LIXIL Day of Architecture & Design 2026 Dorong Kolaborasi untuk Masa Depan Arsitektur Berkelanjutan

waktu baca 4 menit
Jumat, 14 Agu 2026 21:39 20 Redaksi

TANGERANG | TD — LIXIL mendorong kolaborasi lintas perspektif untuk membangun masa depan arsitektur yang lebih berkelanjutan melalui LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2026). Mengusung tema “ARCHIPELAGO DIALOGUES: Architecture as a Space of Co-Creation”, forum edisi keempat ini mempertemukan arsitek, praktisi desain, pelaku industri, dan profesional dari Indonesia maupun mancanegara.

LDAD 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana arsitektur dapat menjawab perubahan masyarakat, tantangan lingkungan, perkembangan teknologi, serta kebutuhan akan kualitas ruang hidup yang lebih baik. Melalui dialog dan kolaborasi, LIXIL menempatkan arsitektur bukan sekadar sebagai produk akhir, melainkan sebagai proses yang melibatkan berbagai perspektif.

“Bagi kami, LDAD lebih dari sekadar sebuah acara. LDAD merupakan kontribusi LIXIL bagi komunitas arsitektur dan desain Indonesia, sekaligus mencerminkan komitmen kami untuk terus tumbuh bersama industri. Kami melihat antusiasme yang luar biasa, di mana jumlah registrasi tahun ini bahkan melampaui kapasitas yang tersedia,” ujar Audrey Yeo, Leader LIXIL Water Technology APAC.

Mengangkat gagasan arsitektur sebagai ruang co-creation, LDAD 2026 menghadirkan empat sesi diskusi yang mempertemukan perspektif lokal dan global mengenai masa depan arsitektur.

Pada sesi pertama, Richard Wood, Managing Director Asia Snøhetta, menekankan pentingnya menghasilkan karya yang memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Menurutnya, arsitektur tidak hanya berkaitan dengan bangunan, tetapi juga bagaimana ruang menjadi platform bagi kehidupan publik serta membangun hubungan manusia dengan lingkungannya.

Wood memperkenalkan konsep “ecotone”, yaitu ruang pertemuan antara fenomena atau karakter yang berbeda. Dalam konteks arsitektur, konsep tersebut menggambarkan pertemuan berbagai manusia, perspektif, dan keahlian yang dapat menghasilkan ruang serta gagasan baru melalui proses kolaboratif.

Perspektif mengenai pentingnya memahami konteks diperkuat Gregorius Supie, Principal Yolodi+Maria Architects, pada sesi kedua. Ia menjelaskan bahwa bentuk arsitektur tidak selalu harus ditentukan sejak awal, tetapi dapat berkembang melalui proses observasi dan pemahaman terhadap kehidupan di sekitarnya.

Menurutnya, proses desain perlu dimulai dengan membaca berbagai aspek di suatu lokasi, mulai dari kondisi alam, kebutuhan masyarakat, budaya, pemilihan material, hingga karakter iklim. Pendekatan tersebut memungkinkan arsitektur menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan lingkungan.

Sementara itu, Andra Matin, Principal andramatin studio, pada sesi ketiga menunjukkan bagaimana tradisi, material lokal, dan prinsip arsitektur tropis dapat diterjemahkan ke dalam karya kontemporer.

Ventilasi alami, elemen peneduh, lanskap, serta ruang sosial menjadi bagian dari strategi desain untuk menciptakan bangunan yang memiliki identitas sekaligus responsif terhadap iklim dan kebutuhan penggunanya.

Pembahasan mengenai masa depan arsitektur kemudian berlanjut pada perkembangan teknologi bersama Patrik Schumacher, Principal ZHA, pada sesi keempat. Ia menjelaskan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu perancangan, tetapi juga berpotensi mengubah cara arsitektur dirancang, dikembangkan, dan digunakan.

Platform digital seperti metaverse, virtual reality (VR), dan gaming engines memungkinkan proses kolaborasi berlangsung secara lebih interaktif sejak tahap awal. Berbagai rancangan dapat dieksplorasi dan disesuaikan secara virtual sebelum diwujudkan secara fisik.

Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menghasilkan rancangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan sekaligus mengurangi potensi investasi yang tidak diperlukan. Perangkat digital dengan parameter struktural dan material juga dapat membantu memastikan konfigurasi rancangan tetap layak secara teknis, termasuk membuka peluang produksi secara prefabrikasi.

“Masing-masing pembicara membawa sudut pandang berbeda, namun keseluruhan sesi menunjukkan satu kesamaan, bahwa arsitektur tidak dibentuk secara tunggal. Setiap ilmu dapat saling melengkapi dalam menjawab tantangan tata ruang yang semakin dinamis. Dialog, pemahaman serta kolaborasi merupakan kunci penting dalam membentuk arsitektur yang relevan, solutif, dan berkelanjutan,” ujar Arfindi Batubara, Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia.

LADC 2026 Apresiasi Karya Arsitektur Terbaik

Rangkaian LDAD 2026 kemudian ditutup dengan acara puncak yang menjadi panggung penghargaan bagi karya-karya terbaik dalam LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026.

Kompetisi yang diinisiasi LIXIL Water Technology Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) tersebut menjadi wadah bagi arsitek profesional dan talenta muda untuk merespons berbagai persoalan nyata tata ruang melalui gagasan desain.

Pada Professional Category, Juara I diraih karya LADC_P_130 berjudul “Pagar Laut: Reclaiming Our Coastline”, hasil rancangan Ar. Iqbal Nurhidayat (IAI), Fahry Triza Nugraha, dan Imam Darmawan Putra.

Sementara itu, Student Category menempatkan karya LADC_M_063 berjudul “ei peowu: Catalyzing Resilience Across Sabu Raijua” sebagai Juara I. Karya tersebut dirancang oleh Melvino Anindra Bagaswara, S.Ars., Bayu Putra Setiawan, dan Muhammad Fathur Rahman.

Selain diskusi dan penghargaan LADC 2026, LDAD 2026 turut menghadirkan sejumlah aktivitas pendukung, antara lain 10×10 Archinesia, LADC 2026 Exhibition Area yang menampilkan karya-karya terpilih peserta kompetisi, serta LIXIL Product Display Area.

Seluruh rangkaian tersebut, menurut Arfindi, merupakan bagian dari komitmen LIXIL melalui semangat “Better Homes for Everyone, Everywhere” untuk mendorong terciptanya kualitas ruang hidup yang lebih baik.

“Seluruh strategi dan inisiatif yang kami hadirkan berangkat dari komitmen LIXIL, ‘Better Homes for Everyone, Everywhere’. Di LIXIL, kami percaya bahwa menghadirkan ruang hidup yang lebih baik tidak berhenti pada produk dan solusi fungsional yang menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika seluruh pemangku kepentingan dapat semakin saling memahami dan bersinergi, ekosistem akan menjadi lebih kuat, sehingga bersama-sama kita dapat menciptakan perubahan yang lebih berarti hari ini dan untuk masa depan,” pungkas Arfindi. (*)

LAINNYA