Saatnya Petani Jadi Pebisnis: Membangun Pertanian Modern Berbasis Pasar

waktu baca 5 minutes
Kamis, 19 Jun 2025 18:29 0 Patricia Pawestri

PERTANIAN | TD – Selama bertahun-tahun, narasi tentang petani di Indonesia tidak banyak berubah. Mereka merupakan gambaran pekerja keras, yang berkutat dengan tanah dari pagi hingga petang, namun tetap hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Padahal, petani adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional.

Ironisnya, merekalah yang paling rentan terhadap fluktuasi harga, gagal panen, dan tekanan pasar. Paradigma ini harus berubah. Petani Indonesia harus dilihat sebagai pelaku usaha—pebisnis sejati—yang mampu memanfaatkan teknologi, memahami mekanisme pasar, dan mengambil keputusan berbasis data. Membangun pertanian modern berbasis pasar dapat mengubah petani menjadi lebih sejahtera.

Transformasi ini sudah menjadi kebutuhan. Di tengah arus globalisasi dan perubahan iklim, sektor pertanian Indonesia harus menjadi lebih adaptif, efisien, dan kompetitif. Statistik menunjukkan bahwa pada Januari hingga Maret 2025, luas panen padi nasional meningkat 52% dari tahun sebelumnya, sementara produksi beras naik 52,3% menjadi 8,67 juta ton. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa potensi sektor ini luar biasa besar jika pengelolaannya profesional dan berbasis pasar.

Bagaimana Menjadikan Petani Sebagai Pelaku Bisnis Sejati

Langkah awal dari transformasi ini adalah perubahan cara pandang. Petani harus melihat lahan dan tanaman sebagai aset yang bernilai ekonomi, bukan sekadar warisan atau beban keluarga. Pola pikir bisnis mendorong petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen, menekan biaya produksi, dan merancang strategi pemasaran yang menguntungkan. Inilah fondasi petani sebagai pebisnis.

Namun, perubahan pola pikir saja tidak cukup. Adanya ekosistem pendukung yang kuat membantu petani membentuk dirinya sendiri menjadi ideal. Salah satu tantangan utama petani Indonesia adalah minimnya akses informasi pasar. Banyak dari mereka tidak mengetahui harga riil komoditas di tingkat konsumen atau pedagang besar. Situasi ini membuat mereka terpaksa menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga rendah. Posisi tawar yang lemah ini bisa menjadi lebih kuat melalui teknologi.

Penggunaan Teknologi Mendukung Pertanian Menjadi Lebih Mudah

Pemanfaatan teknologi informasi menjadi kunci. Aplikasi pertanian pintar kini sudah mulai digunakan untuk memberikan informasi harga real-time, prediksi cuaca, hingga rekomendasi penggunaan pupuk dan varietas tanaman. Di berbagai wilayah, sudah ada penggunaan drone untuk menyemprot lahan dan memantau pertumbuhan tanaman. Sensor tanah dan sistem irigasi cerdas meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Ini semua adalah bagian dari pertanian presisi yang menjadi ciri khas petani masa depan.

Contoh sukses bisa dilihat dari model “Village Hub” yang dikembangkan oleh Willie Smits di Sulawesi. Program ini berhasil mengintegrasikan ribuan petani dalam sistem produksi gula aren yang ramah lingkungan. Dengan model ini, petani tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mengakses pasar global melalui jaringan distribusi yang transparan dan adil.

Koperasi dan Kelompok Tani Menjadi Pendorong Petani Menjadi Berdaya

Selain teknologi, penguatan kelembagaan petani juga sangat penting. Koperasi dan kelompok tani berbasis bisnis memberikan manfaat skala ekonomi: akses permodalan, pembelian input pertanian secara kolektif, dan kekuatan tawar dalam penjualan. Program “Petani Milenial” yang telah melibatkan lebih dari 35% generasi muda menjadi contoh bahwa pendekatan kelembagaan modern efektif dalam meningkatkan kinerja petani.

Tidak hanya itu, hilirisasi dan penciptaan nilai tambah dari produk pertanian harus menjadi agenda utama. Pada 2023, subsektor perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, dan kopi menyumbang sekitar Rp735,9 triliun ke PDB pertanian. Ekspor sektor ini juga mencapai Rp700 triliun pada 2024. Program biodiesel B40 yang berbasis kelapa sawit diprediksi menambah nilai Rp90 triliun dan membuka 500 ribu lapangan kerja baru. Jika petani terlibat dalam proses hilirisasi ini, maka nilai ekonomi yang mereka terima pun akan jauh lebih besar.

Transformasi ini juga harus melibatkan pendidikan dan pelatihan. Kurikulum pertanian harus memasukkan materi kewirausahaan, digitalisasi, dan pengelolaan agribisnis. Petani muda perlu berkenalan dengan konsep pertanian berkelanjutan, presisi, dan berbasis teknologi. Generasi muda harus melihat bahwa pertanian bukan lagi tentang cangkul dan lumpur, tetapi tentang data, inovasi, dan strategi bisnis.

Masalah besar lainnya adalah ketimpangan dalam rantai pasok. Petani berada di hulu, tetapi pelaku di hilir seperti tengkulak dan perusahaan besar menikmati margin keuntungan yang jauh lebih besar. Untuk mengatasi ini, perlu dibangun kemitraan yang sehat antara petani dan pelaku usaha melalui kontrak pertanian, pengolahan bersama, atau koperasi desa berbasis industri. Dengan demikian, pendapatan petani menjadi lebih adil dan berkelanjutan.

Pertanian Harus Ramah Lingkungan

Selain aspek ekonomi, keberlanjutan lingkungan juga tidak boleh diabaikan. Pendekatan agribisnis harus berjalan seiring dengan pelestarian sumber daya alam. Penggunaan teknologi irigasi hemat air, pertanian organik, dan agroforestri adalah langkah-langkah konkret menuju pertanian yang ramah lingkungan.

Di tengah semua peluang ini, pemerintah tetap memegang peran penting. Program perluasan lahan 3 juta hektare, integrasi data antara Kementan dan BPS, serta prediksi musim tanam dari BMKG adalah infrastruktur kebijakan yang harus terus dikembangkan. Swasta juga perlu berperan aktif dengan menyediakan akses pasar, pembiayaan, dan teknologi.

Pertanian modern berbasis pasar adalah jawaban atas tantangan zaman. Ini bukan sekadar transformasi cara bertani, tetapi juga transformasi sosial, ekonomi, dan budaya. Petani harus menjadi pebisnis. Mereka harus menjadi aktor utama dalam sistem pangan nasional, bukan hanya penerima bantuan. Hal ini dapat tercapai jika terdapat kerja sama yang erat dari pemerintah dengan petani bersama stakeholder lainnya. Dan, bila sinergi ini tercipta maka Indonesia akan memiliki pertanian yang mandiri, berkelanjutan, dan dapat diandalkan.

Saatnya petani jadi pebisnis. Saatnya kita menatap masa depan pertanian dengan penuh optimisme dan strategi yang nyata.

Penulis: Kanesya Revalina Hirani, Mahasiswa Prodi Agribisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Patricia

LAINNYA