Calon Pembeli Kini Bertanya ke AI Dulu, Pelaku Usaha di Tangerang Diminta Rapikan Jejak Digital

waktu baca 3 menit
Kamis, 15 Okt 2026 20:40 45 Redaksi

TEKNO | TD — Pelaku usaha di Tangerang, mulai dari pabrik di kawasan industri, gudang logistik, sekolah, hingga klinik, kini menghadapi cara baru calon pembeli mencari penyedia jasa. Sebelum menelepon atau berkunjung, banyak di antara mereka bertanya lebih dulu kepada asisten kecerdasan buatan (AI).

Pakar SEO dan GEO sekaligus Founder dan CEO Arfadia, Tessar Napitupulu, menyebut perubahan ini tidak hanya dialami perusahaan besar.

“Ini bukan cuma urusan perusahaan besar di Jakarta. Pabrik, kampus, klinik, dan penyedia jasa di daerah menghadapi pertanyaan yang sama dari calon pembelinya,” kata Tessar dilansir Kamis (15/10).

Asisten AI yang dimaksud antara lain ChatGPT, Gemini, Google AI Overviews, Google AI Mode, Perplexity, Copilot, Claude, dan Grok. Upaya membangun visibilitas di AI, agar usaha muncul dan dijelaskan dengan benar di jawaban AI, dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO), AEO, atau LLMO.

Menurut Tessar, langkah awal tidak harus mahal. “Langkah pertama biasanya bukan menambah konten, melainkan merapikan yang sudah ada. Banyak perusahaan sudah punya bahannya, hanya berantakan,” ujarnya.

Merapikan yang dimaksud mencakup nama usaha, alamat, nomor telepon, dan deskripsi layanan yang sama di situs resmi, Google Business Profile, direktori, dan media sosial. Perbedaan kecil di antara sumber-sumber itu bisa membuat mesin ragu menyebut sebuah usaha.

Ulasan pelanggan juga ikut dibaca. Karena itu, online reputation management atau pengelolaan reputasi daring kini tak bisa dipisahkan dari upaya agar usaha disebut AI. Ulasan negatif yang dibiarkan tanpa tanggapan bisa ikut membentuk gambaran yang disampaikan AI kepada calon pembeli.

Dalam studi kasus yang dilaporkan Arfadia, lembaga pendidikan LB LIA memperoleh 169 sitasi di Google AI Overviews dalam enam bulan, dari titik awal nol. Sementara itu, produsen baja struktural Garuda Yamato Steel tercatat muncul dalam 680 respons AI di enam platform, delapan bulan setelah program GEO dimulai.

Bagi industri di Tangerang yang menjual ke luar negeri, bahasa menjadi pertimbangan tambahan. CMO & Head of International Growth Arfadia, Nicolas Magor, mengatakan pembeli asing mencari pemasok dengan bahasa mereka sendiri.

“Pabrik di Tangerang yang menjual ke luar negeri perlu dua jejak sekaligus: halaman berbahasa Indonesia untuk pembeli lokal, dan sumber berbahasa Inggris untuk pembeli asing,” kata Nicolas.

Arah sebaliknya juga berlaku bagi brand asing yang masuk lewat kawasan industri. Panduan terbuka Indonesia Market Entry dari Arfadia memetakan enam jalur yang perlu dilalui, yaitu badan hukum, kepatuhan digital, sertifikasi produk, merek dagang, perdagangan dan pembayaran, serta visibilitas digital. Arfadia mengerjakan jalur visibilitas digital, sedangkan pendirian perusahaan, merek dagang, BPOM, dan sertifikasi halal tetap ditangani notaris dan konsultan berizin.

Arfadia beroperasi sejak 2008 dan berbadan hukum sebagai PT Arfadia Digital Indonesia sejak 2013, dengan kantor di Jakarta, Bandung, dan Bali. Selain GEO dan SEO, perusahaan ini menangani Online Reputation Management serta distribusi rilis media seperti PR agency.

Bagi pelaku usaha yang sedang mencari digital marketing agency terbaik, Tessar menyarankan untuk menanyakan lebih dulu bagaimana hasil akan diukur dan apakah angka awal dicatat sebelum pekerjaan dimulai. (*)

LAINNYA