Kurikulum Cinta: Menemukan Kembali Warisan Abah Anom dalam Pendidikan

waktu baca 9 menit
Minggu, 6 Sep 2026 06:48 45 Redaksi

OPINI | TD — Pendidikan hari ini sebenarnya tidak kekurangan kurikulum. Kita memiliki tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran, modul ajar, asesmen, proyek, teknologi digital, hingga beragam pendekatan pedagogis yang terus diperbarui. Hampir setiap perubahan zaman melahirkan tuntutan baru agar pendidikan semakin adaptif, inovatif, dan relevan.

Namun, di tengah kesibukan memperbarui sistem pendidikan, ada satu pertanyaan yang barangkali justru paling mendasar dan sering luput kita ajukan: apakah pendidikan kita masih mengajarkan manusia untuk mencintai?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita menyaksikan paradoks pendidikan hari ini. Anak-anak semakin terhubung melalui teknologi, tetapi belum tentu semakin dekat satu sama lain. Pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi kebijaksanaan tidak otomatis bertambah. Informasi mengalir tanpa batas, tetapi kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan justru menjadi tantangan.

Prestasi akademik terus dikejar, sementara empati, kepedulian, kesantunan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kemampuan hidup bersama terkadang tertinggal.

Kita pun patut bertanya: apa yang sesungguhnya sedang kita bentuk melalui pendidikan? Manusia yang sekadar cerdas, atau manusia yang cerdas sekaligus beradab?

Di tengah kegelisahan itulah gagasan tentang kurikulum cinta menemukan relevansinya.

Kurikulum cinta dapat dipahami sebagai orientasi pendidikan yang menempatkan mahabbah—cinta kepada Allah SWT—sebagai fondasi utama pendidikan. Dari cinta kepada Sang Khalik itulah kemudian tumbuh cinta kepada manusia, ilmu, keluarga, bangsa, alam, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Sesungguhnya, gagasan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Jauh sebelum istilah kurikulum cinta menjadi bagian dari diskursus pendidikan kontemporer, nilai-nilai serupa telah hidup dalam tradisi pendidikan dan spiritualitas Pangersa Abah Anom, Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin rahimahullah, di Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.

Karena itu, berbicara tentang kurikulum cinta dalam perspektif Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya bukan semata-mata mengadaptasi gagasan pendidikan mutakhir. Lebih dari itu, kita sedang menemukan kembali sebuah warisan pendidikan yang telah lama hidup dalam praktik spiritual, pembiasaan, keteladanan, dan pengabdian.

Dari Cinta kepada Allah Menuju Cinta kepada Makhluk

Salah satu fondasi penting dalam ajaran TQN Suryalaya adalah doa:

Ilâhî anta maqshûdî wa ridhâka mathlûbî, a‘thinî mahabbataka wa ma‘rifataka.

“Ya Tuhanku, hanya Engkaulah yang kumaksud dan keridaan-Mulah yang kucari. Berilah aku kemampuan untuk mencintai-Mu dan mengenal-Mu.”

Kalimat ini sesungguhnya menyimpan visi pendidikan yang sangat dalam.

Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, tetapi bergerak menuju kemampuan mengenal, mencintai, dan mengarahkan kehidupan kepada Allah SWT.

Di dalamnya terdapat setidaknya tiga orientasi penting: taqarrub kepada Allah, mencari mardhatillah, serta menumbuhkan mahabbah dan ma’rifah kepada-Nya.

Pertama, taqarrub kepada Allah.

Pendidikan seharusnya membantu manusia mendekatkan dirinya kepada Allah melalui jalan pengabdian. Ilmu tidak semata-mata digunakan untuk memperoleh jabatan, pekerjaan, kekayaan, atau pengakuan sosial. Ilmu harus menjadi jalan pembentukan manusia yang sadar akan kedudukannya sebagai hamba.

Inilah yang membedakan pendidikan yang hanya mencerdaskan dengan pendidikan yang sekaligus memanusiakan.

Sebab kecerdasan tanpa kesadaran ketuhanan dapat melahirkan manusia yang pintar, tetapi belum tentu bijaksana. Teknologi dapat membuat manusia semakin kuat, tetapi tanpa moralitas, kekuatan itu juga dapat digunakan untuk merusak.

Kedua, menuju jalan mardhatillah.

Hidup diarahkan kepada sesuatu yang diridai Allah SWT. Ukurannya bukan semata-mata apa yang menguntungkan diri sendiri, melainkan apakah sesuatu itu benar, baik, adil, dan membawa kemaslahatan.

Dalam pendidikan, prinsip ini memiliki implikasi yang sangat besar.

Anak tidak cukup diajarkan bagaimana menjadi juara. Ia harus diajarkan bagaimana menjadi manusia yang jujur ketika tidak ada yang mengawasi, bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, menghormati orang lain ketika berbeda pendapat, dan tetap berbuat baik meskipun kebaikannya tidak mendapatkan penghargaan.

Ketiga, mahabbah dan ma’rifah kepada Allah SWT.

Cinta kepada Allah bukan sekadar ungkapan verbal. Ia harus melahirkan perubahan dalam sikap dan perilaku.

