Ameliorasi Makna Pesugihan: dari Ritual Gaib ke Strategi FYP

waktu baca 4 menit
Jumat, 30 Okt 2026 16:50 44 Redaksi

OPINI | TD — Kegiatan pesugihan selama ini dikenal sebagai praktik yang kerap digunakan untuk memperoleh kekayaan secara instan. Banyak orang beranggapan bahwa melalui pesugihan, seseorang dapat meraih kekayaan yang melimpah. Namun, anggapan tersebut perlu dipertanyakan karena tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bersifat abadi.

Secara umum, pesugihan dimaknai sebagai perjanjian dengan makhluk gaib yang melibatkan tumbal demi memperoleh kekayaan. Tumbal yang digunakan biasanya bervariasi, mulai dari hewan hingga manusia. Praktik ini kemudian identik dengan dunia mistis dan dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Dalam kepercayaan tersebut, jenis tumbal bahkan dikaitkan dengan besarnya kekayaan yang ingin diperoleh.

Selain bertujuan memperoleh kekayaan, pesugihan juga kerap dikaitkan dengan upaya melariskan perniagaan, baik barang, makanan, maupun jasa. Praktik ini terutama sering dilekatkan pada usaha kuliner. Tidak jarang dijumpai sebuah usaha makanan yang awalnya sepi pembeli, kemudian mendadak ramai setelah dikaitkan dengan praktik pesugihan. Banyak orang berdatangan untuk membeli dan mencicipi makanan tersebut. Dalam perspektif kepercayaan masyarakat, kondisi itu dianggap sebagai tanda bahwa pesugihan mulai bekerja. Jumlah pembeli yang meningkat kemudian berbanding lurus dengan pendapatan usaha. Fenomena tersebut sering dianggap sebagai gambaran keberhasilan praktik pesugihan.

Kata pesugihan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu sugih, yang berarti kaya. Namun, dalam pemahaman masyarakat, pesugihan identik dengan perjanjian bersama makhluk halus atau jin yang biasanya melibatkan perantara seorang dukun. Praktik tersebut dipercaya bertujuan melancarkan usaha dan mendatangkan kekayaan. Konotasi inilah yang membuat kata pesugihan memiliki citra negatif dan jarang digunakan dalam konteks positif. Ketika seseorang mendengar kata tersebut, yang terbayang biasanya adalah perjanjian dengan makhluk halus demi memperoleh kekayaan secara instan. Oleh karena itu, makna pesugihan menarik untuk ditafsirkan kembali dan dinaikkan derajatnya dalam konteks perkembangan AI, TikTok, dan Instagram.

Di era AI, TikTok, dan Instagram, sebenarnya terdapat praktik yang secara metaforis dapat disebut sebagai bentuk pesugihan modern dalam dunia perniagaan. Namun, maknanya telah mengalami pergeseran. Jika dahulu pesugihan dimaknai sebagai perjanjian dengan makhluk halus, kini dalam konteks bisnis digital, perjanjian tersebut dilakukan dengan manusia yang berperan sebagai food vlogger atau influencer.

Istilah perjanjian dalam konteks ini mengalami perubahan bentuk menjadi endorsement, yang diharapkan bermuara pada viralitas atau masuk ke halaman For You Page (FYP). Melalui kerja sama endorsement, sebuah produk atau makanan dipromosikan kepada khalayak yang lebih luas. Harapannya, produk tersebut memperoleh perhatian dan respons pasar dalam waktu relatif singkat.

Dari perjanjian tersebut, terdapat pula sesuatu yang secara metaforis dapat disebut sebagai tumbal. Jika pada masa lalu tumbal dipercaya berbentuk manusia atau hewan, dalam konteks bisnis digital, food vlogger atau influencer biasanya memperoleh makanan atau produk secara gratis. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan fee atau bayaran endorsement yang disesuaikan dengan kemampuan dan kesepakatan masing-masing pelaku usaha. Selain itu, para food vlogger atau influencer dapat memperoleh pendapatan dari platform digital, seperti YouTube AdSense maupun TikTok Affiliate.

Dengan demikian, kata pesugihan dapat diberi ruang untuk digunakan dalam konteks kekinian sebagai metafora praktik pemasaran digital. Meskipun pada awalnya penggunaan istilah tersebut mungkin terasa ambigu, perubahan konteks sosial dan perkembangan teknologi dapat memunculkan pemaknaan baru yang lebih positif.

Pesugihan dalam konteks AI, TikTok, dan Instagram seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pemasaran modern. Ketika pelaku usaha ingin produknya lebih cepat dikenal dan diminati, mereka dapat bekerja sama dengan food vlogger atau influencer yang memiliki jumlah pengikut mulai dari ratusan ribu hingga jutaan orang. Satu kali tayang dapat menghasilkan ribuan bahkan jutaan penayangan di Instagram maupun FYP di TikTok. Namun, tingginya jumlah penayangan tidak serta-merta menjamin peningkatan penjualan karena keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas produk, daya beli masyarakat, dan strategi pemasaran yang diterapkan.

Oleh karena itu, pesugihan dalam pengertian metaforis sebagai endorsement diperkirakan akan terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi digital. Ritual antara pemilik usaha (owner) dan food vlogger atau influencer bukan lagi berupa perjanjian gaib dengan jin atau makhluk halus lainnya, melainkan perjanjian kerja sama yang dibangun atas dasar kepentingan dan keuntungan bersama.

Penulis: Ibrahim Guntur Nuary. (*)

LAINNYA