Ketika Hermeneutika Turun Layar dan Pertarungan Berpindah ke Ontologi Media

waktu baca 9 menit
Senin, 28 Sep 2026 09:41 38 Redaksi

OPINI | TD — Ada masa ketika manusia begitu sibuk mencari makna. Kita membaca teks, menafsirkan simbol, membongkar tanda, mencari konteks, lalu bertanya tentang maksud yang tersembunyi di balik sebuah kata atau peristiwa. Hermeneutika tumbuh dari kegelisahan semacam itu: bagaimana manusia memahami sesuatu yang tidak pernah hadir begitu saja, melainkan selalu datang melalui bahasa, pengalaman, sejarah, dan sudut pandang orang yang membacanya.

Namun, zaman tidak pernah benar-benar tinggal diam.

Hari ini, manusia tidak hanya hidup bersama teks, tetapi semakin banyak hidup di dalam layar. Kita bangun tidur dan mencari layar, bekerja melalui layar, membaca berita melalui layar, berbicara melalui layar, bahkan sering kali memastikan keberadaan diri melalui layar. Dunia yang dahulu kita alami secara langsung semakin sering hadir sebagai gambar, potongan video, notifikasi, komentar, angka, tanda suka, dan berbagai bentuk representasi digital yang bergerak begitu cepat, seolah-olah manusia tidak lagi diberi cukup waktu untuk berhenti dan bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Di titik inilah gagasan guru kami, Dr. Emmanuel Subangun, tentang being is no more.menjadi menarik untuk dibaca kembali. Pernyataan itu membawa kita pada kegelisahan yang lebih luas: apakah manusia hari ini masih terutama sibuk mempertanyakan apa sesuatu itu, atau justru telah masuk ke wilayah yang berbeda, yakni bagaimana sesuatu dibentuk sehingga tampil sebagai sesuatu yang dianggap nyata?

Perubahan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa makna dari berita ini?” Kita mulai perlu bertanya, “Bagaimana berita ini diproduksi, melalui bahasa apa, melalui medium apa, mengapa ia menjadi viral, siapa yang membuatnya terlihat, dan mengapa berita lain justru tenggelam tanpa pernah kita ketahui?” Ketika pertanyaan semacam itu muncul, perhatian kita perlahan bergeser dari isi menuju proses, dari pesan menuju kondisi yang memungkinkan pesan tersebut hadir dan memperoleh perhatian.

Dengan demikian, persoalan tidak berhenti pada makna. Persoalan bergerak lebih jauh kepada proses pembentukan makna.

Dan ketika pertanyaan bergeser seperti itu, kita memasuki wilayah yang menurut saya jauh lebih menarik: ontologi media.

Dari Teks Menuju Medium

Selama bertahun-tahun kita terbiasa memahami media sebagai alat. Surat kabar adalah alat untuk menyampaikan berita, radio untuk menyampaikan suara, televisi untuk menyampaikan gambar, dan media sosial untuk menyampaikan berbagai macam informasi secara cepat. Cara pandang seperti itu secara tidak langsung menempatkan media sebagai sesuatu yang netral, seolah-olah pesan telah selesai dibuat dan media hanya bertugas mengantarkannya dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Tetapi pengalaman kita hari ini menunjukkan sesuatu yang berbeda. Media tidak hanya membawa pesan. Ia ikut menentukan bagaimana pesan dapat muncul, beredar, mendapatkan perhatian, dan akhirnya dianggap penting. Sebuah gagasan yang sangat panjang dapat kalah oleh satu kalimat pendek, argumen yang membutuhkan pembacaan serius dapat tenggelam oleh sebuah video beberapa detik, sementara pengetahuan yang membutuhkan ketekunan dapat kalah menarik dibandingkan kontroversi yang mampu mengundang ribuan komentar.

Di sini persoalannya bukan lagi sekadar isi pesan, melainkan struktur yang memungkinkan pesan tertentu menjadi terlihat, sementara pesan lainnya tidak terlihat. Apa yang muncul di hadapan kita bukan seluruh kenyataan, melainkan kenyataan yang telah melewati berbagai proses pemilihan, penyusunan, pembingkaian, dan distribusi.

Itulah sebabnya membicarakan media hanya sebagai teknologi terasa semakin tidak memadai. Media telah masuk lebih jauh ke dalam kehidupan manusia. Ia ikut membentuk cara kita melihat dunia, mengatur perhatian, membangun persepsi, dan menentukan apa yang perlahan kita anggap penting, biasa, benar, atau layak dipercaya.

Kita merasa sedang menggunakan media. Namun, pada saat yang sama, media juga sedang membentuk kita.

Manusia yang Mengonsumsi Paket Data

Ada sebuah gagasan menarik dalam rangkaian pemikiran Dr. Emmanuel Subangun tentang manusia modern yang mengonsumsi pulsa atau paket data. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin seperti permainan bahasa. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ia menyimpan pertanyaan yang cukup mengganggu tentang hubungan manusia dengan media yang setiap hari dikonsumsinya.

