Kurikulum Pendidikan Menghadapi Sakaratul Maut

waktu baca 7 menit
Selasa, 11 Agu 2026 22:34 31 Redaksi

OPINI | TD — Pendidikan selama ini lebih banyak berbicara tentang bagaimana manusia mempersiapkan masa depan: meraih prestasi, mendapatkan pekerjaan, membangun karier, meningkatkan kesejahteraan, dan mencapai kesuksesan dalam kehidupan dunia. Anak-anak diajarkan membaca, berhitung, menguasai teknologi, berkompetisi, bahkan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Namun, ada satu kepastian yang hampir tidak pernah menjadi tujuan utama dalam pendidikan: mempersiapkan manusia untuk menghadapi kematian.

Padahal, kematian bukan kemungkinan. Kematian adalah kepastian.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 185:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian. Jabatan, kekayaan, ilmu pengetahuan, popularitas, maupun usia tidak pernah menjadi alasan seseorang terbebas dari ketentuan tersebut.

Menjelang kematian, manusia akan memasuki fase yang dikenal sebagai sakaratul maut, yaitu keadaan ketika seseorang berada di ambang berakhirnya kehidupan dunia dan menuju alam berikutnya. Al-Qur’an menggambarkan beratnya keadaan tersebut dalam QS Qaf ayat 19:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”

Pertanyaannya kemudian: sudahkah pendidikan kita mempersiapkan manusia untuk menghadapi saat tersebut?

Pendidikan yang Terlalu Sibuk Mempersiapkan Kehidupan Dunia

Dalam praktik pendidikan formal maupun nonformal, pembahasan tentang kematian umumnya hadir secara terbatas. Dalam pendidikan Islam, peserta didik tentu mendapatkan pembelajaran akidah, fikih ibadah, dan akhlak. Namun, pendidikan yang secara khusus membangun kesiapan mental, spiritual, dan adab dalam menghadapi kematian belum menjadi bagian yang terstruktur dan berkesinambungan.

Pengetahuan tentang kematian sering kali baru diperoleh ketika seseorang berhadapan dengan kematian orang tua, kerabat, guru, atau orang terdekat. Sementara itu, keterampilan mendampingi seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, memahami adab talqin, mempersiapkan diri secara spiritual, hingga melakukan muhasabah kehidupan, lebih banyak diperoleh melalui pengalaman dan tradisi masyarakat.

Padahal, kematian merupakan bagian integral dari perjalanan manusia.

Pendidikan semestinya tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan, tetapi juga bagaimana seseorang menyelesaikan kehidupan dengan baik.

Sebab, sehebat apa pun manusia membangun kehidupannya, pada akhirnya setiap perjalanan akan sampai pada satu titik: pulang.

Mengingat Kematian Bukan Berarti Menakut-nakuti

Islam tidak mengajarkan manusia untuk hidup dalam ketakutan terhadap kematian. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar manusia memandang kematian secara proporsional: sebagai kepastian yang harus dipersiapkan.

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar memperbanyak mengingat kematian, karena kematian merupakan sesuatu yang memutus berbagai kenikmatan dunia.

Pesan tersebut sesungguhnya memiliki dimensi pendidikan yang sangat kuat.

Orang yang menyadari bahwa hidupnya terbatas akan lebih berhati-hati menggunakan waktunya. Ia akan berpikir sebelum menyakiti orang lain. Ia akan mempertimbangkan kembali ambisi yang berlebihan. Ia akan menyadari bahwa harta, jabatan, dan popularitas bukanlah tujuan akhir.

Dengan demikian, mengingat kematian bukanlah ajaran untuk membuat manusia menjadi pasif. Justru sebaliknya, kesadaran terhadap kematian dapat menjadi energi moral untuk menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anbiya ayat 35:

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”

Kehidupan dunia adalah ruang ujian. Kematian bukan akhir dari seluruh perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya.

Karena itu, pendidikan yang hanya mempersiapkan manusia untuk sukses di dunia tanpa membekali kesadaran tentang akhirat pada dasarnya masih belum lengkap.

Dari Kurikulum Kehidupan Menuju Kurikulum Kematian

Gagasan tentang “kurikulum menghadapi sakaratul maut” bukan berarti sekolah harus mengajarkan kematian secara menakutkan kepada anak-anak. Sebaliknya, gagasan ini dapat dimaknai sebagai pendidikan kehidupan yang menjadikan kesadaran akan kematian sebagai bagian dari pembentukan karakter manusia.

Pendidikan semacam ini harus dilakukan secara bertahap sesuai usia dan perkembangan peserta didik.

Pada usia dini, misalnya, kesadaran tentang kematian dapat diperkenalkan melalui pemahaman sederhana bahwa setiap makhluk hidup memiliki batas kehidupan dan bahwa manusia harus menyayangi sesama serta berbuat baik.

Pada jenjang pendidikan berikutnya, pembelajaran dapat dikembangkan menjadi pemahaman tentang akidah, alam barzah, hari akhir, tanggung jawab moral, serta pentingnya amal saleh.

