Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Rahasia seorang sarjana sejati: rajin mengolah rasa, mengatur dan teliti dalam mencipta. Yang diolah akan menjadi perilaku. Oleh karena itu, perhatikanlah, agar senantiasa selamat, terarah pada kesempurnaan. —Ki Hajar Dewantara, Teladan.
Saya pernah mengira bahwa persoalan terbesar dalam perjalanan menjadi sarjana adalah menyelesaikan kuliah. Ternyata tidak. Persoalan yang lebih sulit justru muncul setelah seseorang berhasil melewati berbagai tahapan akademik: apa yang sesungguhnya berubah dalam dirinya setelah pengetahuan bertambah?
Pertanyaan itu terasa personal bagi saya.
Pada 2001 saya pernah kuliah, tetapi perjalanan itu berakhir dengan drop out. Setahun kemudian, pada 2002, saya kembali kuliah. Saya mencoba memulai lagi, seolah-olah kesempatan kedua dapat menghapus kegagalan pertama. Namun perjalanan itu kembali terhenti. Pada 2006, saya kembali harus menerima kenyataan sebagai mahasiswa yang tidak menyelesaikan pendidikan.
Bertahun-tahun kemudian, pada 2022, saya kembali memasuki dunia akademik. Kali ini saya datang bukan sebagai anak muda yang sedang mengejar gelar, melainkan sebagai seseorang yang sudah membawa terlalu banyak pengalaman hidup. Pada usia 46 tahun, pada 2026, perjalanan yang pernah terputus itu akhirnya sampai pada sebuah titik: saya menyelesaikan pendidikan sarjana.
Namun justru ketika gelar itu diperoleh, pertanyaan lama berubah menjadi pertanyaan yang lebih dalam: apakah seseorang yang telah menjadi sarjana otomatis menjadi manusia yang lebih baik?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Sebab sarjana dan sujana berada pada dua wilayah yang berdekatan, tetapi tidak identik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sujana berarti orang yang berbudi, bijaksana, atau pandai. Pengertian ini menarik karena kata sujana tidak berhenti pada kepandaian. Di dalamnya terdapat dimensi budi dan kebijaksanaan.
Dengan demikian, sarjana lebih dekat dengan capaian akademik, sementara sujana menunjuk pada kualitas manusia yang dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, dan pengolahan batin.
Sarjana dapat dibuktikan dengan ijazah. Sujana dibuktikan melalui perilaku. Di sinilah perjalanan pendidikan mulai menemukan maknanya.
Pengetahuan dalam pengertian akademik sering kali dipahami sebagai sesuatu yang diperoleh, dikumpulkan, diuji, dan disusun secara sistematis. Tetapi dalam tradisi kebudayaan kita terdapat istilah kawruh, yang memiliki nuansa lebih luas: pengetahuan yang tidak semata-mata berada di luar diri, tetapi dihayati dan menjadi bagian dari cara seseorang memahami kehidupan.
Perbedaan ini penting.
Seseorang dapat mengetahui sesuatu tanpa sungguh-sungguh memahaminya. Ia dapat menghafal teori tanpa mengalami maknanya. Ia dapat menguasai konsep tanpa menjadikannya sebagai cara hidup.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada transformasi pengetahuan menjadi pengetahuan yang lebih banyak, tetapi bergerak menuju transformasi pengetahuan menjadi kesadaran.
Di situlah seorang sarjana mulai berproses menjadi sujana.
Ilmu yang hanya berhenti di kepala dapat menghasilkan kepandaian. Ilmu yang turun ke dalam kesadaran dapat menghasilkan kebijaksanaan.
Dalam perjalanan intelektual, saya semakin menyadari bahwa manusia tidak hanya hidup dengan nalar. Ia juga hidup dengan rasa.
Nalar membantu manusia membedakan, menguraikan, menguji, dan menyimpulkan. Rasa membantu manusia memahami makna, kepekaan, kepantasan, dan akibat dari tindakannya terhadap orang lain.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Tradisi shruti dan smriti, misalnya, menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat hadir melalui sesuatu yang didengar, diingat, diwariskan, dan kemudian diolah dalam pengalaman manusia. Dalam kebudayaan Nusantara, pengetahuan juga tidak selalu disampaikan dalam bentuk buku teks. Ia dapat hadir melalui tembang, cerita, simbol, suluk, dan berbagai bentuk kebudayaan.
Suluk Tambangraras dan Serat Centhini, misalnya, memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang manusia dan kehidupan dapat disampaikan melalui narasi, perjalanan, pengalaman, simbol, dan dialog. Pengetahuan tidak selalu hadir sebagai rumus yang dingin. Ia dapat hidup sebagai pengalaman yang menggerakkan kesadaran.
Maka, pendidikan yang hanya melatih nalar tetapi meminggirkan rasa berisiko melahirkan manusia yang pandai membaca persoalan, tetapi tidak selalu mampu merasakan akibat dari jawabannya.