Ketika cinta tumbuh, lahirlah keteguhan jiwa, kejujuran hati, keadilan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

Mahabbah tidak membuat seseorang menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, cinta kepada Allah justru mendorong manusia hadir lebih dalam di tengah kehidupan dengan kasih sayang.

Karena itu, cinta kepada Allah tidak boleh berhenti di ruang ibadah. Ia harus hadir di ruang kelas, halaman sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan dalam cara manusia memperlakukan alam.

Ketika Pengetahuan Harus Menjadi Akhlak

Di sinilah relevansi warisan pendidikan Abah Anom menjadi penting.

Pendidikan dalam perspektif tersebut tidak hanya berbicara tentang transfer of knowledge, tetapi juga transformasi diri.

Peserta didik tidak cukup menjadi knower, orang yang mengetahui. Ia harus tumbuh menjadi manusia yang mampu menghayati dan mengamalkan apa yang diketahuinya.

Kita sering menemukan paradoks sederhana.

Anak mampu menjawab soal tentang kejujuran, tetapi masih mencontek. Ia mampu menjelaskan pentingnya menjaga lingkungan, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Ia mampu menghafal berbagai ajaran agama, tetapi mudah merendahkan orang lain.

Di sinilah persoalan mendasar pendidikan terlihat: pengetahuan tentang kebaikan belum tentu melahirkan perilaku baik.

Karena itu, kurikulum cinta harus membawa pendidikan dari knowing menuju being dan doing: mengetahui kebaikan, menjadi pribadi yang baik, lalu melakukan kebaikan.

Cinta menjadi jembatan di antara ketiganya.

Anak yang mencintai Allah akan belajar menghargai ciptaan-Nya. Anak yang mencintai orang tua akan belajar menghormati keluarganya. Anak yang mencintai gurunya akan belajar menghargai ilmu. Anak yang mencintai sesama akan belajar menjaga lisan dan perilakunya. Anak yang mencintai alam akan merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan.

Dengan demikian, akhlak tidak lagi sekadar menjadi materi pelajaran. Akhlak harus menjadi budaya kehidupan.

Dari Hukuman Menuju Kesadaran

Kurikulum cinta juga mengajak kita mengubah cara pandang dalam mendidik.

Selama ini pendidikan terkadang terlalu mudah menggunakan hukuman sebagai instrumen pembentukan perilaku. Anak yang salah dimarahi. Yang terlambat dihukum. Yang tidak mengerjakan tugas diberi sanksi.

Pendekatan semacam itu mungkin dapat menghasilkan kepatuhan. Namun, belum tentu menghasilkan kesadaran.

Padahal, tujuan pendidikan yang lebih tinggi bukan sekadar membuat anak takut melakukan kesalahan, melainkan membuat anak memahami mengapa sesuatu harus dilakukan dan mengapa sesuatu harus ditinggalkan.

Guru yang mendidik dengan cinta bukan berarti guru yang membiarkan kesalahan.

Justru sebaliknya, cinta memungkinkan guru menegakkan disiplin dengan cara yang manusiawi. Kesalahan tetap dikoreksi, tetapi anak tidak dipermalukan. Aturan tetap ditegakkan, tetapi harga diri peserta didik tetap dijaga.

Dengan cinta, disiplin tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari kesadaran.

Inilah salah satu pelajaran penting dari pendidikan spiritual: membentuk manusia dari dalam, bukan sekadar mengendalikan perilaku dari luar.

Cinta Melahirkan Keadilan

Cinta juga tidak boleh dipahami sebagai kelembutan tanpa batas.

Salah satu dimensi penting mahabbah adalah lahirnya keadilan. Ketika seseorang mencintai Allah, ia belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ia belajar berlaku benar terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap lingkungan.

Dalam dunia pendidikan, prinsip ini sangat relevan.

Guru harus adil kepada peserta didiknya. Sekolah harus memberikan ruang kepada anak dengan berbagai latar belakang kemampuan. Anak yang berprestasi tidak boleh merasa lebih tinggi daripada temannya. Sebaliknya, anak yang belum berhasil tidak boleh kehilangan harga dirinya.

Pendidikan yang dilandasi cinta tidak membangun kasta berdasarkan nilai rapor.

Sebab setiap anak memiliki martabat sebagai manusia.

Di sinilah kurikulum cinta dapat menjadi jawaban terhadap kecenderungan pendidikan yang terlalu kompetitif. Kompetisi boleh ada, tetapi jangan sampai membuat anak belajar bahwa keberhasilan dirinya harus dibayar dengan kegagalan orang lain.

Cinta mengajarkan bahwa prestasi dan kepedulian tidak harus dipertentangkan.

Kita dapat menjadi unggul tanpa merendahkan. Kita dapat berbeda tanpa membenci. Kita dapat bersaing tanpa kehilangan persaudaraan.

Cinta sebagai Jalan Hidup Bersama

Ajaran mahabbah juga memiliki dimensi sosial yang luas.

Cinta tidak berhenti pada lingkungan terdekat. Ia dapat berkembang menjadi kasih sayang kepada seluruh makhluk.

