
Poster resmi film Yang Datang dan Yang Pergi menampilkan Dian Sastrowardoyo sebagai Sinta, bersama Roy Sungkono dan Dimas Aditya. Film garapan Nurman Hakim dan Nan Achnas ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 3 Desember 2026. (Foto: Ist) FILM | TD – Romantisme antara Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono menjadi daya tarik utama film terbaru Yang Datang dan Yang Pergi. Namun, di balik kisah kedekatan dua karakter tersebut, tersimpan cerita tentang rahasia keluarga, kenangan masa lalu, serta perjalanan seorang perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Film persembahan Triximages dan Dash Pictures ini mempertemukan Dian sebagai Sinta dan Roy sebagai Banawan. Keduanya terlibat dalam kisah yang berpusat pada sebuah guest house tua peninggalan keluarga Sinta, tempat berbagai pertemuan, perpisahan, harapan, dan persoalan masa lalu saling berkelindan.
Official trailer yang telah dirilis memperlihatkan kehidupan Sinta yang dikelilingi orang-orang dengan cerita masing-masing. Kehadiran Banawan, teman masa kecil yang kembali memasuki kehidupannya saat dewasa, membuka kembali ruang kenangan sekaligus menghadirkan kemungkinan hubungan baru.
Namun, perjalanan Sinta tidak sesederhana menemukan kembali cinta lama. Sejumlah laki-laki lain yang datang dan pergi di guest house tersebut turut membawa harapan, cinta, hingga pengkhianatan yang kemudian memunculkan persoalan bagi Sinta dan keluarganya.
Cerita film ini bergerak melalui tiga periode waktu berbeda, yakni 1965, 1999, dan 2026. Ketiganya menjadi bagian penting dalam mengungkap sejarah keluarga Sinta dan berbagai rahasia yang tersimpan di balik guest house tua tersebut.
Di balik cerita romantisnya, Yang Datang dan Yang Pergi juga mengangkat persoalan tentang bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang. Film ini menempatkan perempuan sebagai individu yang memiliki hak untuk menentukan masa depan, bukan sekadar penerima warisan cerita dan keputusan generasi sebelumnya.
Penulis, produser, sekaligus sutradara Nurman Hakim mengatakan, film ini mengeksplorasi hubungan antara warisan masa lalu dan pilihan seseorang dalam menentukan arah kehidupannya.
“Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama,” ujar Nurman dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/10).
Pandangan tersebut juga menjadi perhatian Nan Achnas, yang bersama Nurman menulis, memproduseri, dan menyutradarai film ini. Menurut Nan, perempuan memiliki pilihan untuk menentukan kehidupan mereka sendiri, termasuk memutuskan apa yang ingin dipertahankan dan ditinggalkan dari masa lalu.
“Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujar Nan.
Bagi Dian Sastrowardoyo, karakter Sinta menawarkan perspektif menarik tentang perempuan, warisan keluarga, dan kebebasan menentukan masa depan. Ia melihat Sinta sebagai sosok yang tidak hanya menerima cerita masa lalu, tetapi juga memiliki kendali atas keputusan hidupnya.
“Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya, dan menurut saya itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini,” kata Dian.
Film Yang Datang dan Yang Pergi juga menjadi momen reuni Dian Sastrowardoyo dengan dua sineas yang pernah bekerja sama dengannya dalam perjalanan karier perfilman Indonesia.
Dian sebelumnya berkolaborasi dengan Nurman Hakim melalui film 3 Doa 3 Cinta (2008). Sementara bersama Nan Achnas, Dian pernah terlibat dalam film Pasir Berbisik (2001), salah satu karya ikonik dalam perjalanan perfilman Indonesia.
Reuni tersebut menghadirkan kembali pertemuan kreatif antara Dian dan dua sutradara dengan pengalaman kolaborasi sebelumnya, kali ini melalui cerita yang mengeksplorasi sisi berbeda kehidupan perempuan.
Selain Dian dan Roy, film ini turut dibintangi Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas Aditya juga kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah sebelumnya terlibat dalam film Bid’ah Cinta (2017).
Bagi Roy Sungkono, film ini menjadi pengalaman baru karena untuk pertama kalinya ia dipasangkan dengan Dian dalam sebuah kisah romantis. Ia memerankan Banawan, sosok dari masa kecil Sinta yang kembali hadir dalam kehidupan perempuan tersebut saat dewasa.
Roy mengatakan, guest house tua keluarga Sinta menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Sejarah keluarga yang tersimpan di dalamnya turut memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
“Banawan adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya,” ujar Roy.
Melalui perpaduan romansa, rahasia keluarga, dan perjalanan lintas generasi, Yang Datang dan Yang Pergi menawarkan cerita tentang pertemuan dan perpisahan yang tidak selalu berakhir sebagaimana harapan. Sebab, terkadang yang paling sulit bukanlah menerima seseorang yang datang atau merelakan mereka yang pergi, melainkan menentukan apa yang harus dibawa dari masa lalu dan apa yang perlu ditinggalkan.
Film Yang Datang dan Yang Pergi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. (Ril/Red)