hpn2024
BeritaEkbisPertanianUMKM

Peluang Ekspor Wijen Tak Sebanding Kemampuan Produksi Dalam Negeri

64
×

Peluang Ekspor Wijen Tak Sebanding Kemampuan Produksi Dalam Negeri

Sebarkan artikel ini
Wijen merupakan salah satu komoditas yang patut diperhitungkan dalam usaha. (Foto: Pixabay @Pezibear)
Bagikan:

PERTANIAN | TD – Wijen, atau bernama latin Sesamum indicum L.syn. Sesamum orientalis L., merupakan salah satu komoditas yang populer di kalangan penggemar makanan.

Biji wijen banyak digunakan dalam variasi makanan, seperti onde-onde wijen, roti burger, sushi, salad, nasi goreng wijen, tumis sayuran, dan masakan lainnya.

Wijen juga telah diolah menjadi minyak nabati wijen. Minyak wijen berfungsi untuk melezatkan makanan, sebagai cairan antibakteri, menurunkan tekanan darah tinggi, dan juga sebagai penyehat rambut.

Dalam dunia bisnis, wijen sangat potensial dikembangkan dan dipasarkan hingga ke mancanegara. Wijen bisa diekspor alam bentuk bahan mentah biji wijen, atau bentuk minyaknya. Berbagai produk dari wijen sangat penting bagi industri makanan, minyak goreng, obat, dan kosmetik.

Pasar potensial ekspor wijen adalah Amerika Serikat, Belanda, Singapura, Korea, dan Jepang. Tercatat dalam buku Kiat Komplet Budidaya Wijen di Lahan Kering dan Basah terbitan Lembaga Kajian Profesi, ekspor wijen sudah dilakukan Indonesia sejak 1921.

Selain Indonesia, ekspor wijen dilakukan oleh negara lain. Lima negara pengekspor wijen terbesar adalah Cina, India, Myanmar, Sudan, dan Uganda. Pada tahun 2000, India menjadi eksportir wijen terbesar yang mengirim 800.000 ton wijen, sedangkan Cina telah mampu mengirim 500.000 ton wijen sejak tahun 1970.

Kebutuhan ekspor wijen diperkirakan terus tumbuh. Pada situs repository.pertanian.go.id, pertumbuhan wijen terus bertambah hingga 0,5 ribu ton setiap tahunnya menurut data tahun 2012.

Namun, besarnya peluang ekspor dan juga kebutuhan pasar dalam negeri dari wijen tidak berbanding lurus dengan kemampuan produksi wijen Indonesia. Produksi wijen dalam negeri hanya mampu mencapai 465 kg per hektar.

Padahal Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan hingga 1600 kg per hektar. Kesenjangan tersebut terjadi karena petani wijen belum memahami atau melaksanakan teknik budidaya wijen yang tepat.

 

Bagikan: