OPINI | TD — Apa itu cinta? Pertanyaan sederhana ini telah menggoda para pemikir sejak ribuan tahun lalu. Filsafat lahir dari keingintahuan manusia tentang makna hidup, hakikat kebenaran, dan tujuan keberadaan. Dari sekian banyak tokoh yang membentuk wajah pemikiran Barat, Plato adalah salah satu yang paling berpengaruh. Murid Socrates dan guru Aristoteles ini hidup di Athena abad ke-4 SM—masa ketika kota itu menjadi pusat intelektual dunia Yunani.
Bagi Plato, filsafat bukan sekadar renungan abstrak, tetapi jalan hidup menuju kebijaksanaan (sophia). Ia menuliskan gagasannya melalui dialog-dialog yang indah, dan salah satu yang paling menarik adalah Symposium. Di sinilah Plato merumuskan pandangan mendalam tentang cinta (eros)—pandangan yang bukan hanya filosofis, tetapi juga spiritual, eksistensial, dan transformatif.
Artikel ini mengajak Anda menyelami gagasan Plato lebih jauh: apa itu cinta menurut Plato, bagaimana struktur pemikirannya dalam Symposium, dan mengapa teori cinta ini tetap relevan di era modern?
Latar Dialog Symposium: Jamuan Makan yang Mengubah Cara Kita Memandang Cinta
Symposium berarti “jamuan makan.” Namun dalam karya Plato, jamuan itu berubah menjadi panggung intelektual. Para tokoh—Phaedrus, Pausanias, Aristophanes, Eryximachus, Agathon, dan Socrates—bergiliran menyampaikan pidato tentang cinta.
- Phaedrus menekankan cinta sebagai sumber kebajikan.
- Pausanias membedakan cinta surgawi dan cinta duniawi.
- Aristophanes bercerita tentang manusia yang terbelah dua dan mencari pasangannya.
- Socrates, melalui ajaran Diotima, membawa pembahasan cinta ke level filosofis paling tinggi.
Dengan struktur ini, Plato menunjukkan perkembangan pemahaman manusia tentang cinta: dari yang fisik menuju spiritual, dari yang individual menuju universal, dari ketertarikan menuju pencarian makna.
Apa Itu Cinta (Eros) Menurut Plato?
Plato memandang cinta sebagai kekuatan perantara—bukan manusia, bukan pula dewa—yang menghubungkan dunia fana dan dunia ilahi. Cinta lahir dari kekurangan: manusia mencintai karena ia merindukan sesuatu yang baik, indah, atau sempurna.
Melalui Diotima, Plato menggambarkan cinta sebagai:
- Dorongan untuk melahirkan dalam keindahan, baik secara fisik (anak, keturunan) maupun spiritual (kebajikan, pengetahuan, karya besar).
- Tenaga kreatif yang membuat manusia ingin menembus kefanaan dan meraih bentuk keabadian.
Dengan demikian, cinta tidak pernah berhenti pada objeknya; ia selalu bergerak, bertanya, dan mendaki.
Tangga Cinta Plato: Pendakian Jiwa Menuju Keindahan Abadi
Salah satu konsep paling terkenal dalam Symposium adalah Tangga Cinta (Ladder of Love)—proses bertahap yang menggambarkan perjalanan jiwa mencintai secara semakin tinggi dan murni.
- Cinta pada satu tubuh yang indah.
- Cinta pada keindahan tubuh secara umum.
- Cinta pada keindahan jiwa: karakter, moralitas, kecerdasan.
- Cinta pada keindahan dalam tindakan manusia: seni, ilmu, kebajikan.
- Cinta pada Keindahan itu sendiri (Form of Beauty).
Pada puncak tangga ini, manusia tidak lagi mencintai karena ingin memiliki, tetapi karena ia terserap dalam kontemplasi keindahan yang abadi, tak berubah, dan melampaui bentuk fisik apa pun.
Di sinilah cinta menjadi jalan spiritual.
Cinta sebagai Jalan Menuju Pengetahuan
Menurut Plato, eros adalah motor filsafat. Tanpa cinta, manusia tidak punya energi untuk mencari kebenaran. Cinta memberikan semangat, filsafat memberi arah.
- Cinta menunjukkan apa yang indah.
- Filsafat mengajarkan bagaimana mencapai yang baik.
Karena itu, Plato menyebut filsuf sejati sebagai “pecinta sejati”—ia tidak puas berhenti pada keindahan yang tampak, tetapi mengejar keindahan yang hakiki.
Pemikir kontemporer seperti Martha Nussbaum, Reeve, Hinchliffe, dan Woodruff memperkaya tafsir ini: cinta bukan pengalaman pasif, tetapi aktivitas intelektual dan moral yang menuntut kedisiplinan, refleksi, dan kerentanan manusia untuk mencari kebaikan.
Relevansi dan Kritik: Dapatkah Teori Cinta Plato Bertahan di Era Modern?
Meski ditulis lebih dari dua milenium lalu, teori cinta Plato tetap menggugah. Mengapa?
Relevansi
- Ia mengingatkan bahwa cinta sejati tidak berhenti pada fisik—tetapi tertuju pada pertumbuhan dan kedalaman makna.
- Ia mengajak kita mencintai secara sadar: melihat keindahan batin dan membangun kebajikan bersama.
- Di era hubungan instan, cinta menurut Plato mengajak kita kembali pada keseriusan: bahwa mencintai berarti membentuk diri.
Kritik
- Sebagian akademisi menilai Plato terlalu menekankan spiritualitas dan berisiko merendahkan tubuh serta emosi.
- Pandangannya dianggap terlalu ideal dan jauh dari realitas cinta manusia yang kompleks.
Namun penafsir seperti Luc Brisson menunjukkan bahwa Plato tidak sedang menolak dunia fisik. Ia menggunakan mitos dan dialektika untuk membantu manusia menyatukan pengalaman tubuh dan jiwa dalam perjalanan menuju keindahan yang lebih tinggi.
Kesimpulan: Cinta sebagai Pencarian Akan Yang Abadi
Melalui Symposium, Plato mengajarkan bahwa:
- Manusia mencintai karena ia merindukan keindahan yang hilang.
- Cinta adalah gerak jiwa dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan.
- Cinta fisik hanyalah awal; puncaknya adalah cinta pada keindahan abadi.
- Cinta sejati adalah kekuatan filosofis yang menuntun manusia menuju kebenaran dan kebijaksanaan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern—hubungan cepat, kecemasan akan validasi, dan dominasi hal-hal instan—Plato mengajak kita berhenti sejenak untuk bertanya:
Apakah kita mencintai untuk memiliki, atau mencintai untuk menjadi?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin menjadi langkah pertama kita menaiki tangga cinta menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Penulis: Vanessya Al Jazeera
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)