Penulis bersama Prof. Dr. Umaimah Wahid, M.Si, Guru Besar Ilmu Komunikasi, pengampu mata kuliah Perspektif dan Teori Ilmu Komunikasi pada Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM), Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif (FKDK), Budi Luhur University. (Foto: Dok. Penulis)
OPINI | TD — Semakin jauh membaca perkembangan ilmu komunikasi, semakin terasa bahwa komunikasi bukan sekadar persoalan tentang bagaimana pesan disampaikan dari seseorang kepada orang lain, bagaimana media digunakan untuk menyebarkan pesan, atau bagaimana khalayak memberikan respons terhadap pesan tersebut. Di balik berbagai teori yang selama ini kita pelajari, ternyata terdapat cara pandang tertentu tentang manusia, tentang bahasa, tentang hubungan individu dengan masyarakat, bahkan tentang bagaimana manusia memahami kenyataan yang dihadapinya. Karena itu, mempelajari teori komunikasi pada akhirnya tidak cukup hanya dengan menghafal nama tokoh, konsep, variabel, atau model komunikasi, sebab yang jauh lebih penting adalah memahami asumsi-asumsi yang diam-diam bekerja di belakang setiap teori tersebut.
Pada awal perkembangannya sebagai disiplin ilmu, komunikasi banyak mengambil teori dan metode dari bidang pengetahuan lain seperti psikologi, sosiologi, ilmu politik, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar karena komunikasi memang berada di persimpangan berbagai pengalaman manusia, tetapi dalam perkembangannya komunikasi kemudian berusaha menemukan kemandirian sebagai sebuah disiplin yang tidak hanya menjadi tempat bagi teori-teori ilmu lain, melainkan mampu menghasilkan teori sendiri untuk menjelaskan berbagai persoalan komunikasi yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh disiplin lain.
Perjalanan menuju kemandirian tersebut sebenarnya memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu berada dalam proses pencarian identitas, sebab sebuah disiplin tidak pernah lahir dalam ruang yang kosong, melainkan tumbuh dari sejarah, kebudayaan, kebutuhan masyarakat, serta cara manusia pada suatu zaman memahami dirinya sendiri. Karena itu, ketika komunikasi berkembang di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan berbagai wilayah lainnya, ia tidak serta-merta menghasilkan bentuk teori yang sama, sebab setiap masyarakat membawa pengalaman sejarah dan tradisi berpikir yang berbeda ke dalam cara mereka memahami komunikasi.
Di Amerika Serikat, misalnya, perkembangan penelitian komunikasi sangat kuat dipengaruhi oleh pendekatan kuantitatif yang berusaha menjadikan komunikasi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan sosial yang dapat diteliti secara sistematis melalui pengukuran, survei, eksperimen, serta analisis hubungan antara berbagai variabel. Sementara itu, perkembangan pemikiran komunikasi di Eropa banyak mendapatkan pengaruh dari pemikiran Marxis, teori kritis, dan pendekatan kultural yang tidak hanya tertarik pada pertanyaan mengenai apakah sebuah pesan berhasil memengaruhi khalayak, tetapi juga mempertanyakan siapa yang memiliki kekuasaan dalam produksi pesan, kepentingan apa yang berada di balik sebuah wacana, bagaimana ideologi bekerja melalui media, serta bagaimana komunikasi dapat membentuk kesadaran sosial.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa teori komunikasi ternyata tidak sesederhana kumpulan konsep yang berlaku secara universal dan dapat digunakan begitu saja di mana pun manusia berada, karena teori juga lahir dari pengalaman kebudayaan tertentu dan membawa cara tertentu dalam melihat manusia serta kenyataan. Ketika kita menggunakan sebuah teori, sesungguhnya kita bukan hanya menggunakan sebuah alat analisis, melainkan pada saat yang sama sedang menggunakan cara pandang yang melahirkan alat analisis tersebut.
Di sinilah pembahasan mengenai perbedaan tradisi komunikasi Barat dan Timur menjadi menarik, bukan karena kita harus memilih salah satunya dan kemudian menganggap yang lain keliru, melainkan karena perbedaan itu membuka kesempatan bagi kita untuk melihat bahwa satu kenyataan dapat dipahami melalui lebih dari satu jalan. Dalam kecenderungan tertentu, teori komunikasi Barat lebih banyak memberikan perhatian kepada individu, rasionalitas, tujuan, tindakan yang disengaja, serta kemampuan manusia untuk mengambil keputusan secara sadar, sementara sejumlah tradisi Timur lebih cenderung melihat manusia sebagai bagian dari keseluruhan hubungan yang lebih luas, sehingga komunikasi tidak selalu dipahami sebagai tindakan individual yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi juga sebagai sesuatu yang muncul secara alamiah dari hubungan manusia dengan manusia lainnya dan dengan lingkungan kehidupannya.
Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya berangkat dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar metode penelitian, yaitu bagaimana kita memahami manusia. Jika manusia dipandang terutama sebagai individu yang berdiri sendiri, memiliki kepentingan, kehendak, dan tujuan personal, maka komunikasi akan mudah dipahami sebagai proses ketika seseorang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan maksud tertentu dan kemudian melihat bagaimana pesan tersebut menghasilkan efek. Namun, apabila manusia dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kehidupan, yang keberadaannya selalu berhubungan dengan keluarga, masyarakat, kebudayaan, alam, sejarah, bahkan dalam tradisi tertentu dengan dimensi spiritual, maka komunikasi tidak lagi cukup dipahami sebagai proses perpindahan pesan dari satu titik ke titik lainnya.
Komunikasi kemudian menjadi sesuatu yang jauh lebih luas, karena manusia tidak hanya berkomunikasi melalui kata-kata, melainkan juga melalui diam, sikap, kehadiran, simbol, kebiasaan, hubungan sosial, bahkan melalui cara ia menempatkan dirinya di tengah kehidupan. Dalam pengertian seperti ini, komunikasi bukan semata-mata persoalan tentang bagaimana seseorang mengatakan sesuatu kepada orang lain, melainkan juga tentang bagaimana manusia hadir, memahami, merasakan, dan memberikan makna terhadap keberadaannya di tengah dunia.
Pada titik inilah saya mulai merasa bahwa belajar teori komunikasi seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat berbagai model dan konsep, sebab setiap teori sebenarnya membawa asumsi tertentu mengenai apa yang dianggap penting, apa yang dianggap nyata, bagaimana manusia dianggap bertindak, serta bagaimana pengetahuan dianggap dapat diperoleh. Sebuah teori yang memandang manusia sebagai individu rasional tentu akan menghasilkan pertanyaan dan metode yang berbeda dari teori yang memandang manusia sebagai bagian dari jaringan hubungan sosial dan kebudayaan, sementara teori yang membuka ruang bagi pengalaman emosional dan spiritual tentu akan melihat komunikasi dengan cara yang berbeda pula dari teori yang hanya mengakui sesuatu sebagai pengetahuan apabila dapat diukur secara empiris.
Karena itu, teori tidak pernah benar-benar hanya menjadi alat untuk membaca kenyataan; teori juga ikut menentukan dari mana kita melihat kenyataan tersebut. Kita sering merasa sedang membaca dunia melalui teori, padahal dalam waktu yang sama teori sedang mengajari kita tentang bagian mana dari dunia yang harus diperhatikan, bagian mana yang dianggap penting, dan bagian mana yang mungkin luput dari pandangan kita karena tidak sesuai dengan kerangka berpikir yang sedang digunakan.
Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika kita berbicara tentang bahasa, karena bahasa selama ini sering dipahami hanya sebagai alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain, padahal bahasa bukan sekadar kendaraan yang membawa pikiran dari satu kepala menuju kepala yang lain. Bahasa juga ikut membentuk cara kita mengenali dunia, sebab melalui bahasa kita memberi nama, membuat kategori, membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain, menyusun konsep, dan kemudian menggunakan konsep-konsep tersebut untuk memahami kenyataan yang kita hadapi.
Karena itu, ketika kita mengatakan bahwa sesuatu adalah benar, salah, baik, buruk, rasional, irasional, nyata, atau tidak nyata, sebenarnya kita sedang menggunakan seperangkat kategori yang dibentuk melalui pengalaman bahasa dan kebudayaan tertentu. Kita perlu menyadari bahwa apa yang mampu kita katakan dengan bahasa belum tentu mencakup seluruh apa yang mampu kita alami, sebab ada pengalaman manusia yang begitu dalam sehingga ketika dipaksa masuk ke dalam kata-kata, sebagian dari pengalaman tersebut justru kehilangan maknanya.
