Komdigi Perkuat Perlindungan Remaja di Ruang Digital lewat Kampanye #SalingJagaTunasBangsa

waktu baca 4 minutes
Kamis, 22 Jan 2026 18:11 0 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperkuat upaya perlindungan remaja di ruang digital melalui Kampanye #SalingJagaTunasBangsa, sebagai bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Kampanye ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan ruang digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Sebelumnya, kampanye ini sukses digelar di Jakarta pada 25 November 2025 dan Bandung pada 19 Desember 2025 dengan menghadirkan ratusan peserta di setiap kota. Antusiasme yang tinggi, khususnya dari kalangan orang tua dan tenaga pendidik, mencerminkan meningkatnya kesadaran publik terhadap urgensi perlindungan remaja di tengah masifnya penggunaan platform digital.

Kampanye #SalingJagaTunasBangsa menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi atas masih adanya kesenjangan keterampilan digital di masyarakat. Tidak semua orang tua dan pendidik memiliki kecakapan digital yang memadai, padahal mereka merupakan pihak terdekat dalam keseharian remaja. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan peran keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai pendamping utama agar aktivitas remaja di ruang digital tetap aman dan positif.

Rangkaian ketiga kampanye ini digelar di Kota Tangerang Selatan melalui kolaborasi Komdigi dengan TikTok Indonesia pada Selasa, 20 Januari 2025. Kegiatan tersebut menjadi langkah konkret untuk memperluas jangkauan sosialisasi sekaligus memperkuat implementasi PP TUNAS di daerah dengan populasi remaja yang tinggi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci terciptanya pengalaman digital yang aman dan konstruktif bagi generasi muda.

“Ruang digital layaknya jalan terbuka yang penuh peluang bagi remaja. PP TUNAS hadir untuk memastikan ruang tersebut tetap aman tanpa membatasi hak berekspresi, sekaligus menjamin akses informasi yang tepat. Dengan sinergi yang kuat, termasuk bersama penyelenggara sistem elektronik seperti TikTok, kita dapat menciptakan generasi muda yang semakin cakap digital,” ujarnya dilansir Kamis, 22 Januari 2025.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan turut mengapresiasi pelaksanaan kampanye ini. Melalui sambutan tertulis Wali Kota yang disampaikan oleh Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, disampaikan komitmen pemerintah daerah untuk memperluas implementasi inisiatif ini hingga menjangkau tenaga pendidik dan masyarakat luas. Sebagai kota dengan demografi remaja yang tinggi, Tangerang Selatan dinilai strategis dalam penguatan perlindungan anak di ruang digital.

Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi langsung bersama para ahli, mulai dari perwakilan penyelenggara sistem elektronik, pembuat kebijakan, psikolog, hingga kreator parenting. Peserta tidak hanya diajak memahami pentingnya membangun komunikasi terbuka dengan remaja, tetapi juga dibekali kecakapan digital yang krusial untuk memitigasi berbagai risiko di ruang digital.

Sebagai mitra strategis pemerintah, TikTok Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung perlindungan remaja. Head of Public Policy & Government Relations TikTok Indonesia, Hilmi Adrianto, menyampaikan bahwa keamanan pengguna, khususnya remaja, merupakan prioritas utama platform tersebut.
“Melalui penguatan fitur keamanan, edukasi literasi digital bagi remaja dan orang tua, serta kolaborasi dengan para ahli dan pemangku kepentingan, kami berupaya menghadirkan pengalaman digital yang positif. Kami mengapresiasi sinergi Komdigi dalam kampanye #SalingJagaTunasBangsa demi menciptakan ekosistem digital yang aman bagi generasi emas Indonesia,” ungkapnya.

Mendukung kolaborasi strategis ini, Lampu.id menggandeng lebih dari 20 komunitas sebagai mitra penggerak untuk mengamplifikasi pesan PP TUNAS. Kampanye ini menjadi sarana edukasi agar orang tua semakin mampu memperkuat perannya dalam membimbing dan mengawasi aktivitas digital remaja. Sinergi lintas komunitas ini diharapkan dapat terus diperluas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Salah seorang peserta, Taufiq, Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam dunia digital anak, khususnya saat memasuki usia remaja. Menurutnya, literasi digital orang tua dan komunikasi yang sehat dalam keluarga merupakan fondasi utama terbentuknya keluarga yang cakap digital.

“Kami sering menemukan orang tua yang merasa menyerah karena menganggap dirinya gaptek dan enggan belajar. Akibatnya, tidak sedikit yang justru dikelabui, bahkan perangkat digitalnya disalahgunakan oleh anak. Kami mengajak orang tua untuk terus belajar literasi digital, terutama digital parenting—pokoknya No Gaptek Gaptek Club,” ujar Taufiq.

Ia juga menyoroti kebiasaan memberikan gawai tanpa batasan waktu kepada anak di ruang publik. Menurutnya, konsumsi video pendek secara berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif jangka panjang, terutama terhadap kemampuan fokus anak.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap kesadaran orang tua terus tumbuh dan dibumikan ke seluruh penjuru negeri. Dengan begitu, berbagai risiko dari media sosial, aplikasi percakapan, maupun gim yang tidak laik bagi anak dapat dicegah sejak dini, terutama terkait rating, regulasi, batasan, dan dampak negatif lainnya,” pungkasnya. (*)

LAINNYA