Menjaga Khittah, Menyongsong Masa Depan: Transformasi PB Mathla’ul Anwar 2026–2031

waktu baca 4 menit
Minggu, 28 Jun 2026 10:58 37 Redaksi

OPINI | TD — Muktamar XXI Mathla’ul Anwar telah menetapkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Dr. KH. Jazuli Juwaini, M.A. Kepengurusan baru ini mengusung visi transformasi “Mathla’ul Anwar Naik Level: Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh.”

Visi tersebut merepresentasikan tekad untuk menjadikan Mathla’ul Anwar semakin adaptif, progresif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial keagamaan.

Transformasi organisasi merupakan sebuah keniscayaan. Dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi digital, perkembangan teknologi informasi, perubahan sosial, dinamika ekonomi global, hingga pergeseran karakter dan pola pikir generasi muda menuntut organisasi kemasyarakatan Islam untuk terus berbenah dan beradaptasi.

Organisasi yang gagal mengikuti perubahan akan tertinggal dan perlahan kehilangan relevansinya di tengah masyarakat. Namun, transformasi tidak boleh dimaknai sebagai perubahan yang mengaburkan identitas ataupun menghilangkan ruh perjuangan organisasi.

Di sinilah pentingnya menjaga khittah Mathla’ul Anwar. Sejak berdiri di Pandeglang, Banten, pada tahun 1916, Mathla’ul Anwar hadir sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dengan orientasi utama mencerdaskan umat, memberdayakan masyarakat, serta mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara.

Khittah itulah yang harus menjadi kompas dalam setiap proses transformasi. Modernisasi kelembagaan, digitalisasi sistem organisasi, penguatan tata kelola, serta perluasan jejaring nasional maupun internasional merupakan instrumen untuk memperbesar kemaslahatan organisasi, bukan menggeser orientasi pengabdian yang menjadi jati dirinya.

Tantangan terbesar PB Mathla’ul Anwar periode 2026–2031 sesungguhnya terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara idealisme dan pragmatisme. Organisasi harus terbuka terhadap berbagai peluang, inovasi, dan kerja sama strategis, tetapi tetap menjaga independensi, marwah, serta konsistensi terhadap nilai-nilai perjuangan.

Sebagai organisasi yang kini telah memiliki jaringan kepengurusan dan lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia, Mathla’ul Anwar dituntut menjadi organisasi yang modern dalam manajemen, profesional dalam tata kelola, namun tetap kokoh memegang nilai, etika, dan tradisi pengabdiannya. Sebagaimana ditegaskan Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar periode 2026–2031 dalam pidato pelantikannya di Gedung Pakuan, Bandung, pada 20 Juni 2026, transformasi harus menjadi jalan untuk memperkuat, bukan mengubah, jati diri organisasi.

Di bidang pendidikan, transformasi menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi kurikulum, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital. Namun, seluruh ikhtiar tersebut tetap harus berpijak pada misi utama pendidikan Mathla’ul Anwar, yakni membentuk insan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, spiritualitas yang kokoh, serta kepedulian sosial yang tinggi.

Dalam bidang dakwah, perkembangan zaman mengharuskan Mathla’ul Anwar menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual, inklusif, dan adaptif. Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tetapi juga harus hadir secara efektif di ruang digital, media sosial, dan berbagai platform komunikasi modern, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip hikmah, moderasi, dan persatuan umat.

Sementara itu, dalam bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat, Mathla’ul Anwar dituntut semakin nyata menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat, mulai dari kemiskinan, ketimpangan pendidikan, hingga berbagai tantangan kebangsaan. Organisasi harus menjadi kekuatan sosial yang mampu mencerahkan, memberdayakan, sekaligus menghadirkan harapan bagi masyarakat.

Karena itu, transformasi PB Mathla’ul Anwar periode 2026–2031 bukanlah pilihan antara menjaga khittah atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya justru harus berjalan beriringan dan saling menguatkan. Khittah memberikan arah, nilai, dan identitas, sedangkan transformasi menjadi ikhtiar agar cita-cita perjuangan tetap hidup, berkembang, dan relevan di setiap zaman.

Mathla’ul Anwar tidak boleh tercerabut dari akarnya, tetapi juga tidak boleh takut menjulangkan cabangnya setinggi langit. Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang sekadar bertahan, melainkan organisasi yang mampu memelihara nilai-nilai dasarnya sambil terus berinovasi menjawab perubahan.

Dengan semangat itulah, visi “Mathla’ul Anwar Naik Level: Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh” dapat diwujudkan sebagai gerakan transformasi yang berpijak kokoh pada khittah pengabdian kepada umat, bangsa, dan agama, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk menghadirkan Mathla’ul Anwar yang semakin maju, berwibawa, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi peradaban.

Penulis: Zaenal Abidin Syuja’i
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA)
Pemerhati Pendidikan dan Keumatan. (*)

LAINNYA