PRISMA | TD — Masa lalu sering kali kita bayangkan sebagai sesuatu yang berada di belakang. Sesuatu yang telah selesai, berlalu, dan seharusnya ditinggalkan. Padahal, tidak semua yang telah berlalu benar-benar pergi. Ada kenangan yang menetap, kehilangan yang membekas, perjumpaan yang mengubah arah, serta peristiwa yang diam-diam membentuk cara kita memandang kehidupan.
Mungkin, masa lalu bukan berada di belakang sebagai sesuatu yang begitu saja bisa ditinggalkan, melainkan berada di bawah sebagai pijakan bagi pencapaian demi pencapaian. Sebab, setiap langkah ke depan sesungguhnya bertumpu pada jejak perjalanan yang pernah kita lalui.
Gagasan itulah yang menarik untuk direnungkan ketika menyambut film terbaru garapan Nurman Hakim dan Nan Achnas, Yang Datang dan Yang Pergi, yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 3 Desember 2026.
Film drama romantis Indonesia ini tidak sekadar menawarkan kisah tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga membuka ruang perenungan mengenai waktu, ingatan, sejarah keluarga, cinta, kehilangan, dan pilihan-pilihan hidup.
Tiga Masa, Satu Rangkaian Kehidupan
Cerita berpusat pada Sinta, diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, seorang perempuan yang mewarisi sekaligus mengelola penginapan keluarga bernama Wisma Wiryo di kawasan wisata pegunungan.
Di tempat itulah berbagai cerita dan sejarah keluarga seolah menemukan ruang untuk kembali hadir. Wisma Wiryo bukan hanya bangunan yang menyimpan kenangan, melainkan juga saksi perjalanan manusia dengan segala perjumpaan, perubahan, dan perpisahannya.
Menariknya, cerita film ini dibentangkan melalui tiga periode waktu: 1965, 1999, dan 2026. Ketiga masa tersebut menjadi pintu untuk mengungkap rahasia keluarga sekaligus sejarah penginapan yang diwariskan kepada Sinta.
Dalam perjalanan itu, Sinta dihadapkan pada berbagai pilihan. Ia harus mempertimbangkan masa depan bisnis keluarga, pergulatan perasaannya, serta kehadiran tiga laki-laki dengan latar belakang dan hubungan yang berbeda dengannya.
Ada Banawan (Roy Sungkono), teman masa kecil sekaligus mantan kekasihnya. Ada Haris (Dimas Aditya), laki-laki yang serius mendekatinya. Sementara Arif (David Ari Wibowo), seorang novelis, turut hadir dengan perspektif dan dinamika tersendiri dalam kehidupan Sinta.
Di tengah berbagai kepentingan dan perasaan tersebut, masa lalu perlahan menemukan relevansinya dengan keputusan-keputusan yang harus diambil pada masa kini.
Masa Lalu Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Jika direnungkan lebih jauh, kehidupan manusia sesungguhnya merupakan pertemuan antara tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Kita hidup pada masa kini, tetapi tidak pernah sepenuhnya terlepas dari masa lalu. Cara kita mencintai, mengambil keputusan, membangun kepercayaan, bahkan menghadapi kehilangan, sering kali memiliki hubungan dengan pengalaman yang pernah kita alami.
Ada kalanya seseorang datang membawa harapan. Ada pula yang pergi meninggalkan pertanyaan. Sebagian perjumpaan menjadi awal perjalanan baru, sementara sebagian perpisahan justru mengajarkan kita memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah disadari.
Namun, apakah sesuatu yang telah pergi benar-benar kehilangan maknanya? Belum tentu.
Sebab, seseorang mungkin tidak lagi hadir secara fisik, tetapi pengalaman bersamanya dapat terus hidup dalam ingatan. Sebuah tempat mungkin telah berubah, tetapi sejarah yang melekat padanya tidak serta-merta menghilang. Bahkan, keputusan yang kita ambil hari ini bisa jadi merupakan kelanjutan dari pergulatan yang telah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.
Dalam pengertian ini, masa lalu bukan sekadar kumpulan peristiwa yang telah selesai. Ia merupakan bagian dari proses pembentukan diri.
Wisma Wiryo dan Metafora Kehidupan
Kehadiran Wisma Wiryo dalam film ini juga menarik dibaca sebagai metafora kehidupan.
Sebuah penginapan pada dasarnya merupakan tempat persinggahan. Orang-orang datang dengan tujuan, cerita, dan perjalanan masing-masing. Mereka tinggal untuk sementara, kemudian pergi melanjutkan perjalanan.
Tidak semua orang yang datang akan menetap. Tidak semua yang pergi akan dilupakan.
Begitu pula kehidupan manusia. Kita bertemu dengan banyak orang, membangun hubungan, berbagi pengalaman, lalu melanjutkan perjalanan dengan arah yang mungkin berbeda.
Menariknya, sebuah tempat dapat menyimpan cerita dari generasi ke generasi. Apa yang dialami seseorang pada masa lalu bisa menjadi warisan pengalaman bagi mereka yang hidup pada masa berikutnya.
Di sinilah rentang waktu 1965, 1999, dan 2026 dalam Yang Datang dan Yang Pergi menjadi menarik untuk ditelusuri. Sejarah keluarga tidak berdiri sendiri sebagai catatan masa silam, tetapi dapat memengaruhi kehidupan generasi yang datang kemudian.
Barangkali, apa yang sedang dihadapi Sinta bukan semata-mata persoalan memilih seseorang atau menentukan masa depan sebuah usaha keluarga. Lebih dari itu, ia juga berhadapan dengan warisan masa lalu yang menuntut untuk dipahami sebelum menentukan langkah berikutnya.
Yang Datang dan Yang Pergi, Termasuk Bagian dari Diri Kita
Pada akhirnya, film ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ada hal-hal yang datang tanpa pernah kita rencanakan dan ada pula yang pergi meskipun telah berusaha kita pertahankan.
Kita terus berubah, sementara pengalaman masa lalu menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri.
Mungkin, yang datang dan yang pergi bukan hanya tentang orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita. Bisa jadi, keduanya juga menggambarkan bagian-bagian dari diri kita yang terus berganti: keyakinan yang berubah, harapan yang tumbuh, kenangan yang memudar, serta pemahaman baru yang lahir dari pengalaman.
Karena itu, memahami masa lalu bukan berarti terus-menerus hidup di dalamnya. Justru dengan mengenali jejak perjalanan, kita dapat memahami posisi kita hari ini dan menentukan ke mana hendak melangkah.
Kita tidak harus menghapus masa lalu untuk menyambut masa depan. Sebab, ada kalanya keberanian untuk melangkah justru tumbuh dari kesediaan menerima seluruh perjalanan yang pernah kita lalui.
Selamat menikmati Yang Datang dan Yang Pergi, karya Nurman Hakim dan Nan Achnas.
Mari menyelami ketegangan konfliknya, mengikuti setiap perjumpaan dan perpisahan, serta menemukan kemungkinan-kemungkinan makna di balik ceritanya.
Sebab, barangkali, kehidupan kita hari ini memang dibentuk oleh serpihan-serpihan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Masa lalu bukan untuk terus ditengok, melainkan untuk dipahami. Bukan untuk membelenggu langkah, melainkan menjadi pijakan agar kita mampu melangkah lebih jauh.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat film, teks filsafat dan tasawuf dan mahasiswa Magister Komunikasi, Budi Luhur University. (*)