Sebaliknya, rasa tanpa nalar juga dapat kehilangan arah.
Menjadi sujana berarti mengusahakan pertemuan keduanya: nalar yang jernih dan rasa yang terolah.
Di tingkat yang lebih luas, pendidikan juga tidak pernah benar-benar netral. Pengetahuan selalu hadir melalui bahasa, teks, institusi, kurikulum, dan struktur sosial.
Karena itu, kita dapat bergerak dari naskah menuju discourse, lalu menuju ideologi.
Sebuah naskah bukan hanya kumpulan kata. Ia lahir dalam konteks tertentu, dibaca oleh manusia tertentu, dan dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda-beda.
Di sini pemikiran Roland Barthes tentang tanda dan mitos membantu kita memahami bahwa makna tidak selalu berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Teks dapat membawa lapisan makna yang lebih dalam.
Michel Foucault kemudian mengingatkan kita bahwa pengetahuan berkaitan dengan relasi kuasa. Apa yang dianggap benar, normal, sah, dan ilmiah tidak berdiri sepenuhnya di ruang hampa. Ia dibentuk melalui institusi, praktik, dan mekanisme sosial tertentu.
Sementara Louis Althusser membawa kita melihat bagaimana ideologi bekerja melalui berbagai aparatus yang membentuk individu sebagai subjek.
Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar proses memasukkan pengetahuan ke dalam kepala peserta didik. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan cara melihat dunia.
Kurikulum, misalnya, tidak hanya menentukan apa yang harus dipelajari, tetapi secara tidak langsung menentukan apa yang dianggap penting untuk diketahui.
Di sinilah semiotika menjadi penting. Manusia hidup di tengah tanda. Bahasa, pakaian, gelar, institusi, ijazah, bahkan status sosial adalah tanda yang mengandung makna tertentu.
Gelar sarjana pun demikian.
Ia bukan hanya selembar dokumen. Ia adalah tanda sosial tentang kompetensi, pendidikan, dan posisi seseorang. Tetapi persoalannya menjadi menarik ketika tanda tersebut tidak lagi sejalan dengan substansi.
Ketika gelar menjadi lebih penting daripada ilmu, pendidikan dapat berubah menjadi produksi simbol.
Padahal tujuan pendidikan mestinya bukan sekadar membuat seseorang terlihat berilmu, melainkan membantu seseorang menjadi manusia yang berilmu.
Persoalan manusia modern tidak berhenti pada pengetahuan dan kekuasaan. Ada pula persoalan kebebasan.
Kita sering membayangkan bahwa semakin bebas seseorang, semakin baik kehidupannya. Namun kebebasan tanpa orientasi dapat melahirkan anomie, keadaan ketika norma kehilangan daya ikat dan manusia mengalami kekosongan orientasi.
Karena itu, anarki dan anomie tidak dapat disamakan begitu saja. Anarki dapat menunjuk pada keadaan tanpa otoritas tertentu, sedangkan anomie lebih berkaitan dengan keadaan ketika norma sosial kehilangan kekuatan dalam mengarahkan perilaku.
Manusia membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan orientasi.
Di sinilah pendidikan kembali menemukan tugasnya. Pendidikan bukan hanya membebaskan manusia dari ketidaktahuan, tetapi juga membantu manusia memahami untuk apa kebebasan digunakan.
Kebebasan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi alat kekuasaan.
Dan gelar tanpa kedewasaan dapat berubah menjadi sekadar simbol.
Pertanyaan tentang manusia kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih tua: bagaimana manusia memahami Tuhan, penderitaan, kebebasan, dan ketidakadilan?
Di wilayah teologi, manusia berbicara tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Yang Transenden. Tetapi ketika manusia berhadapan dengan penderitaan dan kejahatan, muncul persoalan teodise: bagaimana memahami keberadaan penderitaan dalam dunia yang diyakini berada dalam kuasa Tuhan yang Mahabaik dan Mahakuasa.
Pertanyaan semacam ini bukan sekadar persoalan teoritis. Ia menyentuh pengalaman manusia secara langsung.
Pemikiran Giordano Bruno dan Baruch Spinoza, meskipun berada dalam konteks sejarah dan gagasan yang berbeda, menunjukkan bagaimana manusia terus berusaha memahami hubungan antara Tuhan, alam, substansi, dan keberadaan.
Pertanyaan tersebut pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri: bagaimana seseorang menempatkan dirinya di tengah semesta yang jauh lebih besar daripada dirinya?
Kesadaran semacam ini justru dapat melahirkan kerendahan hati intelektual.
Semakin banyak yang diketahui, semakin terasa luas wilayah yang belum diketahui.
Mungkin karena itu, sujana bukanlah manusia yang merasa telah selesai. Ia justru menyadari bahwa dirinya selalu berada dalam proses menjadi.
Dalam konteks Indonesia, proses menjadi manusia tidak dapat dilepaskan dari kehidupan bersama.
Pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang kompeten secara profesional. Ia juga membentuk warga negara.
Di sinilah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika memperoleh relevansinya. Pendidikan perlu membentuk manusia yang mampu hidup bersama di tengah perbedaan.
Ilmu tidak boleh hanya menghasilkan kemampuan untuk memenangkan argumentasi. Ilmu juga harus melatih kemampuan mendengarkan.
Kebenaran akademik membutuhkan ketelitian. Kehidupan sosial membutuhkan kebijaksanaan.
Karena itu, menjadi sujana berarti mampu memahami bahwa manusia tidak hidup sendirian dengan pengetahuannya. Ia hidup dalam jaringan relasi, sejarah, kebudayaan, dan masyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan juga perlu bertanya: apakah kita benar-benar belajar, atau hanya tunduk meniru di bawah kuasa?
Ada perbedaan antara belajar dari seseorang dan kehilangan kemampuan berpikir karena terlalu tunduk kepada seseorang.
Ada perbedaan antara menghormati tradisi dan sekadar mengulang tradisi tanpa memahami maknanya.
Ada pula perbedaan antara mengikuti ilmu dan menjadikan otoritas sebagai pengganti pikiran.
Seorang sarjana seharusnya memiliki kemampuan kritis. Tetapi seorang sujana tidak berhenti pada sikap kritis. Ia juga memahami batas kritik, menjaga adab dalam berbeda pendapat, dan menyadari bahwa kecerdasan tidak memberikan hak untuk merendahkan manusia lain.
Di sinilah ilmu membutuhkan budi.
Setelah perjalanan panjang itu, saya semakin memahami bahwa menjadi sarjana bukan garis akhir.
2001 mengajarkan saya tentang perjalanan yang terputus.
2002 mengajarkan saya keberanian untuk kembali.
2006 mengajarkan bahwa kembali tidak selalu berarti berhasil.
2022 mengajarkan bahwa seseorang masih dapat memulai kembali meskipun usia dan keadaan sudah berubah.
Dan 2026 mengajarkan bahwa keberhasilan akademik tidak seharusnya membuat perjalanan berhenti.
Kini saya memahami bahwa yang paling penting bukan sekadar berapa lama seseorang menempuh pendidikan, berapa banyak buku yang dibaca, atau gelar apa yang akhirnya tertulis di belakang nama.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dilakukan semua pengetahuan itu terhadap diri kita?
Apakah kita menjadi lebih bijaksana?
Lebih mampu memahami orang lain?
Lebih teliti dalam mengambil keputusan?
Lebih rendah hati ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum kita pahami?
Lebih bertanggung jawab ketika pengetahuan memberi kita kuasa?
Jika tidak, mungkin pendidikan kita baru sampai pada tahap sarjana, belum sampai pada sujana.
Sebab sarjana adalah capaian pendidikan, sedangkan sujana adalah capaian pembentukan manusia.
Sarjana dapat diraih pada suatu hari dan ditandai dengan wisuda. Tetapi kesujanaan tidak mengenal toga, seremoni, ataupun tanggal kelulusan. Ia diuji setiap hari melalui perkataan, keputusan, sikap, dan cara kita memperlakukan kehidupan.
Maka, bagi saya, perjalanan pendidikan bukan lagi sekadar perjalanan dari tidak tahu menjadi tahu.
Ia adalah perjalanan dari tahu menuju paham, dari paham menuju sadar, dari sadar menuju bijaksana, dan dari kebijaksanaan menuju perilaku.
Pengetahuan yang tidak menjadi perilaku hanyalah informasi.
Ilmu yang tidak melahirkan kebijaksanaan hanyalah kepandaian.
Dan gelar yang tidak membentuk budi pada akhirnya hanya menjadi nama tambahan di belakang nama.
Barangkali di situlah makna terdalam dari sarjana yang sujana: bukan manusia yang merasa telah sampai, melainkan manusia yang terus mengolah pengetahuan, rasa, dan pengalaman agar dirinya semakin layak disebut manusia.
Sebab yang paling penting dari pendidikan bukanlah membuat seseorang tampak pintar, melainkan membuat kepandaiannya berguna, kebijaksanaannya terasa, dan ilmunya menjelma menjadi laku.
Dengan penuh rasa syukur, penulis memanjatkan puji dan terima kasih kepada Allah SWT atas segala rahmat, pertolongan, dan jalan yang diberikan hingga perjalanan panjang ini sampai pada satu titik yang patut disyukuri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan dalam ilmu, akhlak, dan kehidupan.
