Pemkot Tangsel Buka Ruang bagi Desainer Muda Lewat Sayembara Batik 2026

waktu baca 3 menit
Senin, 31 Agu 2026 19:20 35 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali membuka ruang bagi para desainer untuk mengembangkan kreativitas melalui Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026.

Ajang tersebut tidak hanya menjadi wadah untuk mencari desain batik khas Tangsel, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan memberikan kesempatan kepada desainer muda untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, sayembara tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap para pelaku ekonomi kreatif agar memiliki ruang untuk mengembangkan dan memperkenalkan karya mereka.

“Ini merupakan bentuk support kami kepada para pelaku ekonomi kreatif supaya mereka memiliki ruang seluas-luasnya untuk merancang karyanya dan ditampilkan seperti itu,” kata Pilar dalam kegiatan Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026 di Serpong, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, pemerintah tidak hanya ingin menjadikan sayembara sebagai kegiatan perlombaan, tetapi juga sebagai sarana bagi para desainer untuk membangun portofolio dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pilar berharap semakin banyak desainer muda dan pelaku ekonomi kreatif yang tumbuh di Tangerang Selatan. Ia menilai, pengembangan kemampuan tersebut dapat menjadi modal bagi para pelaku kreatif untuk memperluas kiprah hingga ke tingkat nasional.

“Harapannya banyak para desainer-desainer muda, banyak pelaku ekonomi kreatif yang tumbuh di Tangerang Selatan dan di nasional bisa mengembangkan potensi yang kalian punya,” ujarnya.

Desain Pemenang Bisa Dimanfaatkan Masyarakat

Dalam sayembara tersebut, desain yang nantinya terpilih sebagai pemenang akan menjadi hak milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Kebijakan tersebut memungkinkan desain batik pemenang untuk diproduksi dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat. Dengan demikian, karya yang dihasilkan melalui sayembara tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari produk batik yang digunakan dan dikembangkan masyarakat.

“Desain batik Tangsel yang menjadi pemenang nantinya menjadi hak milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Sejak awal memang ketentuannya seperti itu, supaya masyarakat secara luas bisa memproduksi batik ini,” ujar Pilar.

Desain tersebut juga dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk, tidak hanya pakaian. Pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat maupun unsur pemerintahan, seperti kecamatan, kelurahan, dan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Menurut Pilar, peluang pemanfaatan yang luas tersebut diharapkan dapat memberikan nilai lebih terhadap karya para desainer sekaligus memperkuat keberadaan batik khas Tangerang Selatan.

Digelar untuk Kelima Kalinya

Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026 menjadi pelaksanaan yang kelima. Tahun ini, proses pendaftaran telah dibuka sejak 20 Juli 2026 dan ditutup pada 19 Agustus 2026.

Sebanyak 49 peserta mengikuti tahap seleksi administrasi. Setelah melalui proses tersebut, 10 peserta terpilih untuk melanjutkan ke tahap seleksi desain, sebelum mengikuti wawancara serta presentasi yang digelar secara hybrid.

Dalam proses penilaian, desain peserta tidak hanya dilihat dari aspek visual. Sejumlah unsur turut menjadi pertimbangan, mulai dari konsep, warna, filosofi, kedalaman makna hingga nilai sejarah yang dituangkan dalam motif.

Penilaian dilakukan oleh sejumlah juri yang memiliki kompetensi di bidang batik dan desain, termasuk perwakilan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Pusat serta penggiat batik.

Dari seluruh rangkaian proses tersebut, nantinya akan ditetapkan tiga pemenang yang terdiri dari juara pertama, kedua, dan ketiga.

Pilar pun mendorong para peserta agar tidak berhenti pada kompetisi tersebut. Ia berharap pengalaman dan karya yang dihasilkan dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan kemampuan hingga mampu bersaing lebih luas.

“Memang dimulai dari step yang paling kecil yaitu tingkat lokal. Act locally, think globally,” ucapnya. (*)

LAINNYA