Urgensi Membaca untuk Memperkaya Dialog Batin

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Apr 2026 10:12 56 Redaksi

KOLOM | TD — Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, manusia adalah makhluk yang nyaris mustahil berhenti berkomunikasi. Bahkan ketika seseorang memilih diam, sesungguhnya ia tetap berbicara—setidaknya dengan dirinya sendiri. Di dalam kepala, selalu ada suara yang bekerja: menimbang, mengingat, merencanakan, mencemaskan, atau mengulang percakapan yang telah berlalu. Itulah komunikasi intrapersonal, percakapan sunyi yang justru paling riuh.

Sebelum kata keluar dari mulut, ia terlebih dahulu lahir di ruang batin. Sebelum seseorang menyetujui, menolak, marah, atau mencintai, semua itu telah melewati dialog dengan dirinya sendiri. Karena itu, manusia sesungguhnya lebih sering berkomunikasi dengan dirinya sendiri daripada dengan orang lain. Gemuruh di dalam diri kerap jauh lebih dahsyat daripada hiruk-pikuk dunia luar.

Masalah muncul ketika dialog batin miskin bahan bakar. Pikiran yang tidak diperkaya mudah berputar pada lingkaran yang sama: prasangka, kecemasan, dan kesimpulan-kesimpulan dangkal. Akibatnya, komunikasi interpersonal pun ikut terganggu. Sulit memahami orang lain jika seseorang belum selesai memahami dirinya sendiri.

Di titik inilah membaca menemukan urgensinya. Membaca bukan sekadar kegiatan akademis atau cara mengisi waktu luang. Ia adalah upaya memperkaya ruang batin, menyediakan bahan bakar bagi percakapan dengan diri sendiri. Ketika membaca, seseorang sedang berdialog dengan penulis, gagasan, pengalaman, bahkan dengan peradaban yang melampaui ruang dan waktu.

Namun, membaca bukan hanya peristiwa intelektual, melainkan juga peristiwa eksistensial. Ia tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menggugat, membongkar, lalu menyusun ulang cara kita memandang diri dan dunia. Setiap halaman yang dibaca sesungguhnya adalah perjumpaan antara pengalaman penulis dan kesadaran pembaca.

Dalam perspektif komunikasi, membaca adalah dialog yang melampaui teks. Ia menghadirkan komunikasi ekstrapersonal yang kemudian bertransformasi menjadi komunikasi intrapersonal. Gagasan dari luar masuk ke dalam diri, lalu diperdebatkan, direnungkan, diterima, atau bahkan ditolak. Di sanalah membaca menjadi pengalaman yang hidup.

Tidak jarang, sebuah buku mampu mengungkap sesuatu yang selama ini hanya kita rasakan, tetapi belum mampu kita ucapkan. Keresahan memperoleh nama. Kebingungan menemukan bentuk. Perasaan yang semula kabur menjadi lebih terang. Membaca memberi kosakata bagi pikiran dan kedalaman bagi refleksi.

Seseorang yang selesai membaca sesungguhnya tidak pernah benar-benar sama dengan dirinya ketika membuka halaman pertama. Ada perspektif yang bergeser, keyakinan yang diuji, bahkan identitas yang dipertanyakan. Membaca, pada akhirnya, bukan hanya tentang memahami teks, tetapi juga tentang memahami diri sendiri.

Itulah sebabnya membaca memiliki nilai yang jauh melampaui pengetahuan. Ia melatih kita untuk menunda penilaian, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan merawat kerendahan hati intelektual. Orang yang terbiasa membaca cenderung lebih sabar mendengar, lebih jernih berpikir, dan lebih bijak berbicara.

Pada akhirnya, kualitas komunikasi kita dengan orang lain sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi kita dengan diri sendiri. Dan kualitas dialog batin sangat bergantung pada apa yang kita baca. Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan cara merawat kewarasan, memperluas kesadaran, dan memperhalus kemanusiaan. Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan berdialog dengan diri sendiri secara sehat adalah bentuk kecerdasan yang tak ternilai.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat Teks Filsafat dan Tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

 

LAINNYA