UMN Hadirkan “Sunggi Bahasa”, Mengembangkan U-Tapis untuk Menapis Kesalahan Bahasa Jurnalistik

waktu baca 6 menit
Rabu, 30 Sep 2026 19:54 55 Redaksi

TANGERANG | TD — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa peluang sekaligus tantangan bagi penggunaan bahasa Indonesia dalam praktik jurnalistik. Di tengah tuntutan produksi berita yang cepat, kesalahan ejaan, diksi, struktur kalimat, hingga penggunaan kaidah bahasa masih dapat ditemukan dalam naskah yang dipublikasikan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu latar pengembangan buku Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Berbahasa, karya Dr. Niknik Mediyawati, M.Hum., Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.I.Kom., Marlinda Vasty Overbeek, S.Kom., M.Kom., Rudi Sutomo, S.Kom., M.Si., M.Kom., dan Moeljono Widjaja, B.Sc., M.Sc., Ph.D.

Buku ini mempertemukan tiga bidang utama, yakni bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi, dengan U-Tapis sebagai salah satu bentuk penerapan teknologi untuk membantu proses pendeteksian dan koreksi kesalahan berbahasa.

Buku tersebut diperkenalkan dalam kegiatan From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing di Ruang Borneo, P.K. Ojong–Jakob Oetama Tower Lantai 20, UMN, Rabu (30/9/2026).

Menjunjung Bahasa Indonesia

Dr. Niknik Mediyawati menjelaskan, istilah “Sunggi” dipilih sebagai simbol menjunjung sesuatu di atas kepala. Dalam konteks buku tersebut, Sunggi Bahasa dimaknai sebagai upaya menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus bagian dari kecintaan terhadap Indonesia.

“Dengan Sunggi Bahasa ini, kita sebagai akademisi mampu menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” ujar Niknik.

Menurut dia, judul tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Kata “sunggi” merupakan usulan seorang mahasiswa UMN bernama Anissa yang disebut memberikan gagasan tersebut sebelum meninggal dunia beberapa hari menjelang kegiatan peluncuran buku.

Namun, substansi buku tidak berhenti pada simbolisme bahasa. Sunggi Bahasa berangkat dari persoalan konkret dalam penggunaan bahasa Indonesia, khususnya ketika bahasa tersebut digunakan untuk memproduksi informasi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi AI.

U-Tapis sebagai Penapis Kesalahan Berbahasa

Salah satu gagasan utama dalam buku ini adalah U-Tapis, aplikasi yang dikembangkan untuk mendeteksi sekaligus membantu mengoreksi kesalahan berbahasa.

Marlinda Vasty Overbeek menjelaskan, U-Tapis memanfaatkan sejumlah pendekatan dalam kecerdasan buatan, termasuk machine learning dan deep learning. Teknologi tersebut digunakan untuk membangun modul-modul pendeteksian dan koreksi.

Menurut Vasty, tim telah mengembangkan sekitar 11 modul untuk menangani berbagai persoalan kebahasaan.

Konsep “tapis” menggambarkan proses penyaringan. Sistem bekerja dengan membangun aturan-aturan kebahasaan yang kemudian diterjemahkan ke dalam model matematis dan algoritmik.

Dengan pendekatan tersebut, U-Tapis tidak sekadar menghasilkan teks baru, tetapi diarahkan untuk mengenali bentuk bahasa, menemukan bagian yang berpotensi salah, kemudian memberikan koreksi berdasarkan kaidah yang telah dibangun.

Bahasa Jurnalistik Menjadi Ruang Penerapan

Samiaji Bintang Nusantara menekankan bahwa buku tersebut tidak dibuat untuk menghakimi jurnalis karena masih terdapat kesalahan bahasa dalam produk media.

Menurutnya, kesalahan bahasa dalam kerja jurnalistik memiliki banyak faktor. Jurnalis bekerja dalam situasi yang menuntut kecepatan, menghadapi tenggat waktu, serta harus segera menyajikan informasi kepada publik.

“Kesalahan-kesalahan ini pada dasarnya tidak sepenuhnya berdasarkan kesengajaan,” ujarnya.

Karena itu, teknologi dalam U-Tapis ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis maupun editor.

Bagi Bintang, keberadaan teknologi justru dapat membantu pekerja media memiliki perangkat tambahan untuk meningkatkan ketelitian bahasa sebelum sebuah berita dipublikasikan.

Bukan Sekadar Buku Tata Bahasa

Rudi Sutomo menjelaskan bahwa Sunggi Bahasa tidak dapat ditempatkan hanya sebagai buku tata bahasa atau buku teknologi informasi.

Menurutnya, buku tersebut dibangun dari pertemuan tiga wilayah pengetahuan.

“Buku ini menggunakan kaidah bahasa sebagai fondasi, tetapi bukan hanya buku tentang tata bahasa. Buku ini juga membahas bahasa dalam praktik jurnalistik dan bagaimana teknologi yang digunakan dapat membantu mendeteksi kesalahan bahasa,” katanya.

