Ayahku, Panutanku: Mengenang Sosok Ayah yang Selalu Membersamaiku

waktu baca 5 menit
Sabtu, 8 Agu 2026 16:19 49 Redaksi

OPINI | TD — Ayah adalah sosok yang sering kali hadir dalam diam. Ia tidak selalu banyak bicara, tetapi langkah, sikap, dan pengorbanannya menjadi pelajaran yang perlahan kita pahami sepanjang perjalanan hidup.

Dalam keluarga, ayah memiliki kedudukan yang mulia. Ia bukan sekadar kepala keluarga, tetapi juga pelindung, pemimpin, pendidik, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Dari seorang ayah, seorang anak belajar tentang keberanian, tanggung jawab, keteguhan, sekaligus arti sebuah pengorbanan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang ayah adalah bagian tengah dari pintu-pintu surga. Jika engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah.” (HR. Tirmidzi).

Hadis tersebut mengingatkan betapa besar kedudukan seorang ayah sekaligus tanggung jawab yang melekat di pundaknya.

Ketika mengenang sosok ayah, ingatan saya seperti membuka kembali lembar demi lembar perjalanan masa kecil hingga dewasa.

Pada usia 0 hingga 1 tahun, mungkin seorang anak belum mampu mengingat banyak hal. Namun, di masa itulah pelukan ayah menjadi tempat pertama untuk merasakan kenyamanan, keamanan, dan ketenangan. Ayah menggendong, mengayun, dan memastikan anaknya berada dalam dekapan yang penuh kasih.

Memasuki usia 1 hingga 5 tahun, dunia terasa begitu sederhana. Bermain bersama ayah menjadi kebahagiaan tersendiri. Ada tawa, permainan, cerita, dan kebersamaan yang saat itu terasa biasa, tetapi kelak justru menjadi kenangan yang sangat berharga.

Ketika memasuki usia kanak-kanak, sekitar 5 hingga 8 tahun, sosok ayah mulai terlihat seperti manusia yang serba bisa. Ayah bisa bermain bola, mengajari naik sepeda, menemani bermain, bahkan bercerita menjelang tidur. Bagi seorang anak, ayah seolah menjadi sosok yang tahu banyak hal.

Pada usia 5 hingga 12 tahun, ayah mulai mengambil peran yang lebih besar sebagai pendidik dan teladan. Ia bukan hanya mengajarkan ilmu untuk menghadapi kehidupan dunia, tetapi juga mengenalkan ilmu agama sebagai bekal kehidupan.

Kadang-kadang ayah terlihat galak. Namun, semakin dewasa saya memahami bahwa ketegasan itu bukan bentuk kebencian. Di balik suara yang tegas dan aturan yang dibuatnya, terdapat kekhawatiran seorang ayah terhadap masa depan anaknya.

Memasuki usia remaja, sekitar 12 hingga 18 tahun, nasihat ayah terkadang terasa seperti terlalu banyak aturan. Ini harus begini, itu tidak boleh begitu. Bagi seorang anak yang sedang mencari kebebasan, nasihat tersebut sesekali menimbulkan kekesalan.

Saat itu kita belum memahami bahwa di balik setiap larangan ada kekhawatiran. Di balik setiap nasihat ada harapan. Dan di balik ketegasan ada kasih sayang yang tidak selalu mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Waktu kemudian membawa kita memasuki usia dewasa. Pada rentang usia 18 hingga 25 tahun, perlahan kita mulai memahami alasan di balik aturan-aturan yang dulu terasa mengganggu.

Kita mulai menghadapi kehidupan dengan segala persoalannya. Saat itulah nasihat ayah satu per satu menemukan tempatnya. Petuah yang dahulu terdengar sederhana ternyata menjadi semacam kompas ketika kita harus menentukan arah kehidupan.

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula nasihat ayah yang terasa benar. Apa yang dahulu dianggap sebagai ceramah, ternyata menjadi bekal. Apa yang dulu dianggap sebagai larangan, ternyata merupakan bentuk perlindungan.

Memasuki usia 30 hingga 40 tahun, saya semakin memahami betapa berat menjadi seorang ayah.

Dulu, saya hanya melihat ayah sebagai seseorang yang bekerja, pulang ke rumah, lalu menjalankan kewajibannya. Kini, setelah merasakan bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang tua, saya mulai memahami bahwa di balik rutinitas itu ada kelelahan yang mungkin tidak pernah ia ceritakan.

Sepulang bekerja, ayah masih menyempatkan diri mengajari saya mengaji. Pada malam hari, ia menemani saya belajar untuk menghadapi pelajaran di sekolah. Bahkan pada waktu subuh, ketika sebagian orang mungkin masih ingin menikmati hangatnya tempat tidur, ayah sudah mengajarkan saya untuk belajar.

Hari libur pun bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Setelah salat Subuh, kami berolahraga dan bermain bersama.

Kini saya menyadari bahwa waktu-waktu sederhana itulah yang sesungguhnya menjadi kekayaan terbesar dalam hidup.

Ayah mungkin tidak selalu memiliki banyak waktu. Namun, ia selalu berusaha menyediakan waktu untuk anaknya.

Dulu saya tidak memahami arti semua itu.

Kini, ketika usia semakin bertambah, saya justru semakin sering merindukannya.

Waktu memang memiliki cara yang aneh. Ketika masih kecil, kita ingin cepat menjadi dewasa. Ketika sudah dewasa, kita justru ingin kembali menjadi anak kecil, sekadar untuk merasakan kembali suara, nasihat, pelukan, dan kehadiran ayah.

Namun, kehidupan tidak pernah berjalan mundur.

Pada akhirnya, setiap pertemuan akan sampai pada perpisahan. Yang dahulu bisa diajak berbicara secara langsung, kini hanya bisa ditemui melalui kenangan. Yang dahulu dapat kita dengarkan nasihatnya, kini hanya bisa kita panjatkan doa untuknya.

Kini komunikasi saya dengan ayah hanya dapat dilakukan melalui doa.

Saya memohon kepada Allah SWT agar segala amal kebaikan ayah diterima, segala kekhilafannya diampuni, dan ia ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, di tempat yang diridai Allah, yakni surga-Nya.

Kenangan tentang ayah mengajarkan saya bahwa menjadi orang tua bukan sekadar memberikan kehidupan kepada anak. Menjadi ayah berarti memberikan arah, keteladanan, pendidikan, perlindungan, dan cinta yang terkadang tidak terucapkan.

Karena itu, bagi kita yang masih memiliki ayah dan ibu, jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti kehadiran mereka.

Selagi mereka masih ada, perbanyaklah berbuat baik. Luangkan waktu. Dengarkan ceritanya. Minta nasihatnya. Berikan perhatian. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya mereka setelah yang tersisa hanyalah kenangan.

Dan bagi para ayah, jadilah guru pertama sekaligus teladan bagi anak-anak. Sebab boleh jadi, apa yang kita anggap sebagai rutinitas hari ini justru akan menjadi kenangan paling berharga bagi mereka di kemudian hari.

Ayah mungkin tidak selalu mengatakan bahwa ia mencintai anaknya.

Tetapi dari setiap peluh, nasihat, ketegasan, waktu yang diluangkan, dan doa yang dipanjatkan, cinta itu sesungguhnya telah berbicara jauh lebih keras daripada kata-kata.

Ayahku adalah panutanku. Dan meskipun kini hanya doa yang dapat kupanjatkan untukmu, semua nasihat dan keteladananmu akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Penulis: Dr. Zulkifli, MA (*)

LAINNYA