Popularitas di Media Sosial: Antara Ujian & Peluang dalam Berdakwah

waktu baca 6 minutes
Sabtu, 7 Des 2024 11:27 0 Patricia Pawestri

OPINI | TD — Di era digital yang semakin berkembang, media sosial telah menjadi salah satu alat komunikasi paling dominan dalam kehidupan manusia. Dengan jutaan pengguna aktif setiap hari, platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Twitter menawarkan panggung besar bagi siapa saja untuk menjadi terkenal.

Popularitas di media sosial sering kali diukur dengan jumlah pengikut, like, dan komentar, yang menjadi simbol validasi sosial bagi banyak orang. Namun, bagi seorang Muslim yang terlibat dalam dakwah, popularitas di media sosial bukan hanya soal angka, tetapi juga ujian besar dan peluang strategis.

Dalam Islam, popularitas adalah salah satu bentuk ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Popularitas bisa menjadi sumber fitnah apabila tidak dikelola dengan bijak. Orang yang populer sering kali menghadapi godaan untuk memuaskan ego, mencari pujian manusia, dan bahkan terjebak dalam riya (pamer) dalam beramal.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ketenaran atau popularitas adalah salah satu fitnah dunia yang paling sulit dihindari. Ia memperingatkan bahwa popularitas dapat menyebabkan seseorang terjerumus dalam riya (pamer), ujub (bangga diri), dan lupa pada tujuan akhirat.

Dalam konteks dakwah di media sosial, ujian ini menjadi semakin kompleks. Seorang da’i yang memiliki banyak pengikut harus senantiasa menjaga niatnya agar tetap lurus karena Allah, bukan demi penghormatan atau pengakuan duniawi.

Selain itu, popularitas di media sosial juga dapat membuat seseorang rentan terhadap kritik, fitnah, dan tekanan dari berbagai pihak. Misalnya, seorang da’i mungkin menghadapi dilema untuk menyampaikan kebenaran Islam yang tegas, tetapi berisiko kehilangan sebagian pengikut atau mendapatkan kritik pedas.

Situasi ini menjadi ujian kesabaran dan integritas, yang menguji apakah seorang da’i tetap konsisten dengan prinsip-prinsip Islam meski popularitasnya dipertaruhkan. Sehingga kita harus selalu ingat Firman Allah dalam Surat al Baqarah ayat 216:

..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Di sisi lain, popularitas di media sosial dapat menjadi peluang emas dalam berdakwah. Rasulullah SAW sendiri adalah sosok yang memiliki pengaruh besar di masyarakatnya. Dalam konteks modern, media sosial adalah alat yang bisa digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada khalayak yang lebih luas. Popularitas memungkinkan pesan dakwah menjangkau orang-orang yang sebelumnya sulit dijangkau melalui metode tradisional.

Pertama, menjangkau generasi muda. Generasi muda adalah pengguna utama media sosial. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk scrolling, menyaksikan video, atau membaca konten. Dengan memanfaatkan platform ini, seorang da’i dapat menyampaikan pesan Islam dengan cara yang relevan dan menarik bagi generasi muda. Misalnya, membuat konten dakwah yang ringan, seperti video singkat dengan ilustrasi kreatif atau infografis yang membahas isu-isu Islam dengan bahasa anak muda.

Kedua, menyebarkan kebaikan secara masif. Media sosial memiliki kemampuan viral yang luar biasa. Sebuah video, tulisan, atau gambar bisa dengan cepat menyebar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan jam. Da’i yang populer dapat memanfaatkan ini untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, seperti mengajak orang untuk bersedekah, mengingatkan pentingnya shalat, atau mengedukasi masyarakat tentang akhlak mulia.

Ketiga, melawan narasi negatif tentang Islam. Popularitas di media sosial juga dapat digunakan untuk melawan stereotip negatif tentang Islam. Dengan membuat konten yang informatif, penuh kasih, dan menunjukkan keindahan Islam, seorang da’i dapat membantu memperbaiki citra Islam di mata dunia.

Meskipun memiliki banyak manfaat, mengelola popularitas di media sosial dalam konteks dakwah bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi dan strategi yang bisa diterapkan:

Pertama, menjaga keikhlasan. Keikhlasan adalah kunci utama dalam berdakwah. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al Bayyinah ayat 5 :” Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”.

Seorang da’i harus senantiasa mengingat bahwa tujuan utamanya adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar mencari like atau pengikut. Salah satu cara menjaga keikhlasan adalah dengan rutin melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan memperbanyak ibadah pribadi yang tidak diketahui orang lain.

Kedua, menghindari kontroversi yang tidak perlu. Media sosial sering kali dipenuhi dengan perdebatan dan kontroversi. Seorang da’i yang populer harus bijak dalam memilih topik dan cara penyampaian, agar tidak memicu perpecahan atau memancing kebencian. Fokuslah pada konten yang membangun dan menyatukan umat.

Ketiga, menerima kritik dengan lapang dada. Popularitas di media sosial sering kali diiringi dengan kritik, baik yang membangun maupun yang destruktif. Seorang da’i harus memiliki hati yang lapang untuk menerima kritik dengan bijaksana dan memperbaiki diri jika kritik tersebut benar.

Keempat, konsisten dalam kualitas konten. Dengan popularitas yang besar, ada ekspektasi tinggi dari pengikut terhadap konten yang dihasilkan. Seorang da’i harus berusaha konsisten dalam menyampaikan konten yang bermanfaat, berkualitas, dan sesuai dengan ajaran Islam.

Beberapa tokoh Islam modern telah berhasil memanfaatkan popularitas mereka di media sosial untuk berdakwah secara efektif. Di Indonesia ada Habib Husein Ja’far Al-Hadar, beliau memanfaatkan media sosial untuk berdakwah dengan pendekatan santai, humoris, tetapi tetap substansial.

Konten beliau sering menarik generasi muda yang membutuhkan format dakwah relevan. Selain itu, ada juga Gus Baha, sebagai tokoh yang dikenal dengan penyampaian ilmu yang mendalam namun sederhana, Gus Baha sering menjadi referensi banyak umat Islam di media sosial, khususnya melalui ceramah yang tersebar di YouTube dan platform lainnya.

Kita semua tahu, mereka tidak hanya populer, tetapi juga dihormati karena kemampuannya dalam menyampaikan pesan Islam dengan cara yang relevan dan penuh kasih. Kesuksesannya menunjukkan bahwa dengan niat yang lurus, strategi yang baik, dan konsistensi, popularitas di media sosial dapat menjadi alat dakwah yang sangat efektif.

Popularitas di media sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi ujian yang berat jika tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, ia juga merupakan peluang besar untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan. Seorang Muslim yang terjun dalam dunia dakwah di media sosial harus senantiasa menjaga keikhlasan, menghindari riya, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam.

Dengan pendekatan yang bijak, media sosial dapat menjadi ladang pahala yang luas. Popularitas tidak lagi menjadi tujuan, tetapi menjadi sarana untuk menyampaikan pesan Allah kepada lebih banyak orang. Karena pada akhirnya, popularitas sejati bukanlah yang diukur dengan jumlah pengikut di dunia maya, melainkan dengan seberapa banyak kita mendapatkan ridha Allah di akhirat kelak.

Penulis: Aan Mohamad Burhanudin, MA Dosen KPI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. (*)

LAINNYA