Berkurban: Pulang dengan Yakin dan Ikhlas seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

waktu baca 3 menit
Selasa, 26 Mei 2026 12:46 57 Redaksi

RELIGI | TD — Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan pelajaran yang melampaui sekadar ritual penyembelihan hewan kurban. Di balik gema takbir dan darah kurban yang mengalir, tersimpan perjalanan ruhani tentang keyakinan, keikhlasan, dan kepulangan seorang hamba kepada Tuhannya.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya cerita tentang pengorbanan seorang ayah kepada anaknya. Lebih dalam dari itu, ia adalah kisah tentang manusia yang rela melepaskan rasa memiliki demi tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Nabi Ibrahim hadir sebagai simbol keyakinan yang sempurna. Ketika perintah Allah datang melalui mimpi, ia tidak membantah, tidak menawar, dan tidak pula menunda. Keyakinannya begitu utuh hingga ia sanggup menyerahkan sesuatu yang paling dicintainya.

Sementara Nabi Ismail menjadi lambang keikhlasan yang menenangkan. Ia tidak memberontak ketika mengetahui dirinya akan dikorbankan. Dengan jiwa yang lapang, ia menerima kehendak Allah sebagai bentuk cinta tertinggi seorang hamba kepada Tuhannya.

Di situlah hakikat kurban menemukan makna terdalamnya: pulang kepada Allah dengan yakin dan ikhlas.

Kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kurban adalah proses menyembelih ego, keakuan, kesombongan, dan segala pengakuan diri yang membuat manusia merasa berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Sebab pada hakikatnya, manusia tidak benar-benar memiliki apa pun. Bahkan ruh yang bersemayam di dalam diri hanyalah titipan yang suatu hari akan kembali kepada Pemilik-Nya.

Dalam pandangan tauhid dan tasawuf, para ulama mengingatkan bahwa manusia tidak layak mengklaim secara mutlak berbagai sifat yang sejatinya hanyalah pancaran kuasa Allah pada diri makhluk. Sifat-sifat itu dikenal sebagai tujuh sifat ma’ani:

  • Qudrah, manusia merasa memiliki kuasa.
  • Iradah, manusia merasa kehendaknya paling menentukan.
  • Ilmu, manusia merasa paling mengetahui.
  • Hayat, manusia merasa hidup dengan dirinya sendiri.
  • Sama’, manusia merasa mendengar karena kekuatannya sendiri.
  • Bashar, manusia merasa melihat karena kemampuannya sendiri.
  • Kalam, manusia merasa berbicara atas dirinya sendiri.

Ketika semua itu diakui oleh ego, lahirlah kesombongan eksistensial. Manusia mulai merasa menjadi pusat segalanya. Ia lupa bahwa dirinya hanya makhluk yang diadakan.

Namun ketika semua itu dikembalikan kepada Allah, lahirlah kehambaan yang sejati. Seorang hamba sadar bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa selain ketergantungan total kepada Tuhan.

Di titik itulah makna kurban menjadi begitu dalam. Yang runtuh bukan sekadar tubuh hewan kurban, tetapi juga tembok keakuan dalam diri manusia.

Kurban mengajarkan bahwa hidup bukan tentang mempertahankan “aku”, melainkan tentang belajar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Sebagaimana Nabi Ibrahim yang sangat yakin, dan Nabi Ismail yang begitu ikhlas, manusia pun sedang diajak pulang menuju fitrah penghambaan: menjadi hamba yang rela melepaskan segala pengakuan diri di hadapan Yang Maha Ada.

Sebab pada akhirnya, semua akan kembali kepada-Nya.

“Aku bukan pemilik apa-apa.
Aku hanya diadakan, lalu dikembalikan.”

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

LAINNYA