POLTIK | TD — Nama Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dalam dua simulasi elektabilitas calon presiden berdasarkan survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 12–20 Oktober 2026. Dalam pertanyaan top of mind, Dedi Mulyadi memperoleh 33,7 persen, sedangkan Presiden Prabowo Subianto meraih 14,5 persen.
Keunggulan Dedi Mulyadi juga terlihat dalam pertanyaan tertutup. Ketika responden diberikan daftar nama tokoh, Dedi memperoleh 32 persen, sementara Prabowo berada di angka 18,4 persen. Hasil ini menempatkan keduanya sebagai dua nama teratas dalam simulasi pilihan presiden yang disajikan IPO.
Survei bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih tersebut melibatkan 1.200 responden dengan metode multistage random sampling, margin of error ±2,9 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Dedi Mulyadi 33,7 Persen dalam Top of Mind
Dalam pertanyaan top of mind yang meminta responden menyebutkan tokoh pilihannya apabila pemilihan presiden dilaksanakan saat survei berlangsung, Dedi Mulyadi memperoleh 33,7 persen.
Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen, disusul Anies Baswedan sebesar 11,3 persen. Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 4,3 persen, Ganjar Pranowo 4,1 persen, Gibran Rakabuming Raka 3,7 persen, Mahfud MD 2,9 persen, dan Pramono Anung 2,5 persen.
Nama lain yang disebut responden meliputi Serly Tjoanda sebesar 2 persen, Erick Thohir 1,9 persen, Andi Amran Sulaiman 1 persen, Zulkifli Hasan 0,9 persen, Susi Pudjiastuti dan Khofifah Indar Parawansa masing-masing 0,5 persen, serta Bahlil Lahadalia dan Anwar Hafid masing-masing 0,2 persen. Angka tidak tahu, tidak menjawab, atau merahasiakan pilihan tercatat 15,8 persen.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa dalam pengukuran spontan, nama Dedi Mulyadi lebih banyak disebut responden dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, termasuk Prabowo yang saat ini menjabat sebagai presiden.
Pertanyaan Tertutup: Dedi 32 Persen, Prabowo 18,4 Persen
Pola serupa terlihat ketika IPO memberikan daftar nama kepada responden. Dalam pertanyaan tertutup, Dedi Mulyadi memperoleh 32 persen, disusul Prabowo Subianto 18,4 persen dan Anies Baswedan 12,6 persen.
Ganjar Pranowo berada di angka 4,5 persen, Gibran Rakabuming Raka 3,1 persen, serta Agus Harimurti Yudhoyono 1,9 persen. Pramono Anung, Mahfud MD, dan Serly Tjoanda masing-masing memperoleh 1 persen.
Sementara itu, Erick Thohir dan Andi Amran Sulaiman masing-masing tercatat 0,9 persen, Zulkifli Hasan 0,8 persen, Susi Pudjiastuti dan Khofifah Indar Parawansa masing-masing 0,5 persen. Bahlil Lahadalia, Anwar Hafid, M. Tito Karnavian, serta Basuki Tjahaja Purnama masing-masing memperoleh 0,2 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 20,1 persen.
Perbedaan angka antara pertanyaan top of mind dan pertanyaan tertutup perlu dibaca sesuai format pengukurannya. Pertanyaan pertama mengandalkan penyebutan spontan responden, sedangkan pertanyaan kedua menyajikan daftar nama yang dapat dipilih.
Meski demikian, kedua simulasi sama-sama menempatkan Dedi Mulyadi di atas Prabowo dalam survei IPO tersebut.
Popularitas Belum Memastikan Hasil Pilpres 2029
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengingatkan bahwa hasil survei tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai arah pilihan politik masyarakat pada masa mendatang.
“Secara umum saya kira bahwa survei semacam ini, sekali lagi saya ingatkan, tidak menggambarkan sesuatu yang pasti. Kenapa? Karena opini publik tentu mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat,” kata Dedi Kurnia Syah saat memaparkan hasil survei, Sabtu (24/10).
Pernyataan tersebut menjadi catatan penting dalam membaca hasil simulasi elektabilitas. Posisi Dedi Mulyadi yang lebih tinggi dalam dua pertanyaan survei menunjukkan kecenderungan pilihan responden pada periode pengukuran, tetapi tidak otomatis memastikan hasil pemilihan presiden pada 2029.
Dalam pemaparannya, Dedi Kurnia Syah juga menyinggung bahwa popularitas tokoh politik dapat dipengaruhi publikasi, pembentukan citra, dan intensitas komunikasi dengan masyarakat. Menurut dia, opini publik yang terekam melalui survei tidak dengan sendirinya membuktikan kualitas atau kinerja seorang tokoh.
Karena itu, angka elektabilitas perlu dibaca bersama konteks politik dan posisi masing-masing figur. Prabowo dinilai dalam kapasitasnya sebagai presiden yang bertanggung jawab atas pemerintahan nasional, sedangkan Dedi Mulyadi merupakan kepala daerah sekaligus kader Gerindra yang namanya muncul dalam simulasi pilihan presiden.
Tantangan Prabowo: Kepercayaan Publik dan Persoalan Ekonomi
Selain simulasi elektabilitas, survei IPO juga mengevaluasi persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kinerja pemerintahan setelah dua tahun Kabinet Merah Putih.
Sebanyak 67 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional baik atau sangat baik. Namun, 58 persen menyatakan uang yang dimiliki belum cukup atau masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Sebanyak 44 persen responden menilai kondisi ekonomi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan 32 persen menilai kondisinya lebih buruk. Di sisi lain, 41 persen menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kondisi ekonomi.
Pengendalian harga bahan pokok menjadi persoalan paling mendesak menurut responden, dengan angka 28 persen. Berikutnya, pemberantasan korupsi mencapai 19,5 persen, penciptaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran 14,7 persen, serta pengurangan kemiskinan 10 persen.
Meski menghadapi sejumlah persoalan, 67 persen responden menyatakan percaya atau sangat percaya bahwa Prabowo mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak. Sementara itu, 30 persen menyatakan tidak percaya atau sangat tidak percaya.
Data tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan presiden masih menjadi modal politik, tetapi pemerintah juga menghadapi tuntutan untuk menjawab persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Gerindra di antara Popularitas Figur dan Kalkulasi Politik
Hasil simulasi elektabilitas IPO membuka ruang pembahasan mengenai dinamika politik Gerindra menjelang 2029. Dedi Mulyadi merupakan kader partai tersebut, sementara Prabowo adalah presiden sekaligus figur utama Gerindra.
Dedi Kurnia Syah menilai dinamika pencalonan nantinya akan bergantung pada kalkulasi politik internal partai dan perkembangan dukungan publik. Ia membahas kemungkinan berbagai skenario politik, termasuk apakah Gerindra akan kembali mengusung Prabowo atau mempertimbangkan figur lain.
Namun, pembahasan itu merupakan analisis terhadap kemungkinan politik, bukan keputusan resmi Gerindra. Hasil survei IPO juga tidak membuktikan bahwa partai telah menentukan calon presiden untuk 2029.
Pada akhirnya, survei IPO periode Oktober 2026 memperlihatkan dua hal sekaligus: Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo dalam dua simulasi pilihan presiden, sementara evaluasi terhadap pemerintahan menunjukkan Prabowo masih memiliki modal kepercayaan publik di tengah persoalan ekonomi yang harus ditangani.
Angka tersebut merupakan potret opini responden pada saat survei dilaksanakan. Perubahan kinerja pemerintahan, komunikasi politik, dukungan partai, dan dinamika menjelang pemilu masih dapat memengaruhi peta persaingan menuju 2029. (*)