Karena itu, pembaca akan menemukan pembahasan mengenai kaidah bahasa Indonesia, penerapannya dalam jurnalistik, serta teknologi yang digunakan untuk membantu proses penyuntingan.

AI Tidak Menggantikan “Rasa” dalam Jurnalistik

Persoalan penting lainnya yang muncul dalam pembahasan buku adalah batas penggunaan AI dalam penulisan jurnalistik.

Dalam sesi diskusi, jurnalis TangerangDaily, Mohamad Romli menyoroti perbedaan antara bahasa yang secara kaidah benar dengan bahasa yang memiliki karakter manusiawi.

Menurutnya, produk jurnalistik tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi. Dalam sejumlah bentuk tulisan, terutama narasi dan feature, bahasa juga digunakan untuk membangun kedekatan emosional, menyentuh pembaca, dan mendorong kesadaran.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena teknologi dapat memperbaiki struktur bahasa, tetapi karakter tulisan manusia tidak selalu dapat direduksi menjadi persoalan benar atau salah secara gramatikal.

Menanggapi hal itu, Bintang menegaskan bahwa U-Tapis tidak dimaksudkan menggantikan kreativitas manusia.

Sebaliknya, pengembangan U-Tapis diarahkan untuk memperkuat kekhasan bahasa Indonesia dengan mempertimbangkan kekayaan kebahasaan seperti peribahasa, pantun, idiom, dan unsur bahasa daerah.

Artinya, teknologi yang dikembangkan tidak semata-mata mengikuti pola bahasa dari sistem AI global, tetapi berupaya membangun perangkat yang lebih dekat dengan karakter bahasa Indonesia.

Data dan Anotasi Menjadi Fondasi

Pengembangan U-Tapis juga membutuhkan data sebagai bahan untuk membangun pola kebahasaan.

Tim pengembang menjelaskan bahwa mereka menggunakan sekitar 10 ribu artikel mentah sebagai salah satu sumber data dalam pengembangan sistem. Data tersebut diperoleh antara lain melalui dukungan Tribunnews.

Data kemudian diproses untuk menemukan pola bahasa yang diperlukan dalam pengembangan berbagai modul.

Dalam proses tersebut, tim tidak hanya mengandalkan algoritma. Anotator manusia memiliki peran penting dalam memberikan pelabelan terhadap data berdasarkan kaidah kebahasaan.

Pelabelan tersebut menjadi dasar bagi sistem untuk mempelajari bentuk-bentuk bahasa yang benar dan salah.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan upaya mengurangi kesalahan atau halusinasi yang dapat muncul dalam sistem berbasis AI.

Tim menjelaskan bahwa proses koreksi dilakukan melalui rangkaian atau pipeline yang dimulai dari pendeteksian, pengolahan aturan kebahasaan, hingga koreksi. Teknologi berbasis transformer juga digunakan dalam tahap tertentu untuk membantu proses pemodelan bahasa.

U-Tapis Masih Dikembangkan

Meski telah dikembangkan dan digunakan dalam pengujian terbatas, U-Tapis belum sepenuhnya dibuka untuk publik.

Tim menyebut aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Sejumlah algoritma yang dikembangkan juga tengah diproses dalam pengajuan kekayaan intelektual atau paten.

Untuk saat ini, U-Tapis dapat digunakan secara terbatas di lingkungan UMN, sementara pengembangan lebih lanjut dilakukan melalui penelitian, termasuk dukungan dari BRIN.

Tim berharap aplikasi tersebut dapat dikembangkan hingga nantinya dapat dimanfaatkan lebih luas.

Teknologi sebagai Mitra, Bukan Pengganti Manusia

Moeljono Widjaja melihat perkembangan AI sebagai peluang yang harus disikapi secara kritis.

Menurutnya, AI dapat digunakan untuk membantu manusia memahami persoalan dan menemukan solusi, tetapi tidak semestinya membuat manusia berhenti belajar atau menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Karena itu, Sunggi Bahasa pada dasarnya tidak menawarkan teknologi sebagai pengganti manusia. Buku ini justru memperlihatkan bagaimana bahasa, kemampuan jurnalistik, dan teknologi dapat ditempatkan dalam satu ekosistem kerja.

Niknik menyebut kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan utama buku.

Keilmuan bahasa Indonesia berkolaborasi dengan jurnalistik, sistem informasi, dan teknik informatika untuk menjawab persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin.

“Keilmuan akan menemukan sesuatu yang bermakna ketika mampu berkolaborasi dengan ilmu yang lain,” tuturnya.

Pada akhirnya, Sunggi Bahasa menempatkan U-Tapis sebagai alat penyaring dan pendukung kualitas bahasa, sementara keputusan editorial, konteks, kreativitas, rasa, dan tanggung jawab terhadap publik tetap berada pada manusia.

Bagi dunia jurnalistik, pesan utama buku ini menjadi relevan: teknologi boleh membantu menyaring bahasa, tetapi manusia tetap menjadi penentu makna. (*)

LAINNYA