KKN-PPM UGM Olah Melinjo Jadi Selai, Buka Peluang Produk Lokal Bernilai Ekonomi

waktu baca 3 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 12:25 11 Redaksi

SERANG | TD — Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Desa Sangiang mengolah melinjo menjadi selai melalui program Selinjo, membuka peluang pengembangan produk lokal bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Sangiang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten.

Program tersebut dilaksanakan di Posyandu Flamboyan, Sabtu (25/7/2026), dengan melibatkan ibu-ibu PKK, kader posyandu, dan warga Desa Sangiang. Kegiatan ini memperkenalkan pengolahan melinjo menjadi produk pangan alternatif yang dapat dikonsumsi sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha.

Selama ini, melinjo menjadi salah satu komoditas yang cukup melimpah di Desa Sangiang. Namun, pemanfaatannya masih banyak dilakukan dengan menjual melinjo dalam bentuk mentah atau mengolahnya menjadi emping.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM menghadirkan Selinjo sebagai alternatif pengolahan. Melalui inovasi ini, melinjo tidak hanya dipandang sebagai bahan baku emping, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk pangan dengan nilai tambah.

“Pembuatan selai dari melinjo ini diharap mampu memberikan nilai tambah pada produk olahan dari melinjo yang melimpah di daerah ini,” ujar Salma Amalia, mahasiswa Teknik Pertanian dan Biosistem UGM sekaligus salah satu pelaksana program Selinjo.

Menurut Salma, pembuatan selai melinjo juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya mengembangkan berbagai produk olahan berbasis komoditas lokal.

Dengan adanya alternatif pengolahan, melinjo tidak harus selalu dijual dalam bentuk mentah atau berakhir sebagai bahan baku emping. Masyarakat dapat melihat peluang lain untuk mengembangkan produk yang menyasar konsumen dengan preferensi berbeda.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan proses pembuatan selai melinjo dari tahap awal hingga pengemasan. Proses dimulai dengan memilih dan mencuci melinjo sebelum direbus hingga lunak.

Melinjo yang telah lunak kemudian diolah bersama gula, air, dan kayu manis. Campuran tersebut dimasak sambil terus diaduk hingga mengental dan menghasilkan tekstur yang menyerupai selai.

Setelah matang, selai melinjo didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam jar kaca. Pengemasan ini dilakukan agar produk lebih praktis disimpan dan dikonsumsi, sekaligus memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai tahapan sederhana pengembangan produk pangan.

Bagi warga Desa Sangiang, pengolahan tersebut menjadi salah satu alternatif pemanfaatan hasil pertanian di tengah melimpahnya produksi melinjo. Pengetahuan mengenai pengolahan dan pengemasan juga dapat menjadi bekal awal apabila produk Selinjo dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.

Program tersebut sekaligus membuka perspektif baru mengenai potensi ekonomi melinjo. Komoditas yang selama ini identik dengan emping dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan dengan nilai jual dan karakter pasar yang berbeda.

Pengembangan produk olahan berbasis melinjo juga diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan hasil panen secara lebih optimal. Pada tahap selanjutnya, inovasi tersebut dapat dikembangkan melalui penyempurnaan rasa, kemasan, daya simpan, hingga strategi pemasaran.

Selain memberikan keterampilan baru, program Selinjo diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Sangiang. Pengolahan di tingkat rumah tangga menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Program Selinjo sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama melalui pengembangan kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.

Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk turunan bernilai tambah. Selain itu, pemanfaatan melinjo sebagai bahan pangan alternatif turut mendukung SDGs 2 tentang Tanpa Kelaparan.

Melalui Selinjo, mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya memperkenalkan bahwa potensi melinjo di Desa Sangiang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari komoditas yang selama ini banyak dijual mentah atau diolah menjadi emping, melinjo kini diperkenalkan sebagai bahan baku selai yang berpotensi menjadi produk lokal bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan produk olahan secara mandiri sekaligus memperkuat pemanfaatan potensi pertanian lokal Desa Sangiang. (*)

LAINNYA