Program Tablet Tambah Darah Jangan Berhenti di Tas Sekolah

waktu baca 4 menit
Selasa, 30 Jun 2026 15:18 41 Redaksi

OPINI | TD — Distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Setu, Bakti Jaya, dan Kranggan Kota Tangerang Selatan telah mencapai 100% berdasarkan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2024. Namun, apakah seluruh tablet yang telah didistribusikan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh penerimanya? Pertanyaan ini penting karena anemia pada remaja putri masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2024 memperkirakan bahwa sekitar 30% perempuan usia 15-49 tahun di dunia mengalami anemia, sehingga upaya pencegahan melalui pemberian Tablet Tambah Darah menjadi salah satu strategi penting untuk menurunkan beban anemia. Oleh karena itu, keberhasilan program seharusnya tidak hanya diukur dari tercapainya cakupan distribusi, tetapi juga dari kepatuhan dan sasaran dalam mengonsumsi tablet sesuai anjuran.

Pelaksanaan Program Tablet Tambah Darah (TTD) di lima sekolah di Kecamatan Setu memperlihatkan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi terletak pada proses distribusi tablet, melainkan pada upaya memastikan tablet benar-benar dikonsumsi secara rutin oleh remaja putri sesuai anjuran.

Meskipun cakupan distribusi telah mencapai 100 persen, keberhasilan program pada akhirnya ditentukan oleh kepatuhan konsumsi di tingkat peserta didik. Dari sejumlah sekolah, konsumsi Tablet Tambah Darah telah dilakukan secara bersama di bawah pendampingan guru atau petugas sekolah. Pola ini memungkinkan proses konsumsi dipantau secara langsung sekaligus menjadi upaya meningkatkan kepatuhan siswi.

Namun, di sekolah lain tablet masih dibawa pulang untuk dikonsumsi di rumah. Skema tersebut memang memberikan keleluasaan kepada peserta didik, tetapi sekaligus menyisakan tantangan dalam memastikan tablet benar-benar diminum sesuai jadwal yang dianjurkan.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Program TTD tidak cukup diukur dari banyaknya tablet yang berhasil didistribusikan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap tablet benar-benar dikonsumsi oleh remaja putri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam upaya menurunkan angka anemia.

Capaian distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) yang telah menjangkau seluruh sasaran ternyata masih menyisakan tantangan dalam membangun pemahaman mengenai pentingnya konsumsi tablet secara rutin. Sejumlah siswi mengaku enggan mengonsumsi TTD karena aroma yang kurang disukai atau munculnya efek samping ringan seperti mual setelah meminumnya. Pada saat yang sama, sebagian orang tua masih membutuhkan informasi yang lebih memadai mengenai manfaat TTD serta cara mengatasi efek samping yang mungkin terjadi.

Temuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Program TTD tidak hanya bergantung pada ketersediaan tablet, tetapi juga pada tingkat pemahaman, penerimaan, dan dukungan dari seluruh pihak yang terlibat. Edukasi yang berkelanjutan menjadi faktor penting agar setiap tablet yang telah didistribusikan benar-benar dikonsumsi sesuai anjuran dan mampu memberikan manfaat dalam mencegah anemia pada remaja putri.

Keberhasilan Program Tablet Tambah Darah sebaiknya tidak hanya diukur dari banyaknya tablet yang didistribusikan, tetapi juga dari sejauh mana suplemen tersebut benar-benar dikonsumsi sesuai anjuran oleh remaja putri. Cakupan distribusi merupakan fondasi yang penting, tetapi perubahan perilaku menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai. Tanpa kepatuhan konsumsi, distribusi yang tinggi belum tentu menghasilkan penurunan angka anemia yang diharapkan.

Oleh karena itu, penguatan program bisa dilakukan dengan langkah-langkah yang lebih jelas. Sekolah dapat mengatur kegiatan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara bergotong royong setiap minggu di bawah bimbingan guru atau petugas UKS agar kepatuhan konsumsi dapat terpantau secara langsung. Puskesmas memiliki peran untuk melakukan pemantauan dan penilaian secara berkala serta memberikan pendidikan interaktif mengenai kegunaan, metode konsumsi yang tepat, dan cara menangani efek samping yang ringan.

Dari samping itu, orang tua perlu mendapatkan informasi yang ringkas dan mudah dimengerti mengenai keuntungan TTD serta kemungkinan efek samping agar tidak menimbulkan rasa khawatir yang tidak perlu, sehingga mereka dapat mendukung keberlangsungan konsumsi anak di rumah. Dilakukan usaha-usaha ini diharapkan bisa melengkapi keberhasilan distribusi dengan peningkatan kepatuhan asupan, sehingga tujuan pencegahan anemia pada remaja putri bisa tercapai secara maksimal.

Pencegahan anemia bukan sekadar program kesehatan, melainkan investasi bagi kualitas generasi masa depan. Karena itu, keberhasilan Program Tablet Tambah Darah tidak diukur dari banyaknya tablet yang dibagikan, tetapi dari banyaknya remaja putri yang benar-benar mengonsumsinya dan terlindungi dari anemia.

Distribusi tablet hanyalah awal dari proses perubahan. Dampak nyata baru akan terwujud melalui kolaborasi yang erat antara Dinas Kesehatan, puskesmas, sekolah, orang tua, dan peserta didik. Ketika seluruh pihak mengambil peran, setiap tablet yang diminum menjadi langkah kecil yang membawa perubahan besar bagi kesehatan remaja putri Indonesia.

Penulis: Annisa Amir, Afiati Kania, Arsya Kaila Firly, Agam Athillah, Lutfi Isnaen, Zahwalia Putri
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta. (*)

LAINNYA