Kita membeli pulsa dan paket data untuk berkomunikasi. Kita membeli paket data agar dapat mengakses dunia. Kita menghabiskan waktu di depan layar untuk membaca, menonton, berbicara, bekerja, mencari hiburan, bahkan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar diri kita. Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain: sebenarnya siapa yang sedang menggunakan siapa?

Apakah kita menggunakan media, atau media sedang menggunakan perhatian kita?

Setiap kali membuka layar, kita meninggalkan jejak. Apa yang kita baca, apa yang kita sukai, apa yang kita cari, apa yang kita bagikan, bahkan berapa lama kita berhenti pada sebuah gambar, semuanya dapat menjadi bagian dari ekosistem data. Pada tahap tertentu, manusia tidak lagi hanya menjadi pembaca atau penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari mekanisme produksi media itu sendiri.

Kita menghasilkan konten, tetapi sekaligus menghasilkan data. Kita mencari informasi, tetapi sekaligus memberikan informasi tentang diri kita. Kita merasa sedang memilih apa yang ingin dilihat, sementara pilihan tersebut pada saat yang sama ikut membentuk sistem yang menentukan apa yang kemungkinan besar akan ditampilkan kepada kita berikutnya.

Di sinilah pertarungan ontologis itu mulai terasa. Yang dipertarungkan bukan hanya informasi, melainkan perhatian manusia dan cara manusia mengalami kenyataan.

Dari “Apa” Menuju “Mengapa” dan “Bagaimana”

Dalam pemahaman yang saya pelajari dari Dr. Emmanuel Subangun, terdapat penekanan menarik mengenai perbedaan antara quiditas dan quia. Secara sederhana, kita dapat membacanya sebagai pergeseran dari pertanyaan tentang “apa” menuju pertanyaan mengenai “mengapa” dan bagaimana sesuatu dapat menjadi demikian.

Bagi saya, ini bukan sekadar permainan istilah filsafat. Ia sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah berita viral, misalnya, pertanyaan kita biasanya berhenti pada isi berita: apa yang terjadi? Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: mengapa berita itu yang viral, bagaimana ia menjadi viral, siapa yang pertama kali menyebarkannya, bahasa macam apa yang membuat orang terdorong untuk membagikannya, dan mengapa sebuah peristiwa tertentu memperoleh perhatian luar biasa sementara peristiwa lain yang mungkin sama pentingnya tidak mendapatkan ruang yang sama?

Begitu pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan, kita sudah bergerak dari sekadar membaca isi menuju membaca kondisi pembentukan kenyataan media. Kita mulai menyadari bahwa apa yang hadir di hadapan kita bukan sekadar hasil dari sebuah peristiwa, melainkan juga hasil dari proses yang menentukan bagaimana peristiwa itu diberi bentuk, diberi bahasa, diberi perhatian, lalu beredar sebagai informasi.

Inilah yang membuat ontologi media menjadi penting. Media bukan lagi hanya tempat kita menemukan realitas. Media perlahan menjadi salah satu ruang tempat realitas diproduksi, dinegosiasikan, dipertentangkan, dan memperoleh legitimasi.

Bahasa Bukan Sekadar Kendaraan

Pada titik ini, gagasan tentang svara-vyanjana-sastra yang muncul dalam pemikiran Dr. Emmanuel Subangun menjadi semakin menarik. Bahasa tidak semata-mata dipahami sebagai kendaraan yang membawa pikiran dari kepala seseorang menuju kepala orang lain. Bahasa memiliki kekuatan untuk membentuk apa yang dapat kita pikirkan dan bagaimana sesuatu dapat dikatakan.

Kita sering mengira bahwa pikiran sudah selesai terlebih dahulu, lalu bahasa datang untuk mengungkapkannya. Tetapi dalam banyak keadaan, justru bahasa yang tersedia ikut menentukan bagaimana pikiran itu terbentuk. Kita tidak hanya memakai bahasa; dalam arti tertentu, bahasa juga membentuk kita.

Hal yang sama terjadi pada media. Media sosial tidak hanya menyediakan tempat bagi manusia untuk berbicara, tetapi perlahan mengajari manusia bagaimana berbicara agar didengar. Kalimat harus mudah dipahami, judul harus menarik perhatian, gambar harus memiliki daya tarik, dan pendapat sering kali harus segera ditempatkan dalam posisi tertentu. Sesuatu yang membutuhkan penjelasan panjang mudah kehilangan perhatian ketika berhadapan dengan sesuatu yang dapat dipahami dalam beberapa detik.

