
Daud Dzulfadhli, Mahasiswa FTIK, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (Foto: Dok. Pribadi) RELIGI | TD — Pernahkah kita berpikir bahwa dosa hanya berkaitan dengan perbuatan besar, seperti membunuh, mencuri, atau melakukan kejahatan? Padahal, dosa terkadang bermula dari sesuatu yang terlihat sederhana, bahkan dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sengaja menunda salat karena terlalu asyik bermain ponsel, menjalin hubungan tanpa menjaga batasan, mengejek teman dengan alasan bercanda, membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, atau merasa diri paling hebat dibandingkan orang lain.
Ironisnya, semua itu terkadang dilakukan sambil tertawa, tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ketika suatu perbuatan terus diulang dan dianggap lumrah, kita bisa kehilangan kepekaan untuk membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang seharusnya dihindari.
Padahal, sesuatu yang dianggap biasa oleh manusia belum tentu benar di hadapan Allah SWT.
Bagi generasi muda, persoalan ini penting untuk direnungkan. Masa muda merupakan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan. Namun, masa muda juga dapat menjadi periode ketika seseorang mudah terbawa lingkungan, mengikuti tren, serta mencari pengakuan dari orang lain.
Lantas, perilaku apa saja yang perlu kita waspadai agar tidak terjebak dalam kebiasaan yang menjauhkan diri dari Allah SWT?
Kita hidup pada zaman ketika pacaran sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan, sebagian orang merasa kurang menarik jika belum memiliki pasangan.
Di media sosial, kita kerap melihat orang mengunggah kemesraan dengan pasangannya. Tanpa disadari, hal tersebut dapat membentuk anggapan bahwa memiliki pacar merupakan suatu keharusan, seolah-olah kebahagiaan dan harga diri seseorang ditentukan oleh status hubungannya.
Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah semua yang dianggap biasa oleh manusia juga dibenarkan oleh Allah?
Islam tidak mengingkari perasaan cinta. Rasa suka kepada seseorang merupakan bagian dari fitrah manusia. Akan tetapi, Islam mengajarkan bahwa cinta perlu dijaga agar tidak membawa seseorang kepada perbuatan yang dilarang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)
Perhatikan bahwa ayat tersebut tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Karena itu, seorang muslim perlu menjaga diri dari perilaku yang dapat mengarah kepada perbuatan tersebut, termasuk situasi berduaan yang tidak dibenarkan, sentuhan yang dilarang, serta perilaku yang sengaja membangkitkan syahwat.
Bukan berarti kita harus membenci orang yang kita sukai. Bukan pula berarti kita tidak boleh mencintai seseorang. Justru, cinta yang baik semestinya mendorong kita untuk menjaga kehormatan diri dan menghormati orang lain.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga perasaan seseorang, tetapi lupa menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Jika sudah siap menikah, tempuhlah jalan yang halal. Jika belum siap, belajarlah menjaga diri, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan masa depan. Sebab, cinta bukan hanya persoalan perasaan, melainkan juga tanggung jawab dan kemampuan menjaga batasan.
Coba kita renungkan, berapa banyak di antara kita yang mampu bermain ponsel selama berjam-jam, menonton video hingga larut malam, atau bermain gim tanpa merasa lelah, tetapi ketika azan berkumandang justru berkata, “Nanti saja, masih ada waktu”?
Awalnya, kita hanya menunda salat beberapa menit. Lama-kelamaan, kita terbiasa menundanya hingga waktu hampir habis. Bahkan, ada yang akhirnya meninggalkan salat sama sekali.
Inilah yang berbahaya: ketika sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban mulai terasa tidak penting.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 103:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Artinya:
“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Salat bukan sekadar rutinitas, melainkan kewajiban dan bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Kesibukan belajar, bekerja, berorganisasi, maupun bermain tidak seharusnya menjadi alasan untuk meremehkannya.
Jangan sampai kita selalu punya waktu untuk manusia, tetapi merasa tidak punya waktu untuk menghadap Allah yang telah memberikan kehidupan.
Jika selama ini kita masih sering meninggalkan salat, jangan berputus asa. Mulailah memperbaiki diri dengan menjaga salat lima waktu. Jika ada salat yang terlewat, bertobatlah dan pelajari cara menggantinya sesuai dengan tuntunan fikih yang kita ikuti.
Jangan menunggu menjadi orang baik untuk mulai salat. Justru, mulailah salat sebagai bagian dari perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik.
Perilaku berikutnya yang perlu diwaspadai adalah menyakiti anak yatim, merendahkannya, atau mengabaikan hak-haknya.
Mengapa persoalan ini penting dibicarakan oleh generasi muda?
Sebab, terkadang kita menjumpai seseorang yang tidak memiliki orang tua lengkap, hidup dalam keterbatasan, atau berasal dari keluarga kurang mampu, lalu menjadikannya bahan ejekan.
Ada yang mengejek pakaian temannya, keadaan keluarganya, atau kondisi ekonominya. Bahkan, sebagian orang merasa lebih hebat hanya karena berasal dari keluarga yang lebih berada.
