Hari Sumpah Pemuda 2026: Menelusuri Perjuangan Mohammad Yamin dalam Merajut Identitas Indonesia

waktu baca 4 menit
Selasa, 27 Okt 2026 15:22 44 Nazwa

SOSOK | TD — Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Tahun ini, peringatan yang memasuki usia ke-98 mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.

Tema tersebut mengajak generasi muda untuk tidak hanya mencintai tanah air, tetapi juga terus berjuang menghadapi tantangan dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Semangat itu mengingatkan kita pada sosok Mohammad Yamin, pemuda yang ikut meletakkan dasar penting bagi identitas bangsa Indonesia.

Nama Yamin mungkin paling sering dikaitkan dengan rumusan Sumpah Pemuda. Namun, perjalanan hidupnya jauh lebih luas dari itu. Ia juga dikenal sebagai sastrawan, pemikir sejarah, dan tokoh yang memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

Mohammad Yamin, Pemuda di Balik Rumusan Sumpah Pemuda

Mohammad Yamin lahir pada 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia tumbuh menjadi sosok terpelajar dengan ketertarikan pada sastra, sejarah, dan hukum. Minat tersebut kemudian membawanya menempuh perjalanan panjang sebagai penulis sekaligus tokoh pergerakan nasional.

Peran Yamin dalam sejarah Indonesia mencapai salah satu titik penting ketika ia terlibat dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Saat itu, ia menjadi sekretaris panitia kongres yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda dari beragam latar belakang daerah.

Di tengah perbedaan suku dan bahasa, para pemuda berusaha menemukan landasan bersama untuk membangun persatuan. Yamin turut menyumbangkan gagasan tentang pentingnya sejarah, bahasa, adat, pendidikan, dan kemauan untuk memperkuat persatuan Indonesia.

Pada akhir kongres, lahirlah keputusan yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan tersebut memuat tiga ikrar utama, yakni bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Yamin berperan dalam merumuskan naskah keputusan itu. Sementara itu, pembacaan keputusan dilakukan oleh Ketua Kongres Pemuda II, Soegondo Djojopoespito.

Gagasan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945, para pemuda telah menyatakan tekad untuk menempatkan identitas Indonesia di atas perbedaan latar belakang mereka.

Kecintaan pada Sastra yang Menumbuhkan Semangat Kebangsaan

Sebelum dikenal luas sebagai tokoh pergerakan nasional, Yamin telah menunjukkan kemampuannya melalui karya sastra. Ia menjadi salah satu pelopor puisi modern Indonesia dan turut memperkenalkan bentuk soneta dalam perkembangan puisi berbahasa Melayu pada awal abad ke-20.

Salah satu karya awalnya yang dikenal adalah puisi Tanah Air, yang ditulis ketika ia masih berusia sekitar 17 tahun dan dimuat dalam majalah Jong Sumatra pada Juli 1920.

Dalam puisi tersebut, Yamin menggambarkan keindahan Sumatera, mulai dari pegunungan, hutan, hingga bentang alam yang membangkitkan rasa cinta terhadap tanah kelahirannya. Pada masa itu, ungkapan kecintaan terhadap tanah air memiliki arti penting di tengah tumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Melalui bahasa dan sastra, Yamin menunjukkan bahwa kecintaan terhadap negeri dapat disampaikan bukan hanya melalui pidato atau gerakan politik, tetapi juga melalui tulisan.

Perhatiannya terhadap bahasa Melayu juga memiliki makna tersendiri. Ketika bahasa Belanda masih banyak digunakan oleh kalangan terpelajar, Yamin memilih menulis dalam bahasa Melayu. Ia melihat bahasa tersebut memiliki potensi besar untuk menjembatani perbedaan dan menjadi bahasa bersama bagi masyarakat dari berbagai daerah.

Pemikiran itu sejalan dengan gagasan yang kemudian menguat dalam Sumpah Pemuda: bahasa tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian penting dari identitas sebuah bangsa.

Terinspirasi Sejarah Nusantara dan Gagasan Merah Putih

Selain sastra, sejarah Nusantara menjadi bidang yang menarik perhatian Yamin. Ia menaruh perhatian pada kerajaan-kerajaan masa lampau, termasuk Majapahit, serta sosok Gajah Mada yang dikenal melalui gagasan penyatuan wilayah Nusantara.

Ketertarikan tersebut terlihat dalam karya sejarahnya, Gadjah Mada, yang terbit pada 1945. Melalui tulisan sejarah, Yamin turut mengangkat kembali tokoh dan peristiwa masa lalu sebagai bagian dari pembahasan mengenai perjalanan bangsa.

Bagi Yamin, sejarah Nusantara bukan sekadar kumpulan cerita tentang kerajaan dan tokoh besar. Sejarah juga dapat menjadi bahan untuk memahami hubungan antardaerah dan gagasan mengenai persatuan yang berkembang jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.

Perhatiannya terhadap identitas nasional juga tampak dalam buku 6000 Tahun Sang Merah Putih. Karya tersebut membahas sejarah dan makna warna merah putih sebagai simbol yang lekat dengan perjalanan kebangsaan Indonesia.

Kecintaan Yamin pada sastra, sejarah, dan simbol negara memperlihatkan keluasan minatnya dalam memikirkan Indonesia. Ia tidak hanya terlibat dalam perumusan gagasan persatuan pada 1928, tetapi juga berusaha memahami akar sejarah dan kebudayaan yang membentuk identitas bangsa. (Nazwa)

LAINNYA