Pemilik kapal Arupadatu 1, Sandi, memastikan life jacket yang ditemukan di perairan sekitar Anyer bukan bagian dari perlengkapan kapal yang membawa lima jurnalis dan dilaporkan hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau. Dalam keterangannya, Sandi membandingkan life jacket tersebut dengan perlengkapan di Arupadatu 2. (Foto: Istimewa) PANDEGLANG | TD — Lima jurnalis yang berada dalam rombongan kapal Arupadatu 1 masih belum diketahui keberadaannya setelah mengalami lost contact di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Dalam perkembangan terbaru pencarian, Polda Banten memastikan life jacket yang ditemukan di perairan sekitar Anyer bukan milik kapal tersebut.
Kabidhumas Polda Banten mengatakan, life jacket yang ditemukan sebelumnya telah diamankan tim untuk menjalani pemeriksaan dan pendalaman lebih lanjut.
“Benda tersebut telah diamankan oleh tim untuk dilakukan pemeriksaan dan pendalaman lebih lanjut,” ujarnya dalam keterangan pada Jumat (11/9/2026).
Kepastian bahwa life jacket tersebut bukan bagian dari perlengkapan Arupadatu 1 disampaikan pemilik kapal, Sandi. Ia mengatakan, pihaknya telah membandingkan life jacket yang ditemukan dengan perlengkapan yang terdapat di kapal Arupadatu 2.
“Life jacket yang ditemukan tim bukan milik kapal Arupadatu 1 karena berbeda dengan yang saya miliki. Saya mengambil pembanding dari perlengkapan yang ada di Arupadatu 2,” kata Sandi.
Menurut dia, perbedaan terlihat pada sejumlah bagian, mulai dari resleting, grip, hingga bahan yang digunakan.
“Perbedaannya terlihat dari bagian resleting, grip, maupun bahannya. Dapat dipastikan bahwa objek life jacket yang ditemukan tersebut tidak berkaitan dengan perlengkapan yang berada di speedboat Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang kontak,” jelasnya.
Selain operasi pencarian di lapangan, Polda Banten juga melakukan persiapan proses identifikasi melalui pengumpulan data antemortem dari keluarga korban.
Kabiddokkes Polda Banten Kombes Pol Dr. I Gusti Gede Dharma Arimbawa mengatakan, data antemortem menjadi bagian penting dalam proses identifikasi apabila nantinya ditemukan korban.
“Dalam penanganan korban bencana, proses identifikasi dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain pemeriksaan tempat kejadian perkara, pengumpulan data antemortem, pemeriksaan postmortem, serta rekonsiliasi,” jelasnya.
Hingga saat ini, pihaknya telah menerima delapan data antemortem dari keluarga korban. Data tersebut nantinya akan dicocokkan dengan data postmortem apabila korban ditemukan dalam proses pencarian.
“Data tersebut nantinya akan dicocokkan dengan data postmortem apabila ditemukan korban. Apabila data antemortem dan postmortem telah sesuai atau matching, barulah dapat dinyatakan identitas korban,” ujarnya.
Sementara itu, Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea meminta masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi terkait perkembangan pencarian lima jurnalis tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” kata Maruli.
Ia meminta masyarakat mengacu pada informasi resmi dari Polda Banten dan tim SAR gabungan untuk mengetahui perkembangan operasi pencarian.
“Untuk perkembangan operasi pencarian, kami meminta masyarakat mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh Polda Banten maupun tim SAR gabungan,” tutupnya. (*)