Padahal, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan keluarga atau kelengkapan fasilitas yang dimilikinya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–2:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Artinya:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Ma’un: 1–2)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap anak yatim merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim.
Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan menyantuni anak yatim:
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini.” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau.
Kita tidak harus menjadi orang kaya untuk membantu anak yatim. Kita bisa menyisihkan uang jajan, membantu mereka belajar, memberikan dukungan, atau memperlakukan mereka dengan penuh penghormatan.
Kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sikap sederhana seperti tidak merendahkan, bersedia mendengarkan, dan memperlakukan seseorang secara setara sudah menjadi bentuk kemanusiaan yang berarti.
Jangan pernah menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan. Kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang mereka hadapi.
Pernahkah kita mempunyai teman yang dipanggil dengan julukan tertentu karena bentuk tubuh, warna kulit, kebiasaan, atau kekurangannya?
Ketika orang tersebut merasa tersinggung, kita justru menjawab, “Ah, cuma bercanda. Baper banget!”
Kita merasa tidak melakukan kesalahan karena menganggap niat kita hanya bercanda. Padahal, belum tentu orang yang menjadi sasaran candaan merasakan hal yang sama.
Terkadang, satu panggilan yang menurut kita lucu dapat terus diingat oleh orang lain dan membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
Artinya:
“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat tersebut mengajarkan kita untuk menjaga ucapan dan menghormati sesama. Bukan berarti semua panggilan akrab dilarang. Panggilan yang disukai dan tidak merendahkan seseorang tentu berbeda dengan julukan yang menghina atau menyakitkan.
Di era digital, kebiasaan ini juga terjadi di grup WhatsApp, kolom komentar, dan berbagai platform media sosial. Seseorang bisa merasa bebas mengejek karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang diejeknya.
Padahal, perkataan yang ditulis di layar tetap dapat melukai hati seseorang. Bahkan, jejak digital memungkinkan penghinaan tersebar lebih luas dan bertahan lebih lama.
Karena itu, sebelum memanggil seseorang dengan julukan tertentu, pikirkan terlebih dahulu: apakah ia nyaman dengan panggilan tersebut?
Jangan mengukur candaan hanya dari seberapa keras kita tertawa, tetapi pertimbangkan juga apakah orang lain terluka karenanya.
Gibah merupakan salah satu perilaku yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan remaja, terkadang tanpa disadari.
Ketika sedang berkumpul, pembicaraan yang awalnya membahas pelajaran bisa berubah menjadi pembahasan tentang kehidupan pribadi orang lain. Kita membicarakan siapa yang sedang dekat dengan siapa, siapa yang putus cinta, siapa yang memiliki masalah keluarga, atau siapa yang melakukan kesalahan.
Lebih jauh lagi, ada yang menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi seseorang, kemudian mengajak orang lain membaca, menertawakan, dan meneruskannya.
Kita mungkin berpikir, “Saya cuma mendengarkan, bukan saya yang memulai.”
Namun, kita tetap bertanggung jawab atas sikap kita sendiri. Mendengarkan, mendukung, atau ikut menyebarkan keburukan orang lain merupakan tindakan yang perlu kita evaluasi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya:
“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Allah SWT menggunakan perumpamaan yang begitu kuat untuk mengingatkan kita tentang buruknya gibah. Kita sedang membicarakan kehormatan seseorang yang tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa gibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang tidak disukainya. Ketika ditanya bagaimana jika hal tersebut memang benar adanya, beliau menjelaskan bahwa jika benar, itulah gibah; jika tidak benar, berarti kita telah melakukan fitnah. (HR. Muslim)
Artinya, sesuatu yang benar sekalipun dapat menjadi gibah jika dibicarakan dengan cara yang tidak dibenarkan.
Lantas, bagaimana jika kita mengetahui seseorang melakukan kesalahan?
Bukan berarti kita harus diam ketika terjadi bahaya atau ketidakadilan. Kita tetap dapat menasihati, mencari bantuan, atau melaporkan perbuatan yang membahayakan orang lain melalui cara yang tepat. Namun, tujuannya harus untuk memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan seseorang atau menjadikannya bahan pembicaraan.
Jangan sampai kita sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa memperbaiki kesalahan diri sendiri.
Sombong tidak hanya berkaitan dengan orang kaya yang merendahkan orang miskin. Sifat ini juga dapat muncul pada pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Seseorang mungkin mendapatkan nilai tertinggi, lalu meremehkan temannya yang memperoleh nilai lebih rendah. Ada yang merasa paling pintar karena memiliki banyak pengetahuan agama. Ada pula yang merasa paling hebat karena memiliki banyak pengikut di media sosial.
Bahkan, seseorang dapat merasa dirinya lebih saleh daripada orang lain, lalu menganggap orang yang masih melakukan kesalahan tidak pantas dihormati.
Padahal, ilmu, harta, kecantikan, ketampanan, dan popularitas merupakan nikmat yang seharusnya membuat kita bersyukur, bukan menyombongkan diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ghafir ayat 35:
كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
Artinya:
“Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Ghafir: 35)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.” (HR. Muslim)
Ketika menjelaskan kesombongan, Rasulullah SAW menerangkan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
Dengan demikian, percaya diri tidak otomatis berarti sombong. Kita boleh bangga atas pencapaian, berusaha menjadi yang terbaik, dan mengembangkan kemampuan. Yang perlu dihindari adalah merasa lebih tinggi daripada orang lain hingga menolak kebenaran dan merendahkan sesama.
Jika kita pintar, gunakan kepintaran untuk membantu teman. Jika mempunyai rezeki lebih, gunakan untuk berbagi. Jika memiliki ilmu agama, gunakan untuk mengajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana.
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya.
Perilaku ketujuh yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan dosa itu sendiri.
Kita mungkin pernah mendengar kalimat seperti:
“Tenang saja, kita masih muda.”
“Nanti kalau sudah tua baru bertobat.”
“Sekali-kali tidak apa-apa.”
“Yang penting hati saya baik.”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat menjadi alasan untuk terus membenarkan kesalahan.
Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya akan tiba. Kita tidak dapat memastikan bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri akan selalu tersedia pada masa depan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Ayat tersebut mengingatkan kita agar bersegera mencari ampunan Allah SWT. Jika hari ini menyadari kesalahan, mulailah memperbaikinya hari ini juga.
Namun, pembahasan tentang dosa tidak seharusnya membuat kita merasa terlalu buruk untuk kembali kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
Artinya:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Inilah keseimbangan yang perlu kita miliki: jangan meremehkan dosa, tetapi jangan pula berputus asa dari ampunan Allah.
Jika pernah melakukan kesalahan, bertobatlah. Jika pernah meninggalkan salat, mulailah memperbaikinya. Jika pernah menyakiti hati seseorang, mintalah maaf dan perbaiki sikap kita.
Kita tidak harus menjadi manusia sempurna untuk mulai berubah. Kita hanya perlu berhenti membenarkan kesalahan dan mulai melangkah menuju kebaikan.
Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh, jangan menunggu kehilangan untuk menghargai, dan jangan menunggu ajal mendekat untuk mengingat Allah SWT.
Menjadi Muda Bukan Alasan untuk Meremehkan Dosa
Dari tujuh perilaku yang telah dibahas, kita belajar bahwa dosa dapat bermula dari kebiasaan yang dianggap sepele.
Kita mungkin menganggap hubungan yang melampaui batas sebagai sesuatu yang biasa. Kita merasa meninggalkan salat sesekali bukan masalah besar. Kita menganggap ejekan sebagai candaan, gibah sebagai bahan obrolan, dan kesombongan sebagai bentuk kepercayaan diri.
Padahal, semua itu perlu dievaluasi agar tidak menjadi kebiasaan yang menjauhkan kita dari Allah SWT.
Saya ingin mengajak diri sendiri dan teman-teman semua untuk merenungkan satu pertanyaan:
Jika hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki diri, apakah kita sudah siap menghadap Allah dengan keadaan kita sekarang?
Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita takut hingga kehilangan harapan. Sebaliknya, pertanyaan ini menjadi pengingat bahwa waktu yang kita miliki sangat berharga.
Selagi masih muda, gunakan masa muda untuk belajar, beribadah, membantu orang tua, menjaga pergaulan, memperbaiki akhlak, dan mengejar cita-cita yang bermanfaat.
Jangan menjadikan masa muda sebagai alasan untuk bebas melakukan apa saja. Jadikanlah masa muda sebagai kesempatan untuk menanam kebaikan sebanyak-banyaknya.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari)
Karena itu, mari memulai perubahan dari langkah-langkah sederhana: menjaga salat lima waktu, menjaga pergaulan, menghormati anak yatim dan orang yang membutuhkan, menjaga lisan, tidak menyebarkan aib orang lain, menjadi pribadi yang rendah hati, serta segera bertobat ketika melakukan kesalahan.
Kita tidak pernah tahu seberapa panjang umur yang diberikan kepada kita. Namun, selama masih diberi kesempatan hidup, kita dapat terus belajar dan memperbaiki diri.
Jangan sibuk terlihat baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki diri di hadapan Allah. Jangan hanya takut kehilangan pengikut di media sosial, tetapi tidak takut kehilangan arah dalam kehidupan. Jangan pula terlalu mengejar pengakuan manusia hingga melupakan keridaan Allah SWT.
Pada akhirnya, menjadi generasi muda yang baik bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Menjadi baik berarti mau mengakui kesalahan, berusaha meninggalkannya, dan tidak berhenti memperbaiki diri.
Semoga kita menjadi generasi muda yang bukan hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga baik dalam berakhlak, kuat dalam menjaga iman, rendah hati dalam menerima nasihat, dan bermanfaat bagi sesama.
Sebab, yang perlu kita takuti bukan hanya dosa yang terlihat besar, melainkan juga kebiasaan buruk yang terus kita pelihara hingga hati kehilangan kepekaan untuk menyadarinya.
Penulis: Daud Dzulfadhli
Mahasiswa FTIK, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)