KKN UMT Berakhir di Blendung, Mahasiswa Ubah Botol Bekas Jadi Bank Sampah

waktu baca 4 menit
Kamis, 20 Agu 2026 19:56 49 Nazwa

TANGERANG | TD — Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) di Kelurahan Blendung, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, resmi berakhir pada Kamis, 20 Agustus 2026. Penutupan kegiatan sekaligus laporan akhir program kerja tersebut diwarnai dengan pemaparan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pemanfaatan botol bekas menjadi wadah bank sampah.

Kegiatan berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB dan ditutup oleh Lurah Blendung, Asep Ubaidillah, S.Sos. Program bank sampah dilaksanakan mahasiswa bersama warga RT 03/RW 08 sebagai salah satu bentuk pengabdian di bidang lingkungan.

Lurah Blendung Asep Ubaidillah (kiri) bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Terpadu Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) dalam acara penutupan KKN di Kantor Kelurahan Blendung, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Kamis (20/8/2026). (Foto: Ist)

Program tersebut berangkat dari persoalan pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan permukiman. Mahasiswa KKN UMT tidak hanya memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah, tetapi juga mengajak warga terlibat langsung dalam membangun fasilitas sederhana yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Mahasiswa terlebih dahulu melakukan pengamatan lingkungan dan berdialog dengan pengurus RT serta warga untuk mengetahui kondisi dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Edukasi kemudian diberikan mengenai pengenalan jenis sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, dampak sampah terhadap lingkungan, serta pentingnya mengurangi dan memanfaatkan kembali barang bekas.

Program tersebut juga dipadukan dengan nilai-nilai keislaman. Kebersihan, amanah, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan menjadi bagian dari pendekatan yang diterapkan mahasiswa.

Botol Bekas Diubah Menjadi Wadah Sampah

Dalam praktiknya, mahasiswa bersama warga mengumpulkan botol air mineral bekas untuk diolah menjadi wadah sampah.

Botol-botol tersebut dipilah dan dibersihkan sebelum dirangkai menggunakan kawat hingga membentuk wadah. Setelah dicat, wadah ditempatkan di sejumlah rumah warga dengan pengaturan sekitar satu wadah untuk empat rumah.

Selain wadah sampah, mahasiswa bersama warga juga membangun bangunan bank sampah menggunakan material sederhana, seperti baja ringan, triplek, dan kawat.

Seluruh proses dilakukan secara gotong royong. Mahasiswa, pengurus lingkungan, dan warga terlibat mulai dari pengumpulan bahan, pembuatan rangka, pemasangan dinding hingga pengecatan.

Lurah Blendung, Asep Ubaidillah, S.Sos., mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa KKN UMT karena melibatkan masyarakat secara langsung dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Kami mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN UMT yang tidak hanya melaksanakan program, tetapi juga melibatkan warga dalam prosesnya. Program bank sampah ini diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat meskipun kegiatan KKN sudah selesai.”

Menurut Asep, keberlanjutan program menjadi hal penting agar fasilitas yang telah dibangun tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan wilayah tersebut.

“Yang paling penting bukan hanya pembangunan fasilitasnya, tetapi bagaimana masyarakat dapat menjaga dan memanfaatkannya bersama. Kami berharap kesadaran untuk memilah dan mengelola sampah ini menjadi kebiasaan di lingkungan warga.”

KKN Tidak Sekadar Meninggalkan Fasilitas

Dosen Pembimbing Lapangan KKN UMT, Dr. Zulkifli, MA., mengatakan program KKN harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat sekaligus mendorong mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi.

“KKN bukan hanya tentang mahasiswa datang ke masyarakat kemudian menjalankan program dan setelah itu selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut memberikan manfaat dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat.”

Ia menjelaskan, program bank sampah di Blendung juga menjadi sarana untuk menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan nilai-nilai keislaman.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa menjaga kebersihan dan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Nilai amanah, gotong royong, kepedulian dan tanggung jawab perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Menurut Zulkifli, keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan menjadi salah satu kunci keberlanjutan program.

“Ketika masyarakat ikut terlibat sejak awal, mereka akan merasa memiliki program tersebut. Karena itu, harapannya setelah mahasiswa kembali ke kampus, masyarakat tetap bisa menjalankan dan mengembangkan bank sampah ini secara mandiri.”

Dorong Perubahan Kebiasaan

Setelah fasilitas selesai dibangun, mahasiswa melakukan evaluasi bersama warga untuk melihat keterlibatan masyarakat dan kemampuan warga dalam memilah sampah secara mandiri.

Evaluasi tersebut dikaitkan dengan konsep muhasabah, yakni mengajak warga melihat kembali kebiasaan dalam mengelola sampah serta menentukan perubahan yang perlu dilakukan ke depan.

Sampah yang telah dipilah warga kemudian dikumpulkan di bank sampah untuk dipilah kembali berdasarkan jenis dan nilai ekonominya. Sampah yang masih memiliki nilai jual ditimbang dan dicatat sebelum dijual atau dikelola lebih lanjut.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Penutupan KKN UMT di Kelurahan Blendung pada Kamis, 20 Agustus 2026, menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Namun, program bank sampah yang dibangun bersama warga diharapkan tetap berjalan dan menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan. (*)

LAINNYA