BeritaKulinerUMKM

Nata de Coco, Olahan Buah Kelapa Favorit dari Filipina

88
×

Nata de Coco, Olahan Buah Kelapa Favorit dari Filipina

Sebarkan artikel ini
Nata de coco menjadi bahan campuran es buah yang enak. (Foto: Instagram @tjhiuwong)
Bagikan:

KULINER | TD – Salah satu olahan buah kelapa yang cukup populer adalah nata de coco. Jenis penganan mirip jeli berwarna putih ini sering digunakan sebagai bahan campuran minuman dan puding atau agar-agar.

Nata de coco, sebagai produk turunan dari air buah kelapa, memiliki banyak kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Di antaranya vitamin B dan C, kalsium, magnesium, fosfor, lemak, protein, dan karbohidrat.

Kandungan serat dalam nata de coco juga sangat menyehatkan dan membantu pencernaan untuk tetap sehat.

Penamaan dalam bahasa Spanyol nata de coco, yang berarti ‘krim kelapa’, berasal dari sejarah ditemukannya penganan ini tahun 1973 di Filipina. Adapun, Filipina merupakan daerah eks jajahan Spanyol. Jadi, bahasa tersebut biasa digunakan dalam keseharian masyarakat di sana.

Kala itu, dalam sebuah ember tempat menampung air kelapa dan sisa asam asetat (cuka) yang akan dibuang, seorang pria asli Filipina, secara tak sengaja menemukan air kelapa tersebut berubah menjadi kenyal dan mempunyai rasa yang bisa diterima lidah.

Karena tertarik dengan teksturnya, pria tersebut kemudian mencoba mengolah air kelapa sebagai bahan utama yang ia temukan pada materi makanan tersebut di atas.

Pada 1975, setelah menghasilkan paduan yang pas, ia kemudian menjualnya sebagai camilan, dan menyebutnya dengan ‘nata de coco‘.

Proses Pembuatan Nata de Coco

Dalam pembuatan nata de coco, air kelapa difermentasikan dengan memberi bibit atau bakteri Acetobacter xylinum. Bibit atau bakteri ini menghasilkan enzim yang mampu mengubah glukosa dalam air kelapa menjadi serat-serat nata.

Serat-serat ini kemudian menyatu dengan kompak membentuk materi yang mirip dengan jeli dengan tekstur kenyal dan tidak mudah merepih.

Setelah menjadi, nata de coco dipanaskan untuk menghentikan proses fermentasi sekaligus mensterilkannya. Kemudian baru dipotong kotak-kotak kecil. Nata de coco direndam sekali lagi selama 3 hari, kemudian dipanaskan dalam air mendidih selama 10 menit.

Untuk mencegah kerusakan, nata de coco yang masih panas setelah perebusan langsung dikemas ke dalam pouch atau cup bersama air rebusannya. Penutupan kemasan dan sterilisasi juga dilakukan untuk menjaga agar tidak ada kontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan nata de coco rusak.  (Pat)

Bagikan: