
Perkembangan teknologi menghadirkan beragam cara menikmati cerita, mulai dari membaca novel fisik hingga mengikuti Alternate Universe (AU) melalui platform digital. Fenomena ini turut mewarnai kebiasaan membaca generasi muda di era digital. (Foto: Magnific @wayhomestudio)GAYA HIDUP | TD — Perkembangan media digital menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk menikmati cerita fiksi. Jika sebelumnya novel menjadi salah satu pilihan untuk membaca kisah romansa, persahabatan, hingga drama kehidupan, kini ada format cerita lain yang menarik perhatian generasi muda, yakni Alternate Universe (AU).
Bagi sebagian orang, istilah AU mungkin masih terdengar asing. AU merupakan singkatan dari Alternate Universe, yang berarti semesta alternatif. Dalam dunia fiksi, AU menghadirkan tokoh dalam latar, situasi, atau kehidupan berbeda dari versi aslinya. Cerita ini juga kerap menggunakan figur publik atau karakter tertentu sebagai inspirasi dalam skenario fiktif.
AU banyak ditemukan di platform media sosial, seperti X atau Twitter. Bentuknya beragam, mulai dari rangkaian unggahan dan narasi pendek hingga percakapan fiktif yang menyerupai chat WhatsApp atau pesan langsung. Pembaca dapat mengikuti cerita secara bertahap melalui unggahan yang saling berkaitan.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan: apakah AU mulai mengubah cara Gen Z menikmati cerita, bahkan menjadi alternatif bagi novel?
Salah satu daya tarik AU adalah formatnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pengguna media sosial. Percakapan antartokoh terasa familier, sementara unggahan bersambung membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan cerita.
AU juga menawarkan beragam genre, mulai dari romansa, komedi, persahabatan, hingga kisah yang menguras emosi. Pembaca dapat mengikuti cerita melalui ponsel tanpa harus selalu membeli buku fisik.
Penelitian berjudul “Daya Tarik Cerita AU (Alternate Universe): Kenapa Banyak yang Lebih Memilih Cerita AU daripada Buku Fisik?” yang diterbitkan dalam jurnal KABASTRA pada 2024 menemukan bahwa keragaman genre, model penyajian, tampilan, dan kreativitas cerita menjadi daya tarik AU. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan kuesioner yang disebarkan melalui X.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak otomatis menggambarkan preferensi seluruh Gen Z di Indonesia karena cakupan responden dan metode penelitiannya terbatas.
AU dan novel sama-sama dapat menyajikan cerita fiksi dengan konflik, karakter, serta alur yang berkembang. Perbedaannya lebih terlihat pada cara cerita dikemas dan disampaikan kepada pembaca.
AU di media sosial sering hadir dalam unggahan berseri, percakapan fiktif, dan narasi yang diselingi interaksi pembaca. Sementara itu, novel umumnya disusun dalam bab-bab yang memungkinkan pengembangan latar, karakter, dan konflik secara lebih panjang.
Namun, keduanya tidak harus dipertentangkan. AU juga dapat memiliki narasi panjang, sedangkan novel bisa memanfaatkan format percakapan. Pembaca pun dapat menikmati keduanya sesuai selera, waktu, dan kebutuhan membaca.
Penelitian dalam jurnal Edukatif pada 2024 turut mengkaji hubungan cerita AU di platform X dengan minat baca Gen Z. Studi yang melibatkan 140 responden terpilih tersebut melaporkan koefisien determinasi sebesar 49,1% dalam model analisisnya. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan statistik yang perlu dipahami sesuai metode dan batasan penelitian, bukan bukti bahwa AU telah mengalahkan novel.
Sementara itu, survei Jakpat pada semester II 2025 yang melibatkan 2.240 responden mencatat aktivitas membaca paling tinggi pada Gen Z, yakni 26%, dibandingkan Milenial sebesar 20% dan Gen X sebesar 18%. Angka ini menggambarkan aktivitas membaca secara umum, bukan jumlah pembaca AU secara khusus.
Data tersebut memperlihatkan bahwa membaca masih menjadi bagian dari aktivitas digital generasi muda. Namun, belum cukup bukti untuk memastikan bahwa Gen Z secara umum lebih menyukai AU daripada novel.
Kehadiran AU memperlihatkan bahwa cerita fiksi dapat dinikmati melalui berbagai format seiring perkembangan teknologi. Kemudahan akses dan penyajian yang dekat dengan keseharian digital menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca muda.
Pada akhirnya, AU dan novel dapat berjalan berdampingan. Keduanya menawarkan pengalaman membaca yang berbeda, tetapi sama-sama membuka ruang untuk menikmati cerita, mengenal karakter, dan mengembangkan imajinasi.
Untuk mengetahui apakah AU benar-benar lebih diminati daripada novel, masih diperlukan survei yang secara langsung membandingkan preferensi pembaca dari kelompok usia yang sama. Dengan demikian, perubahan kebiasaan membaca Gen Z dapat dipahami berdasarkan data, bukan hanya tren yang terlihat di media sosial. (Nazwa)