Anak Bukan Mesin Penghafal, Pendidikan Harus Menumbuhkan Pikiran Kritis

waktu baca 6 menit
Minggu, 18 Okt 2026 15:51 58 Redaksi

PENDIDIKAN | TD — Anak bukan mesin penghafal yang hanya dituntut menyerap materi, mengejar nilai, dan mengulang jawaban dari guru. Pendidikan seharusnya menumbuhkan keberanian berpikir, mempertanyakan realitas, dan memahami ketidakadilan. Gagasan inilah yang mengemuka dalam diskusi bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire yang diselenggarakan IPPC Cengkok, Balai Adat Balaraja, dan TBM Cengkok Cerdas Mandiri di Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu malam (17/10/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Dedeh Kartika Sari, tokoh pendidikan; Dr. Qomaruzzaman, Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang; serta Ade Irawan, mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Acara dipandu Indri Apriyanti, pemudi IPPC.

Di balik kegiatan itu, tersimpan pertanyaan mendasar tentang tujuan pendidikan: apakah sekolah benar-benar membantu anak memahami kehidupan, atau justru membuat mereka sibuk menghafal dan mengejar angka di rapor? Pertanyaan ini penting karena keberhasilan belajar tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dapat diingat, tetapi juga dari kemampuan peserta didik memahami, mempertanyakan, dan memaknai pengetahuan.

Pemikiran Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan tersebut. Freire mengkritik model pendidikan gaya bank (banking education), yakni pola pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pemilik pengetahuan dan murid sebagai penerima pasif. Dalam model ini, guru menyampaikan materi, sementara murid dituntut mendengarkan, menghafal, dan mengulang informasi.

Akibatnya, ruang bagi dialog dan pemikiran mandiri berisiko menyempit. Murid terbiasa mencari jawaban yang dianggap benar, tetapi tidak selalu memperoleh kesempatan untuk bertanya mengapa sesuatu dianggap benar, bagaimana pengetahuan dibentuk, dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Freire, pendidikan semestinya membantu manusia membaca realitas, membangun kesadaran kritis, dan menemukan kemungkinan untuk mengubah keadaan yang tidak adil. Belajar bukan sekadar memenuhi kepala dengan informasi, melainkan membuka pikiran agar manusia mampu memahami dunia dan mengambil sikap terhadapnya.

Gagasan tersebut terasa dekat dengan persoalan pendidikan saat ini. Anak-anak datang ke sekolah membawa buku, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan berusaha memenuhi berbagai tuntutan pembelajaran. Namun, di tengah padatnya kegiatan itu, masihkah tersedia cukup ruang bagi mereka untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan menemukan pemahaman melalui pengalaman sendiri?

Dr. Qomaruzzaman menyoroti kecenderungan pendidikan yang membebani peserta didik dengan terlalu banyak materi. Ia mempertanyakan beratnya beban pelajaran anak sekolah dasar, termasuk penyeragaman materi yang kurang mempertimbangkan perbedaan kondisi sekolah di daerah dan perkotaan.

“Coba lihat mata pelajaran SD kelas 1. Buku yang mereka bawa sangat banyak. Materinya pun hampir setara materi SMP kelas 1. Sangat berat, kasihan anak-anak,” tegas Qomaruzzaman.

Pernyataan tersebut mengajak kita melihat pendidikan dari sudut pandang anak. Di balik tumpukan buku dan target pembelajaran, ada manusia kecil yang sedang tumbuh, mengenali dunia, dan membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Mereka membutuhkan pengetahuan, tetapi juga memerlukan waktu untuk bermain, bereksplorasi, bertanya, dan mengembangkan rasa ingin tahu.

Ketika pendidikan terlalu berorientasi pada target, kegembiraan belajar berisiko terpinggirkan. Anak mungkin mampu menghafal banyak materi, tetapi belum tentu memahami maknanya. Mereka mungkin memperoleh nilai tinggi, tetapi belum tentu berani mengemukakan pendapat atau mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa banyak materi yang diajarkan, melainkan bagaimana pengetahuan membantu anak bertumbuh sebagai manusia yang mampu berpikir dan mengambil keputusan.

Dedeh Kartika Sari menekankan pentingnya kreativitas guru dalam membangun pembelajaran yang dialogis dan bermakna. Menurut Kepala SD Cibugel 1 tersebut, pemikiran Freire relevan diterapkan di sekolah apabila guru bersedia terus belajar, memahami kondisi peserta didik, dan tidak terpaku pada metode pembelajaran yang monoton.