Terima kasih yang mendalam penulis sampaikan kepada Mursyid kami di TQN Suryalaya, Syekh Ahmad Sohibulwafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom), atas keteladanan dan warisan nilai yang menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual sekaligus intelektual penulis. Ajaran dan keteladanan beliau menjadi pengingat bahwa ilmu tidak semata-mata menambah pengetahuan, tetapi juga menuntun manusia untuk mengenali, mengolah, dan mempertanggungjawabkan dirinya.
Kepada Abah dan Ibu, penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas pengertian, kesabaran, dan kasih sayang yang senantiasa diberikan. Terima kasih karena selalu memahami pilihan dan perjalanan anaknya, bahkan ketika jalan yang ditempuh tidak selalu mudah untuk dijelaskan. Terima kasih pula kepada Uwak dan keluarga, istri dan anak, mertua dan adik ipar, serta saudara-saudara kandung yang senantiasa menjadi bagian dari perjalanan hidup ini. Dukungan keluarga, baik yang hadir dalam kata maupun dalam diam, merupakan kekuatan yang tidak ternilai.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman dan sahabat yang telah hadir dalam berbagai fase kehidupan: Hendra, Munir, Baesudin, Dr. Dedi Kurnia Syah, Dr. Kristina (Kei), Dr. Indiawan, Dr. Nana Suryana, Atma Drakonia, Ujang (Jay), Kandidat Doktor Wahyu Mustajab, teman-teman di PWI Kabupaten Tangerang, serta seluruh sahabat yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Setiap perjumpaan, percakapan, dukungan, bahkan perbedaan pandangan telah meninggalkan warna tersendiri dan ikut membentuk cara penulis melihat kehidupan.
Penghormatan dan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada para guru yang telah meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan intelektual: Bambang Haryoko, Dr. Emmanuel Subangun, dan Rocky Gerung. Dari mereka, penulis belajar bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan terus berlangsung melalui dialog, kegelisahan, perdebatan, perjumpaan dengan gagasan, dan keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap telah selesai.
Kepada Bapak Ananta Wahana dan Bapak Sofyan Sapar, Bapak Soma Atmaja, Bapak Ahmed Zaki Iskandar, sahabat sekaligus sosok yang penulis anggap seperti orang tua, terima kasih atas perhatian, ketulusan, nasihat, dan persahabatan yang telah melampaui batas hubungan pertemanan. Kehadiran dan kepedulian yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan yang tidak selalu mudah ini.
Terima kasih penulis sampaikan pula kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang, Dr. Warsito, M.Si para dosen di Universitas Muhammadiyah Tangerang, khususnya Dr. Mirza Shahreza dan Dr. Eko Purwanto, Dr. Abdul Basit, Dr. Eko Wahyono, (alm) Dr. Tantry Widiyanarti, M.Si, Yoppy Perdana Kusumam, M.I.Kom, Korry El Yana, M.I.K, Ade Rahmah, M.I.kom, Fitri Susiswani Isbandi, M.I.kom, Hamidi, M.I.K serta seluruh staf akademik Ilkom FISIP UMT, atas ilmu, bimbingan, perhatian, dan ruang intelektual yang diberikan selama proses pendidikan. Setiap pertemuan akademik, diskusi, dan proses pembelajaran telah memperkaya perjalanan penulis, bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai pembelajar.
Kepada teman-teman satu angkatan yang telah menjadi bagian dari perjalanan akademik ini: Bang Wira, Bang Rusdy, Bang Juki, Bang Majid, Dek Ayi, Bang Gara, Bang Jojo, Remon, Khaidar, serta seluruh teman seperjalanan yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaan, diskusi, canda, perdebatan, dan berbagai pengalaman yang membuat perjalanan akademik ini terasa lebih manusiawi. Di tengah kesibukan dan tuntutan akademik, kebersamaan kalian menjadi bagian yang membuat perjalanan ini memiliki cerita.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa tidak ada perjalanan intelektual yang benar-benar ditempuh sendirian. Di balik setiap pencapaian terdapat doa, pengorbanan, nasihat, perjumpaan, pertolongan, bahkan kekecewaan yang diam-diam turut membentuk diri. Apa yang hari ini tampak sebagai sebuah pencapaian sesungguhnya merupakan hasil dari begitu banyak tangan, hati, dan pikiran yang pernah hadir dalam perjalanan.
Karena itu, tulisan ini tidak semata-mata menjadi catatan tentang apa yang telah penulis pelajari. Ia juga merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang pernah hadir, mengajar, mengingatkan, menemani, menguatkan, bahkan menggugat cara berpikir penulis. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia baca dan pelajari, tetapi juga oleh siapa yang ia temui dan bagaimana ia memaknai setiap perjumpaan.
Semoga setiap kebaikan, perhatian, ilmu, doa, dan ketulusan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal yang terus mengalir serta mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan terima kasih.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, Alumni Ilkom FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang, Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University. (*)