Ketika Hati Ingin Dekat dengan Allah, Tetapi Dunia Terus Menarik

waktu baca 4 menit
Jumat, 8 Mei 2026 10:48 99 Nazwa

RELIGI | TD — Setiap manusia pada dasarnya memiliki kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Allah SWT. Ada saat-saat ketika hati ingin menjadi lebih tenang, lebih bersih, dan lebih tunduk kepada-Nya. Manusia ingin meninggalkan dosa, memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta menjalani hidup dengan penuh makna. Namun dalam kenyataannya, perjalanan itu tidak selalu mudah.

Di tengah kehidupan dunia yang semakin bising, manusia justru sering merasa semakin jauh dari ketenangan. Kesibukan, ambisi, tekanan hidup, hingga keinginan-keinginan duniawi perlahan memenuhi hati. Akibatnya, manusia hidup dalam pergulatan batin yang tidak terlihat oleh orang lain. Hati ingin dekat kepada Allah, tetapi dunia terus menariknya ke arah yang berbeda.

Banyak orang pernah merasakan keadaan seperti ini. Setelah beribadah, hati terasa lembut dan damai. Namun tidak lama kemudian, manusia kembali lalai oleh urusan dunia, terjebak dalam hawa nafsu, atau sibuk mengejar pengakuan manusia. Ada yang ingin menjaga pandangan, tetapi tergoda oleh syahwat. Ada yang ingin ikhlas, tetapi diam-diam masih haus pujian. Ada yang ingin tawadhu, tetapi egonya sulit dikalahkan.

Pergulatan semacam ini sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
(QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan nafsu yang dapat menyeretnya kepada keburukan. Karena itu, perjuangan terbesar manusia bukan hanya melawan keadaan di luar dirinya, tetapi juga melawan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan modern, godaan itu hadir dalam berbagai bentuk. Tidak selalu berupa dosa besar yang tampak jelas, tetapi juga berupa cinta dunia yang berlebihan. Manusia sering sibuk membangun citra, mengejar validasi, dan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Media sosial misalnya, membuat banyak orang terlihat bahagia di luar, tetapi lelah dan kosong di dalam dirinya sendiri.

Padahal Allah telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat tersebut bukan berarti manusia dilarang menikmati dunia. Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan kehidupan sepenuhnya. Namun dunia tidak boleh menjadi pusat dari segala tujuan hidup. Ketika hati terlalu mencintai dunia, manusia akan mudah kecewa, mudah iri, dan sulit merasakan ketenangan.

Para ulama tasawuf sejak dahulu banyak membahas tentang penyakit hati ini. Mereka mengingatkan bahwa sumber kegelisahan manusia sering kali bukan karena kurangnya harta, melainkan karena hati terlalu bergantung kepada selain Allah. Semakin hati bergantung kepada dunia, semakin mudah manusia merasa takut kehilangan, takut gagal, dan takut tidak dihargai.

Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan lebih tenang menghadapi kehidupan. Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini sering dibaca, tetapi maknanya begitu dalam. Ketenangan sejati ternyata bukan berasal dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau ramainya pujian manusia. Hati manusia hanya benar-benar tenang ketika dekat dengan Penciptanya.

Namun perjalanan menuju kedekatan dengan Allah bukanlah perjalanan yang instan. Tidak ada manusia yang langsung menjadi baik sepenuhnya. Bahkan orang-orang saleh pun memiliki perjuangan melawan hawa nafsunya masing-masing. Karena itu, Islam tidak menuntut manusia menjadi sempurna dalam sekejap, tetapi meminta manusia untuk terus kembali kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini memberi harapan bahwa jatuh dalam kesalahan bukan akhir dari segalanya. Yang berbahaya bukanlah dosa itu sendiri, melainkan ketika hati tidak lagi merasa bersalah dan tidak ingin kembali kepada Allah.

Di sinilah pentingnya menjaga hati agar tetap hidup. Hati yang hidup akan selalu merasa rindu kepada Allah meski berkali-kali terjatuh. Ia akan merasa gelisah ketika jauh dari ibadah. Ia akan merasa kosong ketika terlalu sibuk dengan dunia. Dan ia akan terus mencari jalan pulang menuju rahmat-Nya.

Dalam pandangan sufistik, perjalanan hidup manusia sejatinya adalah perjalanan mengenal Allah dan mengenal dirinya sendiri. Ketika manusia terlalu sibuk dengan ego dan keinginannya, ia justru semakin jauh dari hakikat kehidupan. Tetapi ketika manusia belajar ikhlas, sabar, dan berserah diri kepada Allah, hatinya perlahan menjadi lebih lapang.

Karena itu, di tengah kehidupan yang serba cepat ini, manusia membutuhkan waktu untuk berdiam sejenak. Bukan hanya untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa. Membiasakan dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbaiki shalat, serta memperbanyak istighfar menjadi cara agar hati tidak mati oleh kerasnya dunia.

Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini. Ada kehidupan yang lebih panjang setelah dunia berakhir. Karena itu, manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana hati ini sedang berjalan?

Pada akhirnya, manusia hanyalah hamba yang sedang belajar menuju Allah. Kadang langkahnya kuat, kadang lemah. Kadang imannya naik, kadang menurun. Namun selama hati masih ingin kembali kepada-Nya, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.

Sebab yang paling penting bukanlah menjadi manusia yang terlihat sempurna di mata dunia, melainkan menjadi hamba yang terus berusaha mendekat kepada Allah dengan segala keterbatasannya. (Red)

LAINNYA