Mengapa Banyak UMKM Salah Membaca Permintaan Pasar? Saatnya Mengandalkan Data, Bukan Sekadar Insting

waktu baca 3 menit
Sabtu, 27 Jun 2026 20:35 34 Redaksi

PRISMA | TD — Mengapa ada UMKM yang selalu kehabisan stok saat produknya sedang laris, sementara UMKM lain justru terpaksa memberikan potongan harga karena barang menumpuk di gudang? Fenomena seperti ini masih sering ditemui di berbagai daerah, termasuk Tangerang dan Banten. Penyebabnya bukan semata-mata kualitas produk, melainkan ketidakmampuan pelaku usaha membaca perubahan permintaan pasar. Akibatnya, produksi sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen sehingga peluang memperoleh keuntungan hilang, sementara biaya penyimpanan justru meningkat.

Di era digital, perilaku konsumen berubah sangat cepat. Tren yang muncul di media sosial, promosi melalui marketplace, hingga perubahan daya beli masyarakat dapat mengubah permintaan suatu produk hanya dalam hitungan hari, bahkan jam. Dalam situasi seperti ini, keputusan bisnis yang hanya mengandalkan pengalaman atau insting menjadi semakin berisiko.

Padahal, peran UMKM sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan UMKM beradaptasi terhadap perubahan pasar turut menentukan ketahanan ekonomi nasional.

Di Provinsi Banten sendiri, tantangan tersebut semakin nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat Kabupaten Tangerang memiliki 16.979 usaha industri mikro dan kecil (IMK). Jumlah yang besar ini mencerminkan tingginya tingkat persaingan sehingga kemampuan memahami kebutuhan pasar menjadi salah satu faktor utama keberlangsungan usaha.

Lantas, mengapa masih banyak UMKM keliru membaca permintaan pasar?

Setidaknya ada tiga penyebab utama. Pertama, keputusan produksi masih banyak didasarkan pada intuisi tanpa didukung pencatatan dan analisis data penjualan. Kedua, pelaku usaha belum sepenuhnya mengikuti perubahan perilaku konsumen yang dipengaruhi tren digital maupun kondisi ekonomi. Ketiga, pemanfaatan teknologi analitik untuk memperkirakan permintaan masih relatif rendah, terutama pada UMKM berskala kecil.

Contoh nyata dapat dilihat pada penyelenggaraan Al-A’zhom Ramadan Fest 2025 di Kota Tangerang yang menghadirkan puluhan stan UMKM kuliner dan fesyen. Momentum Ramadan mendorong lonjakan permintaan berbagai produk. Pelaku usaha yang telah memperkirakan kebutuhan pasar sejak awal mampu memenuhi permintaan dan meningkatkan penjualan. Sebaliknya, mereka yang kurang siap berisiko kehabisan stok atau terlambat memenuhi pesanan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pola permintaan musiman sebenarnya dapat dipelajari melalui data penjualan dan tren konsumsi pada tahun-tahun sebelumnya.

Dalam dunia bisnis, proses memperkirakan kebutuhan pasar dikenal sebagai demand forecasting atau peramalan permintaan. Tujuannya bukan untuk menebak masa depan secara pasti, melainkan mengurangi ketidakpastian melalui analisis data historis, tren penjualan, faktor musiman, serta perubahan perilaku konsumen. Dengan demikian, keputusan produksi dapat dilakukan secara lebih tepat dan efisien.

Kabar baiknya, peramalan permintaan kini tidak lagi identik dengan teknologi yang rumit atau biaya yang mahal. Pelaku UMKM dapat memulai dari langkah sederhana, seperti mencatat penjualan secara rutin, memanfaatkan Google Trends untuk melihat tren pencarian, menggunakan fitur analitik yang tersedia di marketplace, hingga memanfaatkan berbagai platform kecerdasan buatan (AI) generatif maupun analitik bisnis untuk mengolah data dan menyusun proyeksi permintaan. Teknologi bukanlah pengganti pengalaman, melainkan alat pendukung agar keputusan bisnis menjadi lebih akurat.

Pada akhirnya, perubahan pasar tidak pernah menunggu kesiapan pelaku usaha. UMKM yang mampu bertahan bukan hanya mereka yang memiliki produk berkualitas, tetapi juga mereka yang mampu memahami pelanggan lebih cepat melalui pemanfaatan data. Di tengah persaingan yang semakin dinamis, kemampuan membaca permintaan pasar bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan kebutuhan bagi setiap pelaku usaha yang ingin terus tumbuh, beradaptasi, dan memenangkan persaingan di era ekonomi digital.

Penulis:
Alya Fitri Andini, Ignesz Jazzlyn T. Siagian, Maharani Supriyadi
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Referensi

— Badan Pusat Statistik Provinsi Banten.

— Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

—Pemerintah Kota Tangerang. Al-A’zhom Ramadan Fest 2025. (*)

LAINNYA