Lama-kelamaan, yang berubah bukan hanya pesan, tetapi juga kebiasaan kita dalam menyusun pikiran dan menyampaikannya. Kita mulai terbiasa dengan kecepatan, ringkasan, potongan informasi, dan respons seketika. Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius daripada sekadar persoalan teknologi, karena yang sedang berubah bukan hanya alat komunikasi, melainkan lingkungan tempat manusia membentuk cara berpikirnya.

Dari Javanologi Menuju “Indonish”

Hal lain yang menarik dari pemikiran tersebut adalah kritik terhadap sejarah produksi pengetahuan tentang Indonesia. Pada masa kolonial, Nusantara—terutama Jawa—dipelajari melalui berbagai perangkat pengetahuan yang dikembangkan oleh para orientalis, indolog, dan javanolog. Setelah Indonesia merdeka, situasinya berubah. Bahasa Inggris dan berbagai paradigma ilmu modern semakin dominan dalam pendidikan dan penelitian. Kita memperoleh banyak manfaat dari perkembangan tersebut dan tidak ada alasan untuk menutup diri terhadap pengetahuan dari luar.

Namun, ada pertanyaan yang patut terus dipelihara: apakah kita sedang menggunakan pengetahuan untuk memahami pengalaman kita sendiri, atau justru sedang menyesuaikan pengalaman kita agar cocok dengan kerangka pengetahuan yang sudah tersedia?

Istilah “Indonish” dalam pemikiran Subangun terasa menarik justru karena sifatnya yang menyentil. Ia menggambarkan percampuran bahasa dan paradigma yang telah menjadi bagian dari kehidupan intelektual Indonesia modern. Persoalannya bukan bahasa Inggrisnya, melainkan ketika penggunaan bahasa dan teori dari luar tidak lagi disertai kesadaran kritis terhadap cara berpikir yang dibawanya.

Kita bisa saja mengganti istilah, menerjemahkan buku, mengutip banyak pemikir asing, dan memenuhi tulisan dengan istilah akademik. Tetapi semua itu belum tentu berarti kita telah menghasilkan cara berpikir sendiri.

Modernisasi pengetahuan tidak otomatis berarti kemerdekaan berpikir.

Mungkin di sinilah tantangan intelektual kita hari ini: bukan menolak pengetahuan dari luar, melainkan mampu berdialog dengannya tanpa kehilangan kemampuan untuk membaca pengalaman sendiri. Pengetahuan dari luar dapat menjadi jendela, tetapi pengalaman sendiri tetap membutuhkan bahasa untuk berbicara.

Hermeneutika Tidak Harus Mati

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik mengatakan bahwa hermeneutika telah mati. Barangkali hermeneutika hanya turun layar. Ia tidak lagi menjadi satu-satunya panggung untuk memahami dunia karena di hadapannya telah muncul medan baru yang memaksa kita mengajukan pertanyaan berbeda.

Hermeneutika bertanya tentang makna. Ontologi media membawa kita kepada kondisi yang membuat makna itu mungkin muncul, beredar, dipercaya, dan menjadi kenyataan. Perbedaannya tampak kecil, tetapi konsekuensinya cukup jauh. Ketika kita mulai mempertanyakan medium, kita tidak lagi hanya membaca pesan, tetapi juga membaca struktur yang membuat pesan itu mungkin.

Kita mulai melihat bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai ruang pembentukan pengetahuan. Kita mulai melihat media bukan hanya sebagai saluran informasi, tetapi sebagai lingkungan tempat manusia membangun persepsi tentang dirinya dan dunia. Pada titik itulah pertanyaan mengenai media tidak lagi berhenti pada teknologi, melainkan kembali kepada manusia yang hidup di dalamnya.

Dan akhirnya kita sampai pada pertanyaan yang mungkin paling mengganggu: manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh media yang setiap hari kita konsumsi?

Barangkali inilah pertarungan intelektual yang sesungguhnya: bukan sekadar pertarungan antara teori lama dan teori baru, melainkan pertarungan tentang kemampuan manusia memahami bagaimana kenyataan dapat terlihat, dibahasakan, dipercaya, dan akhirnya diterima sebagai sesuatu yang benar.

Dulu kita sibuk menafsirkan teks. Sekarang kita harus mulai belajar membaca layar, sebab di balik layar bukan hanya terdapat informasi. Di sana ada bahasa, teknologi, perhatian, kepentingan, algoritma, pengetahuan, dan manusia yang sedang dibentuk olehnya.

Dan mungkin tepat di sanalah hermeneutika menemukan alasan untuk turun layar: bukan karena dunia sudah tidak membutuhkan tafsir, melainkan karena objek yang harus kita tafsirkan kini bukan hanya teks, tetapi seluruh ruang yang membuat teks itu dapat hadir sebagai kenyataan.

Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, pengagum pemikiran dan murid Dr. Emmanuel Subangun, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Budi Luhur University. (*)

 

LAINNYA