Sejarah Perlawanan Rakyat: Dari Tangan Terkepal ke Salam Tiga Jari

waktu baca 8 menit
Jumat, 30 Okt 2026 07:51 35 Redaksi

OPINI | TD — Ada kalanya manusia tidak lagi membutuhkan banyak kata untuk menyampaikan sikapnya. Cukup dengan mengepalkan tangan, mengangkat tiga jari, atau berdiri diam di tengah kerumunan. Sebuah gerakan sederhana dapat menyimpan pesan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Dalam sejarah politik dunia, tubuh manusia bukan hanya alat untuk bergerak dan bekerja. Ia juga menjadi medium untuk menyatakan keberanian, membangun solidaritas, bahkan menentang kekuasaan.

Kita mengenal tangan terkepal sebagai simbol perlawanan. Kita juga mengenal salam tiga jari yang dalam beberapa tahun terakhir muncul di jalan-jalan demonstrasi, terutama di Asia Tenggara. Keduanya memiliki sejarah dan konteks yang berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan satu hal: manusia selalu menemukan cara untuk menyuarakan sesuatu, bahkan ketika ruang untuk berbicara dibatasi.

Ketika Revolusi Menemukan Bahasanya

Revolusi Prancis pada 1789 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah lahirnya simbol-simbol politik modern. Ketika rakyat dan kelompok-kelompok politik menantang tatanan monarki, simbol menjadi bagian penting dari perjuangan membangun identitas baru.

Dalam peristiwa Sumpah Lapangan Tenis pada 20 Juni 1789, para wakil rakyat mengangkat sumpah untuk tidak membubarkan diri sebelum Prancis memiliki konstitusi. Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu momen penting dalam pembentukan demokrasi Prancis (Château de Versailles, n.d.). Namun, gerakan tangan yang terangkat dalam peristiwa tersebut bukanlah salam tiga jari ataupun salam kepalan tangan seperti yang dikenal dalam gerakan politik modern.

Pada masa revolusi itu pula, kokarde tiga warna—biru, putih, dan merah—menjadi lambang identitas revolusioner. Topi Phrygian kemudian dikenal sebagai simbol kebebasan. Sementara Marianne, sosok perempuan yang menjadi personifikasi Republik Prancis, berkembang menjadi representasi nilai-nilai republik.

Simbol-simbol itu menunjukkan bahwa revolusi bukan hanya pertarungan merebut kekuasaan. Ia juga merupakan perjuangan untuk menentukan identitas, nilai, dan makna tentang kehidupan bersama.

Tangan Terkepal: Bahasa Solidaritas Kaum Tertindas

Beberapa dekade kemudian, tangan terkepal semakin dikenal sebagai simbol perlawanan kaum pekerja dan gerakan kiri di Eropa.

Pada masa Republik Weimar di Jerman, sekitar dekade 1920-an, kepalan tangan menjadi salah satu simbol yang digunakan dalam pertarungan politik. Simbol tersebut hadir dalam poster, propaganda, dan berbagai ekspresi gerakan buruh. Ia menggambarkan persatuan, kekuatan kolektif, dan kesiapan menghadapi ketidakadilan.

Dalam kajiannya tentang pertarungan simbol politik di Republik Weimar, Simmons (2000) menjelaskan bagaimana citra tangan terkepal digunakan dalam desain grafis politik dan menjadi bagian dari perebutan makna antarkelompok ideologis. Karya-karya seniman seperti John Heartfield turut memperlihatkan bagaimana seni visual menjadi medium perjuangan politik.

Dalam Perang Saudara Spanyol pada 1936–1939, salam tangan terkepal juga digunakan oleh kelompok-kelompok antifasis dan gerakan kiri. Kepalan tangan menjadi tanda solidaritas di tengah konflik yang mempertemukan kekuatan politik dengan ideologi yang saling bertentangan.

Di sini, makna tangan terkepal melampaui gerakan fisik. Ia menjadi pernyataan bahwa seseorang tidak berdiri sendirian. Ada orang lain yang mengalami ketidakadilan serupa, ada solidaritas yang dibangun, dan ada harapan bahwa perubahan dapat diperjuangkan bersama.

Tangan terkepal seolah mengatakan: kami ada, kami bersama, dan kami tidak menyerah.

Dari Lapangan Olahraga ke Panggung Sejarah

Pada 1968, dunia menyaksikan salah satu gestur politik paling ikonik dalam sejarah olahraga.