“Kalau guru-gurunya mau terus belajar dan memahami kondisi murid, sekolah bisa menjadi garda terdepan untuk melakukan perubahan,” ujarnya.

Dalam proses pendidikan, guru memang memiliki peran penting sebagai pembimbing. Namun, membimbing bukan berarti memonopoli kebenaran atau mengharuskan setiap anak berpikir dengan cara yang sama. Guru perlu menciptakan ruang belajar yang memungkinkan peserta didik menyampaikan pendapat, menguji gagasan, dan membangun pemahaman melalui dialog.

Tentu, tanggung jawab menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi tidak dapat dibebankan kepada guru semata. Kurikulum, sistem evaluasi, kebijakan pendidikan, serta dukungan terhadap sekolah juga perlu memberi ruang bagi pembelajaran yang mendorong kreativitas dan daya kritis.

Sementara itu, Ade Irawan menghubungkan pemikiran Freire dengan gagasan sejumlah tokoh pendidikan Indonesia, seperti Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Sjafei, dan Tan Malaka. Ia menyoroti pentingnya pendidikan yang memerdekakan manusia, bukan pendidikan yang menekan potensi anak melalui paksaan dan penyeragaman berlebihan.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, misalnya, menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Anak bukan objek yang dapat dibentuk sesuka hati, melainkan subjek yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Freire bahwa peserta didik perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Mereka tidak cukup hanya menerima pengetahuan, tetapi juga perlu belajar memahami realitas dan mengembangkan kesadaran terhadap lingkungan sosialnya.

Pendidikan yang membebaskan bukan berarti menghilangkan disiplin, membiarkan anak belajar tanpa arah, atau meniadakan kewenangan guru. Pendidikan tetap membutuhkan bimbingan dan tanggung jawab. Namun, kedisiplinan tidak harus dibangun melalui ketakutan, dan penghormatan kepada guru tidak berarti murid kehilangan hak untuk bertanya.

Anak perlu memahami bahwa berpikir kritis bukan berarti menolak semua pendapat. Sebaliknya, berpikir kritis berarti berani memeriksa informasi, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, menguji alasan, dan mengambil kesimpulan secara bertanggung jawab.

Karena itu, pembenahan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan mengganti kurikulum, menambah perangkat digital, atau memperbanyak materi pelajaran. Perubahan juga perlu menyentuh cara pandang terhadap anak, pengetahuan, dan proses belajar itu sendiri.

Sekolah bukan hanya tempat mempersiapkan anak untuk memperoleh pekerjaan atau memenuhi kebutuhan dunia industri. Sekolah juga menjadi ruang bagi mereka untuk mengenali diri, belajar hidup bersama orang lain, memahami ketidakadilan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Diskusi bedah buku Paulo Freire di Kampung Cengkok menjadi pengingat bahwa pendidikan seharusnya tidak membuat anak takut salah, takut berbeda, atau takut menyampaikan pendapat. Sebaliknya, pendidikan perlu menumbuhkan keberanian untuk bertanya, kebebasan untuk berpikir, serta tanggung jawab dalam mengambil sikap.

Keberhasilan pendidikan pun tidak cukup diukur melalui nilai rapor, gelar akademik, atau banyaknya materi yang dikuasai. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah proses belajar membantu manusia menjadi lebih sadar, mandiri, dan mampu menghargai sesamanya.

Anak yang hanya diajari menghafal mungkin tumbuh menjadi pribadi yang pandai mengikuti instruksi. Namun, anak yang diberi ruang untuk bertanya, berdialog, dan memahami kenyataan memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi manusia yang mampu menentukan sikap dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Sebab, pendidikan bukan semata-mata tentang menyiapkan anak menghadapi dunia sebagaimana adanya. Pendidikan juga harus membekali mereka dengan pengetahuan, keberanian, dan kepedulian untuk memperbaiki dunia.

Anak bukan mesin penghafal. Mereka adalah manusia yang pikirannya perlu ditumbuhkan, rasa ingin tahunya perlu dirawat, dan keberaniannya perlu diberi ruang. Di situlah pendidikan menemukan maknanya: bukan membelenggu pikiran, melainkan memerdekakan manusia. (Red)

LAINNYA