JAKARTA | TD — Survei nasional terbaru IndexPolitica menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap 1,5 tahun kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencapai 70,77 persen.
Meski tergolong tinggi, capaian tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan hasil survei pada Oktober 2025.
Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo, menyebut angka itu sebagai indikator berakhirnya fase awal euforia politik pasca-pemilu.
“Mayoritas masyarakat masih memberikan legitimasi kuat terhadap jalannya pemerintahan. Namun, tren penurunan ini menandakan masa ‘bulan madu’ politik telah berakhir,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, publik kini mulai beralih dari ekspektasi menuju tuntutan realisasi janji kampanye, terutama pada kebijakan yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
IndexPolitica juga mencatat tingkat ketidakpuasan sebesar 25,63 persen yang dinilai berpotensi meningkat apabila terjadi tekanan ekonomi di masa mendatang.
Dalam penilaian sektoral, bidang ekonomi, infrastruktur, dan pangan menjadi yang paling diapresiasi publik. Tiga menteri dengan tingkat kepuasan tertinggi adalah Purbaya Yudhi Sadewa (76,12 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (73,70 persen), dan Nusron Wahid (72,40 persen).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program prioritas yang paling diminati publik dengan angka 19,40 persen. Tingkat kepuasan di kalangan penerima manfaat mencapai 67,45 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok non-penerima sebesar 36,51 persen.
Di sisi lain, survei ini juga menyoroti sejumlah catatan penting. Sebanyak 72,85 persen responden menilai subsidi BBM belum tepat sasaran, sehingga diperlukan evaluasi kebijakan untuk mengurangi potensi kebocoran anggaran.
Kebijakan luar negeri turut mendapat perhatian. Keputusan Presiden Prabowo untuk bergabung dengan Board of Peace dinilai belum memperoleh dukungan mayoritas publik, yang cenderung menginginkan pendekatan non-blok dan fokus pada kepentingan domestik.
Selain itu, terjadi pergeseran dalam pola konsumsi informasi masyarakat. Media sosial menjadi sumber utama dengan 45,60 persen, mengungguli televisi (35,12 persen) dan media online (9,12 persen).
Survei ini dilaksanakan pada 5–18 April 2026 dengan melibatkan 1.610 responden yang tersebar di seluruh provinsi. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error ±1,6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)