Dalam Olimpiade Meksiko, dua atlet Amerika Serikat, Tommie Smith dan John Carlos, mengangkat tangan dengan sarung tangan hitam saat upacara penyerahan medali. Keduanya merupakan bagian dari perjuangan melawan diskriminasi rasial dan ketidakadilan yang dialami warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Gestur itu kemudian dikenal luas sebagai salah satu simbol gerakan Black Power. Aksi tersebut berkaitan dengan Olympic Project for Human Rights, sebuah gerakan yang menyoroti diskriminasi rasial dan ketidakadilan dalam dunia olahraga maupun masyarakat (World Athletics, 2020).

Momen tersebut memperlihatkan bahwa ruang olahraga tidak selalu steril dari persoalan sosial dan politik. Podium yang semestinya menjadi tempat perayaan prestasi berubah menjadi panggung untuk menyampaikan pesan tentang kesetaraan dan martabat manusia.

Smith dan Carlos harus menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka. Namun, foto ketika keduanya mengangkat kepalan tangan tetap hidup dalam ingatan sejarah.

Dari peristiwa itu kita belajar bahwa simbol tidak selalu lahir dari pidato panjang atau pernyataan resmi. Terkadang, satu gestur yang dilakukan pada saat yang tepat mampu menyampaikan pesan yang melampaui batas negara dan generasi.

Salam Tiga Jari dan Perjalanan dari Fiksi Menuju Kenyataan

Jika tangan terkepal memiliki sejarah panjang dalam gerakan buruh, antifasis, dan perjuangan hak-hak sipil, salam tiga jari yang populer dalam sejumlah gerakan demokrasi kontemporer memiliki perjalanan yang berbeda.

Simbol ini dikenal luas melalui novel The Hunger Games karya Suzanne Collins yang terbit pada 2008, kemudian diadaptasi menjadi film pada 2012.

Dalam cerita tersebut, salam tiga jari merupakan gestur penghormatan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Ia muncul sebagai tanda bahwa masyarakat masih memiliki ingatan, keberanian, dan ikatan kemanusiaan di tengah sistem yang berusaha mengendalikan mereka.

Menariknya, simbol yang awalnya hidup dalam dunia fiksi itu kemudian digunakan dalam kehidupan nyata.

Pada 2014, setelah kudeta militer di Thailand, sejumlah warga menggunakan salam tiga jari sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan militer. Gestur tersebut menjadi cara untuk menyampaikan penolakan dan tuntutan demokrasi, terutama ketika ruang ekspresi politik berada dalam tekanan.

Dalam penelitiannya, Hui (2020) menjelaskan bagaimana salam tiga jari dari The Hunger Games diadopsi oleh gerakan pro-demokrasi Thailand. Penggunaan simbol budaya populer itu memperlihatkan bahwa masyarakat dapat mengambil sebuah tanda dari dunia fiksi, kemudian memberinya makna politik sesuai dengan pengalaman dan situasi mereka sendiri.

Simbol yang sama kembali terlihat dalam gerakan pro-demokrasi Myanmar setelah kudeta militer pada 1 Februari 2021. Para tenaga medis, mahasiswa, dosen, dan masyarakat sipil menggunakan salam tiga jari sebagai salah satu tanda penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer. Perkembangan gestur ini dalam budaya populer dan gerakan sosial juga dibahas oleh Freestone, Kruk, dan Gawne (2023).

Sebuah gestur dari karya fiksi ternyata dapat menemukan kehidupan baru di tengah kenyataan politik.

Tentu, salam tiga jari bukanlah simbol yang memiliki satu akar sejarah universal. Ada pula tradisi salam tiga jari dalam konteks keagamaan dan identitas nasional Serbia yang memiliki latar berbeda. Karena itu, makna sebuah gestur perlu dibaca berdasarkan tempat, waktu, dan masyarakat yang menggunakannya.

Simbol Tidak Pernah Benar-benar Diam

Mengapa sebuah gerakan tangan dapat memiliki kekuatan politik?

Jawabannya bukan semata-mata terletak pada bentuk gerakannya, melainkan pada makna yang diberikan oleh masyarakat.

Dalam kajian semiotika, Barthes (1972) menjelaskan bahwa tanda tidak berhenti pada makna yang terlihat. Sebuah simbol dapat memperoleh lapisan makna baru melalui kebudayaan, pengalaman, dan ideologi yang hidup di masyarakat.

Tangan terkepal, misalnya, secara sederhana merupakan bentuk gerakan tubuh. Namun, dalam konteks gerakan sosial, ia dapat dimaknai sebagai solidaritas, keberanian, atau penolakan terhadap penindasan.

Hal serupa berlaku pada salam tiga jari. Maknanya tidak melekat secara alamiah pada tiga jari yang diangkat. Makna itu tumbuh melalui cerita, pengalaman politik, dan tindakan kolektif orang-orang yang menggunakannya.

Pemikiran Stuart Hall (1997) tentang representasi juga membantu kita memahami bahwa pesan tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh setiap orang. Simbol yang sama dapat dibaca secara berbeda, bergantung pada pengalaman dan posisi sosial mereka.

Di sinilah politik simbol menjadi menarik. Kekuasaan dapat berusaha mengendalikan ruang publik, tetapi masyarakat juga memiliki kemampuan untuk menciptakan makna tandingan. Sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi medium untuk menyampaikan kritik.

Simbol bukan benda mati. Ia bergerak bersama manusia yang menggunakannya.

Ketika Rakyat Memilih untuk Tidak Diam

Dalam berbagai periode sejarah, perlawanan rakyat selalu memiliki bahasa dan bentuknya sendiri. Ada yang menggunakan pidato, tulisan, lagu, poster, warna, pakaian, hingga gerakan tubuh.

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara di ruang kekuasaan. Tidak semua suara memperoleh tempat dalam media. Tidak semua kritik dapat disampaikan tanpa risiko.

Karena itu, simbol sering kali menjadi jalan lain untuk menyatakan keberadaan.

Kepalan tangan dalam gerakan buruh, tangan hitam yang terangkat di podium Olimpiade 1968, hingga salam tiga jari dalam gerakan pro-demokrasi Asia Tenggara memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang-kadang, ia dimulai dari keberanian seseorang untuk menunjukkan sikap. Kemudian orang lain mengikuti. Sebuah gestur berubah menjadi tanda pengenal, tanda pengenal menjadi solidaritas, dan solidaritas dapat berkembang menjadi gerakan sosial.

Namun, simbol juga tidak boleh dipahami secara romantis. Sebuah gestur tidak otomatis menghasilkan perubahan. Ia dapat menjadi awal percakapan, pemersatu, atau pengingat, tetapi perubahan sosial tetap membutuhkan kesadaran, organisasi, kerja bersama, dan keberanian menghadapi persoalan nyata.

Pada akhirnya, sejarah perlawanan rakyat bukan hanya sejarah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia juga merupakan sejarah tentang manusia yang berusaha mempertahankan martabat, kebebasan, dan hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Dari Revolusi Prancis, tangan terkepal kaum pekerja, kepalan tangan Black Power, hingga salam tiga jari yang bergerak dari dunia fiksi menuju jalanan politik, kita melihat satu benang merah: manusia selalu berusaha menemukan bahasa ketika kata-kata tidak lagi cukup.

Sebab, sebuah tangan dapat menjadi bahasa. Sebuah warna dapat menjadi identitas. Dan sebuah gestur sederhana dapat menjadi pernyataan bahwa di tengah segala tekanan, manusia masih memiliki keberanian untuk bersuara.

Barangkali, sejarah perlawanan memang selalu dimulai ketika seseorang memutuskan untuk tidak lagi diam.

Penulis: Mohamad Romli, Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi, Budi Luhur University.

Referensi:

Barthes, R. (1972). Mythologies. New York: Hill and Wang.

Château de Versailles. (n.d.). “Jeu de Paume Oath, 1789.” https://en.chateauversailles.fr/discover/history/key-dates/jeu-paume-oath-1789

Freestone, P., Kruk, J., & Gawne, L. (2023). “From Star Trek to The Hunger Games: Emblem Gestures in Science Fiction and Their Uptake in Popular Culture.” Linguistics Vanguard, 9(s3), 257–266. https://doi.org/10.1515/lingvan-2023-0006

Hall, S. (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SAGE Publications.

Hui, A. (2020). “Appropriating Dissent: The Three-Finger Salute and Thailand’s Pro-Democracy Movement.” Anthropological Notebooks, 26(1).

Simmons, S. (2000). “‘Hand to the Friend, Fist to the Foe’: The Struggle of Signs in the Weimar Republic.” Journal of Design History, 13(4), 319–339. https://doi.org/10.1093/jdh/13.4.319

World Athletics. (2020). “Five Decades on from Podium Salute, 1968 Olympic 200m Medallists Smith, Norman and Carlos Continue to Inspire.” (*)

LAINNYA