Dari FYP ke Polarisasi: Membaca Politik di Balik Algoritma

waktu baca 6 menit
Minggu, 4 Okt 2026 15:40 131 Redaksi

BUKU | TD — Polarisasi, Algoritma TikTok, dan Kesehatan Mental Politik karya Umaimah Wahid dan Raden Wahyu Utomo Martianto hadir ketika media sosial tak lagi sekadar menjadi ruang hiburan. Di balik video pendek, tanda suka, komentar, dan halaman For You Page (FYP), berlangsung proses yang jauh lebih serius: bagaimana perhatian dibentuk, persepsi diarahkan, dan realitas politik dipahami.

Diterbitkan oleh Indigo Media, buku ini mengajak pembaca melihat TikTok dari perspektif yang berbeda. TikTok bukan semata tempat mencari hiburan atau mengikuti tren, melainkan sebuah ekosistem informasi yang bekerja melalui sistem algoritmik dan memiliki konsekuensi sosial maupun politik.

Dari sini muncul pertanyaan penting yang menjadi pintu masuk buku ini: ketika FYP terus menyajikan konten yang kita sukai, apakah algoritma sekadar memahami selera kita, atau secara perlahan ikut membentuk cara kita melihat dunia?

Dari Preferensi Menjadi Ruang Gema

Salah satu pembahasan penting dalam buku ini adalah fenomena echo chamber atau ruang gema. Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari perilaku pengguna, kemudian merekomendasikan konten yang dianggap sesuai dengan minat dan kebiasaannya.

Masalah muncul ketika relevansi berubah menjadi pengulangan.

Pengguna dapat semakin sering berhadapan dengan informasi, pendapat, dan perspektif yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus, pandangan yang berulang di layar dapat terasa sebagai pandangan yang paling umum, bahkan seolah menjadi satu-satunya pandangan yang masuk akal.

Buku ini mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Cass Sunstein mengenai echo chamber. Dalam konteks ini, algoritma tidak sekadar menentukan urutan konten, tetapi turut membentuk lingkungan informasi tempat seseorang menerima, menilai, dan menyimpulkan sesuatu tentang dunia di sekitarnya.

Meski demikian, ada satu catatan penting: algoritma tidak dapat ditempatkan sebagai satu-satunya penyebab polarisasi.

Preferensi pengguna, bias konfirmasi, lingkungan sosial, identitas kelompok, pengalaman politik, hingga keputusan individu dalam memilih dan mengonsumsi konten juga memiliki pengaruh. Hubungan antara manusia dan algoritma berlangsung secara timbal balik. Platform membaca perilaku pengguna, sementara perilaku pengguna pada saat yang sama dibentuk oleh apa yang disodorkan platform.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar algoritma versus manusia. Keduanya justru berada dalam satu siklus yang saling memengaruhi.

Ketika Politik Masuk ke FYP

Perubahan lanskap media membuat politik semakin sulit dipisahkan dari kehidupan digital sehari-hari. Konten politik dapat muncul di antara video hiburan, tren, promosi produk, hingga konten personal.

Batas antara ruang hiburan dan ruang politik pun menjadi semakin tipis.

Politik di media sosial juga tidak selalu hadir dalam bentuk argumentasi panjang atau diskusi yang serius. Ia dapat muncul melalui video singkat, potongan pernyataan, meme, komentar, maupun narasi yang dirancang untuk memancing reaksi cepat.

Dalam ekosistem semacam ini, perhatian menjadi komoditas penting. Konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna memiliki peluang lebih besar untuk terus beredar dan kembali direkomendasikan.

Di sinilah hubungan antara algoritma dan polarisasi menjadi relevan untuk dibicarakan.

Buku ini menunjukkan bagaimana sistem rekomendasi berpotensi memperkuat fragmentasi informasi ketika pengguna semakin lama berada dalam lingkungan konten yang relatif homogen. Namun, persoalan tersebut sekaligus melahirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah algoritma menciptakan polarisasi, atau justru memperkuat kecenderungan yang sebelumnya telah ada dalam diri pengguna?

Pertanyaan ini penting karena jawaban yang kita pilih akan menentukan bagaimana persoalan tersebut dipahami sekaligus bagaimana solusinya dirumuskan.

Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Juga Manusia

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya membawa pembahasan keluar dari persoalan teknologi menuju isu kesehatan mental politik.

Polarisasi bukan sekadar persoalan perbedaan pilihan atau pandangan politik. Ketika konflik dan pertentangan terus-menerus hadir di ruang digital, pengalaman seseorang dalam berpolitik pun dapat berubah.

