan mesin fotokopi teori.
Kalau pendidikan hanya memindahkan informasi, teknologi digital hari ini sudah mampu melakukan pekerjaan itu dengan sangat cepat.
Yang tidak boleh hilang justru peran manusia: mengajak peserta didik memahami konteks, mempertanyakan asumsi, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain, melihat akibat dari sebuah keputusan, dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya.
Karena itu, saya lebih suka melihat guru sebagai teman perjalanan intelektual.
Ia tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara di kelas. Kadang-kadang justru pertanyaan guru yang baik jauh lebih berharga daripada ceramah yang panjang.
Sebab sebuah pertanyaan yang tepat bisa membuat seorang mahasiswa berpikir selama berhari-hari.
Kita tentu tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengutip.
Kita juga tidak membutuhkan generasi yang semua jawabannya seragam hanya karena takut berbeda dengan buku, guru, atau dosennya.
Yang kita butuhkan adalah manusia yang mampu berkata:
“Saya memahami pendapat itu, tetapi saya mempunyai alasan untuk melihatnya secara berbeda.”
Lalu ia mampu menjelaskan alasannya.
Itulah bedanya antara mengulang dan bernalar.
Burung beo dapat mengulang suara manusia. Mesin fotokopi dapat menggandakan tulisan manusia. Tetapi manusia memiliki kemampuan yang jauh lebih besar: mempertanyakan, memahami, menafsirkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Maka jangan sampai pendidikan justru menghilangkan kemampuan tersebut.
Sebab tujuan pendidikan bukan membuat manusia menjadi salinan yang sempurna dari manusia sebelumnya.
Pendidikan seharusnya membuat manusia mampu berpikir dengan kepalanya sendiri, tanpa kehilangan kemampuan untuk mendengar, membaca, menguji, dan menghargai pikiran orang lain.
Kalau akhirnya seorang siswa hanya mampu mengulang apa yang dikatakan gurunya, kita mungkin berhasil mengajarinya banyak hal.
Tetapi kalau ia mampu menjelaskan mengapa ia berpikir demikian, mungkin di situlah pendidikan benar-benar mulai bekerja.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University. (*)