Sementara pada usia dewasa, pendidikan dapat diarahkan pada kesiapan yang lebih praktis: memahami adab menghadapi orang yang sedang sakit keras, mendampingi seseorang yang mengalami sakaratul maut, memahami talqin, pengurusan jenazah, serta membangun kebiasaan muhasabah.

Dengan demikian, pendidikan tentang kematian tidak menjadi pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi menjadi ruh yang menghidupkan pendidikan karakter, akhlak, dan spiritualitas.

Apa yang Harus Ada dalam Kurikulum Menghadapi Sakaratul Maut?

Setidaknya ada beberapa komponen yang dapat dikembangkan.

Pertama, tujuan pendidikan.

Tujuan utamanya bukan membuat peserta didik takut mati, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa kematian adalah kepastian. Kesadaran tersebut diharapkan menjadi motivasi untuk memperbaiki ibadah, akhlak, hubungan sosial, dan kualitas kehidupan.

Pendidikan juga harus membekali seseorang dengan pengetahuan tentang adab dan tuntunan syariat terkait kematian, sekaligus membentuk kesiapan mental dan spiritual agar mampu menghadapi kematian dengan tenang serta mendampingi orang lain yang sedang berada dalam kondisi sakaratul maut.

Kedua, materi pendidikan.

Materinya dapat disusun secara bertahap, mulai dari akidah tentang kematian, alam barzah, dan hari akhir; anjuran memperbanyak mengingat kematian; pentingnya amal saleh; adab menjelang kematian; hingga tata cara mendampingi seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Termasuk di dalamnya pemahaman tentang talqin, yakni membimbing orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar mengingat dan mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh kelembutan.

Ketiga, metode pembelajaran.

Pendidikan tentang kematian tidak tepat jika hanya disampaikan melalui hafalan dan ceramah.

Kisah-kisah keteladanan para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh dalam menghadapi kematian dapat menjadi metode pembelajaran yang menyentuh kesadaran peserta didik.

Diskusi, refleksi, kajian, simulasi pendampingan orang sakit, serta kegiatan sosial seperti takziyah dan pelayanan kepada keluarga yang berduka juga dapat menjadi pengalaman pendidikan yang jauh lebih bermakna.

Keempat, evaluasi.

Jika pendidikan pada umumnya dievaluasi melalui ujian, maka pendidikan menghadapi kematian memiliki bentuk evaluasi yang jauh lebih personal: muhasabah.

Muhasabah dapat dilakukan setiap malam sebelum tidur. Kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang telah saya lakukan hari ini? Siapa yang mungkin telah saya sakiti? Kebaikan apa yang sudah saya lakukan? Dosa apa yang harus saya tinggalkan? Jika malam ini menjadi malam terakhir saya, apakah saya sudah siap?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan bentuk evaluasi kehidupan.

Taman Makam Joglo Jakarta Barat (Foto: Dok. Penulis)

Pendidikan yang Mengajarkan Cara Pulang

Kita tidak pernah tahu kapan sakaratul maut akan datang.

Karena itu, persiapan menghadapinya tidak mungkin dilakukan secara mendadak. Ia harus dibangun melalui kebiasaan yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Kualitas seseorang ketika menghadapi kematian tentu merupakan wilayah yang berada dalam kehendak Allah SWT. Namun, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar menjalani kehidupan dengan iman, amal saleh, akhlak, dan istiqamah.

Di sinilah pendidikan menemukan makna yang lebih dalam.

Pendidikan bukan hanya tentang mencetak manusia yang cerdas. Bukan pula sekadar menghasilkan manusia yang produktif dan kompetitif. Pendidikan semestinya juga melahirkan manusia yang tahu untuk apa ia hidup, bagaimana ia menjalani hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tugas sebagai khalifah di muka bumi. Tetapi tugas kekhalifahan itu bukanlah tujuan akhir. Dunia adalah tempat menjalankan amanah, sementara akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan tersebut.

Maka, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu mempersiapkan manusia untuk hidup dengan benar sekaligus pulang dengan baik.

Pada akhirnya, setiap kurikulum akan berhenti pada batas ruang kelas. Setiap ijazah akan kehilangan makna duniawinya. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan berpindah tangan. Popularitas akan berlalu.

Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali: apakah pendidikan kita hanya sedang mengajarkan manusia bagaimana meraih kehidupan, atau juga sedang mengajarkan bagaimana menghadapi kepulangan?

Sebab, sehebat apa pun manusia merencanakan masa depan, ada satu masa depan yang pasti datang dan tidak dapat ditunda: sakaratul maut.

Semoga pendidikan mampu menuntun manusia bukan hanya menjadi sukses selama hidup, tetapi juga menjadi manusia yang siap mempertanggungjawabkan kehidupannya ketika tiba saat untuk pulang.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita keistiqamahan dalam kebaikan dan menutup kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Penulis: Oleh: Dr. Zulkifli, MA (*)

LAINNYA