Di sinilah tradisi pemikiran Timur memberikan ruang bagi sebuah kegelisahan yang penting, terutama ketika ia tidak menempatkan rasio dan bahasa sebagai satu-satunya pintu menuju pengetahuan. Hal tersebut tentu tidak berarti bahwa rasio harus ditolak atau bahwa logika tidak penting, melainkan bahwa rasio mungkin memiliki batas, bahasa mungkin memiliki keterbatasan, dan pengalaman manusia mungkin jauh lebih luas daripada kemampuan konsep untuk menjelaskannya.
Kesadaran mengenai keterbatasan tersebut justru menurut saya merupakan bagian penting dari proses berpikir, karena manusia yang menyadari batas pikirannya akan lebih berhati-hati dalam menganggap apa yang dipahaminya sebagai keseluruhan kebenaran. Sebaliknya, manusia yang menganggap konsepnya sebagai kenyataan itu sendiri akan mudah terjebak dalam apa yang selama ini saya pahami sebagai berhala pikiran, yaitu ketika gagasan yang seharusnya digunakan untuk membaca kenyataan justru berubah menjadi sesuatu yang membuat kita tidak mampu lagi melihat kenyataan di luar gagasan tersebut.
Maka, membaca perbedaan teori komunikasi Barat dan Timur akhirnya membawa saya pada pertanyaan yang lebih personal: dari mana sebenarnya cara berpikir yang selama ini saya gunakan untuk memahami dunia? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena saya hidup di Asia, tumbuh dalam kebudayaan yang memiliki sejarah pemikiran sendiri, menggunakan bahasa yang lahir dari pengalaman masyarakat sendiri, tetapi dalam pendidikan formal justru banyak berhadapan dengan teori dan konsep yang lahir dari pengalaman sejarah masyarakat lain.
Tidak ada yang salah dengan mempelajari pemikiran Barat, sebab pengetahuan memang tidak seharusnya dikurung oleh batas geografis dan kebudayaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita mempelajari sebuah teori tanpa pernah bertanya dari mana teori tersebut berasal, pengalaman manusia seperti apa yang melahirkannya, persoalan sosial apa yang hendak dijawabnya, serta asumsi tentang manusia seperti apa yang dibawanya. Pada saat itulah belajar teori dapat berubah menjadi menerima teori, dan menerima teori tanpa kemampuan untuk mengkritisinya dapat membuat kita menjadi tawanan teori itu sendiri.
Karena itu, mencari kembali akar pemikiran dari tanah Asia bukan berarti menolak Barat dan menggantikannya dengan Timur, sebab cara berpikir seperti itu hanya akan menciptakan pertentangan baru yang sama sempitnya. Yang jauh lebih penting adalah membangun ruang dialog, yaitu mempelajari Barat tanpa kehilangan kesadaran sebagai manusia yang tumbuh dalam pengalaman Asia, menggunakan rasionalitas tanpa mematikan pengalaman, menerima teori tanpa kehilangan keberanian untuk mengujinya, serta menghargai ilmu pengetahuan tanpa menjadikannya sebagai dogma baru yang tidak boleh dipertanyakan.
Mungkin di situlah ilmu komunikasi seharusnya berkembang, bukan hanya sebagai ilmu yang mengajarkan bagaimana pesan dibuat, disampaikan, diterima, dan menghasilkan efek, tetapi juga sebagai ilmu yang berani mempertanyakan manusia yang berada di balik seluruh proses komunikasi tersebut. Sebelum bertanya bagaimana manusia berkomunikasi, kita mungkin perlu bertanya terlebih dahulu siapa manusia yang sedang berkomunikasi, kebudayaan apa yang membentuk pikirannya, bahasa apa yang membentuk cara ia melihat dunia, pengalaman apa yang membentuk maknanya, serta nilai-nilai apa yang membuat sebuah pesan menjadi berarti bagi dirinya.
Pada akhirnya, semakin dalam mempelajari teori komunikasi, semakin terasa bahwa yang sedang kita pelajari bukan hanya cara manusia menyampaikan pesan kepada manusia lain, melainkan juga cara manusia memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, dan memahami kenyataan yang menjadi tempat seluruh pengalaman itu berlangsung.
Dan mungkin karena itu pula, belajar teori komunikasi pada akhirnya bukan sekadar belajar membaca pesan, melainkan belajar membaca manusia; sementara membaca manusia mengharuskan kita terlebih dahulu belajar membaca diri sendiri, termasuk membaca berbagai teori, ideologi, bahasa, dan keyakinan yang selama ini diam-diam telah membentuk cara kita memandang dunia.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University. (*)