Perdebatan yang tak kunjung selesai, serangan antarkelompok, konten provokatif, serta paparan informasi yang berlangsung tanpa henti dapat menciptakan lingkungan politik yang melelahkan.

Karena itu, kesehatan mental politik menjadi aspek penting dalam memahami dampak media sosial.

Buku ini menawarkan perspektif menarik bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa bebas seseorang menyampaikan pendapat, tetapi juga oleh kualitas ruang tempat perbedaan tersebut dipertemukan.

Media sosial semestinya dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif. Namun, ketika setiap orang semakin nyaman berada dalam lingkungan informasi yang hanya mengonfirmasi keyakinannya sendiri, ruang perjumpaan itu justru berpotensi semakin menyempit.

Keterbatasan yang Perlu Dicatat

Sebagai sebuah karya akademik, buku ini juga terbuka mengenai keterbatasan penelitiannya. Akses terhadap data algoritmik TikTok menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, penelitian lebih banyak menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis konten dan wawancara sehingga belum memberikan pengukuran kuantitatif mengenai dampak paparan politik terhadap pengguna.

Keterbukaan tersebut justru penting.

Pembahasan mengenai algoritma memang mudah tergelincir menjadi kesimpulan yang terlalu jauh. Ketika mekanisme algoritmik tidak dapat diamati secara utuh, hubungan sebab-akibat antara algoritma, perilaku pengguna, dan polarisasi perlu ditempatkan secara hati-hati.

Karena itu, penelitian lanjutan yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif akan menjadi penting. Penelitian semacam itu dapat membantu menjawab pertanyaan yang belum sepenuhnya terpecahkan: seberapa besar algoritma memengaruhi polarisasi, melalui mekanisme apa pengaruh itu bekerja, dan sejauh mana karakter pengguna ikut menentukan hasil akhirnya.

Literasi Digital sebagai Jalan Keluar

Buku ini tidak berhenti pada kritik terhadap platform. Penulis juga menawarkan sejumlah rekomendasi, antara lain peningkatan literasi digital, kemampuan mengenali bias algoritma, diversifikasi sumber informasi, transparansi algoritma, serta pemberian kontrol yang lebih besar kepada pengguna.

Rekomendasi tersebut relevan, meskipun masih terbuka ruang untuk menerjemahkannya secara lebih konkret.

Literasi digital, misalnya, tidak cukup dipahami sebatas kemampuan membedakan informasi benar dan salah. Pengguna juga perlu memahami mengapa sebuah konten muncul di hadapannya, bagaimana preferensinya dibaca oleh sistem, dan bagaimana kebiasaan digitalnya sendiri ikut menentukan rekomendasi berikutnya.

Dengan kesadaran semacam itu, pengguna tidak sepenuhnya menjadi objek yang pasif di hadapan algoritma.

Membaca Kembali FYP

Pada akhirnya, buku ini mengajak kita mengubah cara memandang FYP.

Selama ini FYP mungkin dipahami sebagai sesuatu yang sederhana: kumpulan video yang sesuai dengan minat kita. Padahal, di balik tampilan yang ringan tersebut terdapat mekanisme seleksi informasi yang menentukan apa yang kita lihat dan, secara tidak langsung, apa yang terus berada dalam perhatian kita.

Namun, algoritma juga tidak semestinya dijadikan kambing hitam tunggal.

Manusia memilih. Algoritma mempelajari pilihan tersebut. Kemudian, pilihan manusia kembali dipengaruhi oleh rekomendasi algoritma. Siklus inilah yang membuat hubungan antara teknologi dan perilaku manusia menjadi sekaligus menarik dan rumit.

Dalam konteks itulah Polarisasi, Algoritma TikTok, dan Kesehatan Mental Politik menjadi relevan, bukan hanya bagi mereka yang tertarik pada TikTok atau politik digital, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan antara teknologi, perilaku manusia, dan cara kita membangun realitas bersama.

Sebab, mungkin pertanyaan paling mendasar bukan lagi:

“Apa yang kita lihat di FYP?”

Melainkan:

“Mengapa kita terus melihatnya, dan bagaimana apa yang kita lihat perlahan memengaruhi cara kita memahami dunia?”

Pertanyaan sederhana itu membawa kita dari FYP menuju persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana algoritma, manusia, dan politik secara bersama-sama membentuk ruang tempat kita berpikir, menilai, dan menentukan apa yang kita anggap sebagai kenyataan. (Red)

LAINNYA