PWI Sulut Award 2026, Akhmad Munir Tegaskan Wartawan Harus Berjiwa Pejuang

waktu baca 4 menit
Minggu, 8 Nov 2026 20:05 39 Nazwa

MANADO | TD – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir menegaskan bahwa wartawan harus tetap memegang teguh jati dirinya sebagai pejuang bangsa. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui profesionalisme, integritas, serta kontribusi nyata dalam menjaga demokrasi dan mendorong pembangunan.

Pesan itu disampaikan Akhmad Munir saat menghadiri PWI Sulut Award 2026 di Manado, Sabtu (7/11/2026).

Munir mengatakan, semangat perjuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah PWI. Organisasi wartawan tersebut lahir pada 1946, bersamaan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“PWI sendiri lahir pada tahun 1946, bersamaan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,” kata Munir.

Ia menyebutkan, saat ini anggota PWI mencapai hampir 40 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa PWI bukan sekadar organisasi profesi, melainkan bagian dari sejarah perjalanan bangsa.

“Sejarah panjang itu menjadi bukti bahwa PWI bukan organisasi baru, melainkan bagian dari sejarah bangsa,” ujarnya.

Apresiasi untuk PWI Sulut

Dalam kesempatan tersebut, Munir menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya kepada PWI Sulawesi Utara (Sulut) yang berhasil menyelenggarakan PWI Sulut Award 2026, meskipun kepengurusannya belum genap satu tahun.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan kerja keras, kekompakan, dan keseriusan pengurus PWI Sulut di bawah kepemimpinan Sintya Bojoh dalam membangun organisasi sekaligus merawat kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Ini luar biasa. Kepengurusan belum setahun, tapi sudah bisa membuat acara sebesar PWI Sulut Award. Ini bukti PWI Sulut bekerja sungguh-sungguh, solid, dan dipercaya oleh banyak pihak,” ujar Munir.

Ia berharap pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi PWI Sulut untuk terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat program organisasi, serta bersama-sama membesarkan PWI dengan seluruh pengurus PWI provinsi di Indonesia.

Munir juga mengingatkan pentingnya peran wartawan dalam mendukung kemajuan daerah dan bangsa. Menurutnya, media bukanlah lawan pemerintah, melainkan mitra strategis dalam mendorong pembangunan.

Bersama seluruh pemangku kepentingan, PWI memiliki tanggung jawab untuk merawat demokrasi, mengawal pembangunan, dan memastikan kehidupan berbangsa berjalan dengan baik.

“Kami merasa masih banyak ‘utang’ (kewajiban) yang harus ditunaikan. PWI sebagai wartawan pejuang, PWI harus terus berjuang berkontribusi memajukan bangsa dan negara, melanjutkan nilai historisnya dan nilai kejuangan ini masih relevan sampai saat ini,” kata Munir.

Wartawan Harus Melawan Hoaks dan Menjaga Integritas

Munir turut menyoroti tantangan dunia jurnalistik di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.

Menurutnya, informasi yang beredar di ruang publik saat ini sangat melimpah. Namun, tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan. Berita bohong, fitnah, dan informasi yang dipelintir kerap bercampur dengan informasi yang benar.

Ia mengibaratkan informasi seperti obat. Jika dikonsumsi secara berlebihan dan tidak tepat, justru dapat menjadi racun bagi masyarakat.

Karena itu, ketika masyarakat terpapar informasi yang menyesatkan, wartawan profesional harus hadir menyajikan informasi yang benar, akurat, dan telah melalui proses verifikasi.

Munir meyakini masyarakat membutuhkan berita yang dapat dipercaya. Untuk itu, wartawan harus menjaga identitas profesinya dengan terus memelihara profesionalisme dan integritas.

“Kami yakin warga menginginkan berita yang akurat, karena itu, pastikan jati diri wartawan, pelihara profesionalisme dan integritas,” pesannya kepada seluruh wartawan yang hadir.

Ia juga menyoroti praktik oknum wartawan yang melakukan pemerasan dan intimidasi terhadap pejabat maupun pihak lainnya. Munir meminta praktik tersebut dilawan karena mencederai kehormatan profesi wartawan.

“Kalau ada yang mengancam, hadapi dan laporkan ke Kabid Humas Polda Sulut,” katanya.

Di sisi lain, Munir mengingatkan para pejabat agar tidak alergi terhadap wartawan. Sebab, pers memiliki fungsi kontrol sosial untuk memastikan penyelenggaraan pemerintahan berjalan dengan baik.

Ia mengajak pemerintah daerah membangun kemitraan yang sehat dengan insan pers, merangkul wartawan, serta membuka akses komunikasi agar mudah diwawancarai sebagai bagian dari upaya mewujudkan keterbukaan informasi publik.

PWI Sulut Dorong Sinergi Membangun Daerah

Sementara itu, Ketua PWI Sulut Sintya Bojoh menyampaikan apresiasi atas terjalinnya hubungan baik antara wartawan dengan pemerintah daerah maupun kalangan swasta.

Ia berharap hubungan tersebut terus diperkuat sehingga PWI bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi dalam membangun Sulawesi Utara.

PWI Sulut Award 2026 memberikan penghargaan kepada sejumlah kepala daerah, lembaga perbankan, dan pihak swasta yang dinilai memiliki kontribusi terhadap pembangunan daerah serta pembangunan manusia di Sulawesi Utara.

Pada akhir acara, Akhmad Munir kembali menegaskan komitmen PWI untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi tersebut merupakan wujud nyata jati diri wartawan pejuang. Wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga berperan sebagai mitra pembangunan, penjaga demokrasi, dan perekat persatuan bangsa.

“PWI tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bersinergi dengan semua stakeholder. Bersama-sama kita rawat demokrasi, kita kawal pembangunan, dan kita majukan Sulawesi Utara serta Indonesia,” tegas Munir. (Ril/Red)

LAINNYA