Dalam tradisi TQN Suryalaya, kecintaan kepada Allah memiliki pancaran berupa kasih sayang kepada sesama makhluk, kecintaan kepada tanah air, serta penghormatan kepada manusia dalam keberagamannya.

Pesan ini sangat penting bagi pendidikan Indonesia hari ini.

Di tengah masyarakat yang semakin beragam, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan anak tentang perbedaan. Anak harus dididik agar mampu hidup bersama dalam perbedaan.

Karena itu, kurikulum cinta bukan kurikulum sentimental.

Ia justru merupakan kurikulum yang menumbuhkan kemampuan hidup bersama: menghormati, memahami, menolong, berdialog, memaafkan, bekerja sama, dan menyelesaikan perbedaan tanpa kebencian.

Cinta kepada bangsa pun tidak harus selalu diwujudkan melalui slogan.

Ia dapat dimulai dari hal-hal sederhana: tidak merusak fasilitas umum, menghormati perbedaan, membantu tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta tidak menyebarkan kebencian.

Dengan cara demikian, nasionalisme tidak berhenti sebagai hafalan tentang simbol-simbol negara. Ia menjelma menjadi akhlak kewargaan.

Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Teladan

Namun, ada satu persoalan penting.

Kurikulum cinta tidak akan berhasil jika cinta hanya ditulis dalam dokumen kurikulum.

Sebab cinta tidak cukup diajarkan. Cinta harus diteladankan.

Guru yang berbicara tentang kejujuran tetapi tidak jujur akan kehilangan kewibawaannya. Guru yang mengajarkan toleransi tetapi mudah merendahkan orang lain akan membuat pesan pendidikan kehilangan makna.

Karena itu, guru dalam kurikulum cinta bukan sekadar delivery system bagi materi pembelajaran. Guru adalah uswah—teladan yang menghadirkan nilai melalui perilaku.

Anak belajar mencintai bukan semata-mata karena gurunya menyuruhnya mencintai.

Anak belajar mencintai karena ia mengalami cinta dalam proses pendidikannya.

Ia merasakan bahwa gurunya menghargainya. Ia merasakan bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk bertumbuh. Ia mengalami bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Di sinilah sosok Abah Anom penting untuk dibaca kembali, bukan hanya sebagai figur spiritual, tetapi juga sebagai figur pendidikan.

Warisan Abah Anom menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Nilai harus dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, kedisiplinan, pengabdian, dan suasana kehidupan yang memungkinkan peserta didik mengalami langsung nilai-nilai tersebut.

Pendidikan yang baik bukan hanya membuat anak memahami apa yang benar.

Pendidikan yang lebih tinggi adalah ketika anak mencintai kebenaran dan memiliki keberanian untuk menjalankannya.

Menemukan Kembali Ruh Pendidikan

Pada akhirnya, perbincangan tentang kurikulum cinta membawa kita kembali kepada pertanyaan paling mendasar:

Untuk apa pendidikan diselenggarakan?

Jika pendidikan hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang kompetitif, kita mungkin akan menghasilkan banyak orang pintar.

Jika pendidikan hanya mengejar nilai akademik, kita mungkin akan menghasilkan banyak lulusan berprestasi.

Tetapi jika pendidikan diarahkan untuk membangun manusia yang mencintai Allah, mencintai ilmu, mencintai sesama, mencintai bangsa, dan mencintai alam, kita memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan manusia yang utuh.

Dalam konteks inilah warisan Abah Anom menjadi sangat relevan untuk dibaca kembali.

Bukan untuk membawa pendidikan kembali ke masa lalu, melainkan untuk menemukan nilai-nilai lama yang tetap memiliki daya hidup bagi masa depan.

Teknologi boleh berubah. Kurikulum boleh berganti. Metode pembelajaran boleh berkembang. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih.

Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh hilang dari pendidikan: hati manusia.

Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat manusia menjadi pintar, tetapi bagaimana membuat manusia menggunakan kepintarannya untuk kebaikan.

Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk berbicara tentang kompetensi, teknologi, asesmen, dan kecerdasan buatan, barangkali kita perlu kembali mengingat satu hal yang sangat sederhana:

Pendidikan yang kehilangan cinta mungkin dapat menghasilkan manusia yang cerdas. Tetapi pendidikan yang dilandasi cinta memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan manusia yang beradab.

Karena itu, kurikulum cinta bukan sekadar gagasan baru dalam pendidikan. Ia dapat menjadi jalan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah lama diwariskan Abah Anom: mendekat kepada Allah, mencari keridaan-Nya, menumbuhkan mahabbah dan ma’rifah, lalu memancarkan cinta itu kepada seluruh kehidupan.

Sebab pada akhirnya, cinta kepada Allah yang benar seharusnya membuat manusia semakin mencintai kehidupan, bukan semakin membenci sesama.

Dan mungkin, di situlah pendidikan menemukan kembali ruhnya.

Penulis: Dr. Nana Suryana, S.Ag., M.Pd.
Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAILM Suryalaya. (*)

LAINNYA