Ilustrasi gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). RELIGI | TD — Puncak kemuliaan akal bukanlah saat manusia merasa paling tahu, melainkan ketika ia menyadari betapa lemah dirinya di hadapan Allah SWT. Kesadaran itulah yang menuntun seorang hamba untuk memahami hakikat hidup: bahwa segala yang dimiliki berasal dari Allah, bergantung kepada Allah, dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Hal paling berharga dari akal adalah kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang kerap berbuat zalim kepada diri sendiri. Allah yang menciptakan kita (ijad), Allah pula yang memenuhi segala kebutuhan kita (imdad), tetapi sering kali kita belum sepenuhnya bergantung kepada-Nya (faqr). Kita menikmati karunia-Nya, tetapi hati masih mudah tertambat pada selain-Nya.
Saat hidup menyempit, barulah kita merasa tak berdaya. Kita menangis, memohon agar dilapangkan. Namun, betapa sering setelah kesempitan itu berlalu, kita kembali pada tabiat lama: lupa bahwa dahulu pernah diselamatkan dari prahara, lalu sibuk mengabdi kepada hawa nafsu. Seolah-olah keselamatan itu hasil kekuatan sendiri, bukan rahmat Allah semata.
Maka, benarkah kita telah benar-benar menghamba kepada Allah SWT? Jika iya, sudahkah setiap langkah kita diniatkan lillahi ta’ala—hanya untuk Allah, bukan untuk pujian, pengakuan, apalagi keuntungan duniawi?
Mencintai karena Allah, bekerja karena Allah, berbuat baik karena Allah, beribadah karena Allah—bukan semata karena menginginkan pahala, apalagi surga. Sebab cinta yang sejati tidak selalu bertanya tentang imbalan. Ia tunduk karena mengenal, ia patuh karena mencintai.
Menyerahkan keputusan akhir hanya kepada Allah. Ketika hidup menghadirkan tugas berat, kita menerimanya dengan lapang dada. Ketika diberi kelapangan, kita tidak lupa daratan. Sebab kita tahu, yang memberi kesempitan dan kelapangan adalah Zat yang sama: Allah Yang Maha Bijaksana.
Jika diibaratkan sebagai seorang pekerja, maka seluruh amal kita dilakukan semata-mata demi Allah. Bahkan seandainya tidak ada upah, kita tetap akan bekerja dengan riang, sebab yang kita cari bukan bayaran, melainkan keridaan-Nya.
Lalu, jika kesadaran itu telah tumbuh, masih pantaskah hati sepenuhnya berharap kepada makhluk? Saat seorang pekerja menerima gaji, apakah ia masih ingat bahwa hakikat rezeki itu datang dari Allah? Saat seorang pedagang memperoleh keuntungan, apakah ia sadar bahwa Allah-lah yang menggerakkan hati para pembeli? Saat seorang pemimpin dihormati, apakah ia memahami bahwa kemuliaan itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali?
Hakikat penghambaan adalah menembus sebab menuju Musabbib al-Asbab, Sang Penyebab dari segala sebab. Makhluk hanyalah perantara; Allah adalah sumber. Tangan boleh bekerja di dunia, tetapi hati harus tetap bergantung kepada-Nya.
Kita berikhtiar seolah semuanya bergantung pada usaha, tetapi kita bertawakal karena sadar bahwa hasil sepenuhnya milik Allah. Ketika pujian datang, kita tahu itu bukan milik kita. Ketika celaan menghampiri, kita sadar penilaian manusia tidak menentukan nilai kita di hadapan-Nya.
Saat rezeki mengalir, kita bersyukur. Saat tertahan, kita bersabar. Sebab keduanya adalah bentuk kasih sayang Allah yang hadir dalam rupa berbeda.
Menghambakan diri kepada Allah bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Harta boleh dimiliki, tetapi jangan sampai memiliki kita. Jabatan boleh diraih, tetapi jangan sampai menguasai nurani. Cinta kepada manusia boleh tumbuh, tetapi jangan sampai menggeser cinta kepada Sang Pencipta.
Pada akhirnya, kesempurnaan akal bukan terletak pada seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan pada seberapa dalam kita menyadari keterbatasan diri di hadapan Allah. Bahwa kita lemah, fakir, dan senantiasa membutuhkan-Nya.
Maka, selama napas masih berhembus, teruslah belajar menjadi hamba: hamba yang bekerja tanpa pamrih, mencintai tanpa syarat, memberi tanpa menghitung, dan berserah tanpa syak.
Sebab ketika hati benar-benar mengenal Allah, ia tak lagi sibuk mencari pengakuan makhluk. Ia tenang, karena tahu bahwa ridha Allah adalah tujuan, dan Allah sendiri adalah sebaik-baik tempat kembali.
Penulis: Wahyu Nur Rahman. (*)