Bukan Tidak Mampu, Tapi Terlalu Ragu untuk Memulai

waktu baca 4 menit
Rabu, 6 Mei 2026 13:48 31 Nazwa

KOLOM | TD — “Kita tidak tertinggal. Kita hanya terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain, sampai lupa menghargai perjalanan diri sendiri.”

Di era digital seperti sekarang, rasanya hampir mustahil untuk tidak melihat pencapaian orang lain. Cukup dengan menggulir media sosial beberapa detik, kita sudah disuguhkan berbagai cerita tentang orang-orang yang tampaknya telah lebih dulu “sampai”. Ada yang kariernya terlihat mapan, ada yang prestasinya terus bertambah, ada pula yang hidupnya tampak begitu teratur dan penuh arah.

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan.

Awalnya mungkin terasa biasa saja. Namun perlahan, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang mengusik pikiran: “Aku selama ini ngapain saja?” atau “Kenapa orang lain bisa sejauh itu, sementara aku masih di sini?”

Dari sanalah rasa tertinggal mulai tumbuh. Padahal, bisa jadi kita sebenarnya baru memulai, masih berproses, atau bahkan sedang berusaha menemukan arah hidup kita sendiri.

Perasaan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Dalam ilmu psikologi sosial, Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, kita sering kali hanya melihat hasil akhir seseorang tanpa benar-benar mengetahui proses panjang, perjuangan, kegagalan, dan luka yang mereka lewati.

Pada akhirnya, kita bukan kalah dari orang lain. Kita sering kali kalah dari rasa ragu yang diam-diam kita pelihara sendiri.

Rasa perbandingan itu perlahan berubah menjadi suara di dalam kepala. Kita mulai meragukan kemampuan diri, merasa belum cukup baik, belum cukup siap, bahkan takut untuk mencoba. Padahal, belum tentu kita tidak mampu—bisa jadi kita hanya belum memberi diri sendiri kesempatan.

Yang sering terjadi, kita sudah lebih dulu menilai diri sebelum benar-benar melangkah.

Keraguan ini juga kerap diperkuat oleh ketakutan akan penilaian orang lain. Kita takut gagal, tetapi sering kali lebih takut terlihat gagal. Tanpa sadar, kita mulai memandang diri dari bayangan tentang bagaimana orang lain menilai kita.

Konsep ini dijelaskan oleh Charles Horton Cooley melalui teori Looking Glass Self, yang menjelaskan bahwa gambaran diri seseorang sering terbentuk dari bagaimana ia membayangkan dirinya dipersepsikan oleh orang lain.

Akibatnya, kita menahan diri. Tidak memulai. Tidak mencoba.

Dan di situlah lingkaran itu terbentuk.

Semakin kita merasa tidak mampu, semakin kita tidak bergerak. Semakin kita tidak bergerak, semakin besar perasaan tertinggal. Lama-kelamaan, keyakinan negatif yang kita bangun tentang diri sendiri justru menjadi kenyataan. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy—ketika apa yang kita yakini tentang diri sendiri akhirnya terjadi karena tindakan kita mengikuti keyakinan tersebut.

Tidak heran jika pada akhirnya kita merasa lelah.

Overthinking, merasa tidak cukup, bingung menentukan arah hidup, bahkan sampai mempertanyakan tujuan hidup sendiri. Bukan karena kita tidak memiliki potensi, tetapi karena kita terlalu sering menjadikan hidup orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri.

Jika ditarik lebih jauh, cara kita memandang diri hari ini bisa jadi juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Ada yang tumbuh dengan tuntutan tinggi, ada yang terbiasa dibandingkan, dan ada pula yang jarang mendapatkan apresiasi. Akibatnya, kita terbiasa menilai diri berdasarkan standar dari luar, bukan dari pertumbuhan diri sendiri.

Kita terus mengejar, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Lalu, harus mulai dari mana?

Mungkin jawabannya bukan dari perubahan besar. Bukan pula dari tiba-tiba menjadi percaya diri sepenuhnya. Tetapi dari langkah kecil: berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai patokan utama, dan mulai memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh.

Kita boleh merasa ragu. Itu manusiawi. Tetapi jangan sampai rasa ragu membuat kita berhenti melangkah.

Karena keberanian bukan tentang tidak merasa takut. Keberanian adalah tetap mencoba, meski rasa takut masih ada.

Kita tidak perlu menunggu menjadi “cukup” untuk memulai. Justru dengan berani memulai, kita perlahan akan menemukan rasa cukup itu.

Dan mungkin, kita tidak benar-benar tertinggal.

Kita hanya sedang berjalan di waktu yang berbeda.

Penulis: Sindi Anggia Risti
Mahasiswa Semester 2, Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA