Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mencapai Jakarta, BMKG Temukan Dua Klaster Sebaran

waktu baca 3 menit
Minggu, 6 Sep 2026 10:48 60 Nazwa

TANGERANG | TD – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian pada Minggu (6/9/2026). Selain kembali mengalami erupsi, sebaran abu vulkanik kini terdeteksi mencapai sejumlah wilayah, termasuk sebagian Jakarta.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan sebaran abu vulkanik menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebaran abu tidak hanya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, tetapi telah bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

Dua Klaster Abu Vulkanik Anak Krakatau

BMKG menjelaskan, klaster pertama terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran abu pada klaster ini berada dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Sementara itu, klaster kedua terpantau pada ketinggian yang lebih tinggi, yakni hingga sekitar 50.000 kaki. Sebarannya bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, wilayah selatan Selat Sunda serta perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.

BMKG menyatakan pemantauan dilakukan secara intensif selama 24 jam untuk mengantisipasi perkembangan sebaran abu vulkanik dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat maupun penerbangan.

Anak Krakatau Kembali Erupsi Minggu Pagi

Di tengah meluasnya sebaran abu, Gunung Anak Krakatau juga kembali mengalami erupsi pada Minggu pagi.

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, erupsi tercatat pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik dan amplitudo maksimum 46 milimeter. Aktivitas erupsi kembali tercatat pada pukul 07.10 WIB dengan durasi sekitar 16 detik dan amplitudo maksimum 50 milimeter.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang mulai berlangsung pada Sabtu (5/9) pukul 23.07 WIB. Badan Geologi melalui laporan khusus mencatat fenomena erupsi menerus tersebut sebagai perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang perlu terus dipantau.

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan

Dampak sebaran abu vulkanik juga dirasakan sektor penerbangan. Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, sempat dihentikan sementara pada Minggu akibat kondisi abu vulkanik.

Kementerian Perhubungan melalui pemberitahuan penerbangan (NOTAM) menetapkan penghentian sementara operasional bandara hingga pukul 09.30 WIB. Sejumlah penerbangan terdampak akibat kondisi tersebut.

Reuters melaporkan penangguhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta berdampak pada 209 penerbangan. Sebaran abu yang mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki turut menjadi pertimbangan dalam keselamatan penerbangan.

Masyarakat Diminta Waspada

Dengan sebaran abu yang telah mencapai sejumlah wilayah, masyarakat di kawasan terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Sementara itu, aktivitas masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau juga tetap dibatasi. Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.

Hingga laporan terbaru pada Minggu pagi, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kebutuhan evakuasi warga akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Reuters juga melaporkan tidak terdapat ancaman tsunami langsung yang dikonfirmasi akibat aktivitas erupsi tersebut.

BMKG dan Badan Geologi terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta pergerakan abu vulkanik untuk memastikan informasi mengenai potensi dampaknya dapat segera disampaikan kepada masyarakat. (Nazwa)

LAINNYA