
Mubarok Somantri, dosen UPI Bandung sekaligus Sekretaris Program Studi S1 PGSD, S2, dan S3 Pendidikan Dasar FIP UPI, mengulas pentingnya sekolah bahagia sebagai fondasi pembentukan karakter dan pendidikan yang memanusiakan peserta didik. (Foto: Dok. Pribadi) BUKU | TD — Di tengah kesibukan mengejar target kurikulum, capaian akademik, dan berbagai indikator keberhasilan pendidikan, ada satu pertanyaan mendasar yang kerap luput kita ajukan: apakah anak-anak sungguh bertumbuh di sekolah, atau sekadar menjalani rutinitas belajar demi memperoleh nilai?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika sekolah dihadapkan pada persoalan perundungan, kecemasan peserta didik, tekanan akademik, hingga kelelahan guru. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh terkadang justru menghadirkan tekanan yang membuat anak takut melakukan kesalahan, enggan mengemukakan pendapat, bahkan kehilangan kegembiraan dalam belajar.
Di tengah persoalan tersebut, buku Sekolah Kebahagiaan: Fondasi Karakter Masa Depan menawarkan gagasan yang patut direnungkan. Ditulis oleh Dr. Nana Suryana, S.Ag., M.Pd., Syarifah Setiana Ardiati, S.Psi., M.Pd., dan Dr. Hany Handayani, M.Pd., buku terbitan CV Putra Surya Santosa, Agustus 2026, ini mengajak pembaca menempatkan kebahagiaan sebagai fondasi penting dalam membangun pendidikan yang humanis dan berkarakter.
Gagasan utamanya sederhana, tetapi mendasar: keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kecerdasan intelektual dan prestasi akademik. Pendidikan juga harus menghadirkan kesejahteraan psikologis, kematangan emosi, kedalaman spiritual, dan kualitas karakter.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya menggugat orientasi pendidikan yang terlalu bertumpu pada angka, peringkat, dan capaian terukur. Dalam paradigma semacam itu, peserta didik mudah dipersepsikan berdasarkan prestasi akademiknya, sementara pengalaman emosional dan perkembangan kemanusiaannya kurang memperoleh perhatian yang memadai.
Akibatnya, kesalahan dianggap sebagai kegagalan, ujian menjadi sumber kecemasan, dan kompetisi berpotensi menggeser semangat kolaborasi. Padahal, kemampuan belajar justru berkembang ketika anak memiliki rasa aman untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, dan memperbaiki kesalahan.
Melalui pembahasan tentang stres akademik dan kesehatan mental, buku ini menegaskan bahwa persoalan karakter tidak selalu dapat diselesaikan dengan menambah aturan, ceramah moral, atau hukuman. Lingkungan pendidikan yang penuh tekanan dapat menghambat perkembangan empati, pengendalian diri, dan tanggung jawab. Di sinilah relevansi gagasan sekolah kebahagiaan menemukan pijakannya. Kebahagiaan bukan sekadar suasana menyenangkan di ruang kelas, apalagi pembebasan peserta didik dari tuntutan belajar. Kebahagiaan dimaknai sebagai kesejahteraan yang memungkinkan anak berkembang secara utuh, baik secara intelektual, emosional, sosial, moral, maupun spiritual.
Dengan perspektif ini, buku tersebut tidak sedang mempertentangkan kebahagiaan dan prestasi. Yang dipersoalkan adalah cara mencapai prestasi tanpa mengorbankan martabat dan kesehatan jiwa peserta didik.
Daya tarik lain buku ini ialah upayanya mempertemukan pemikiran pendidikan Islam dengan perspektif psikologi kontemporer. Pada bab awal, penulis mengangkat konsep sa’adah, yakni kebahagiaan yang tidak berhenti pada kesenangan sesaat, tetapi berkaitan dengan ketenangan jiwa, keselarasan dengan kebenaran, dan kedekatan kepada Allah Swt.
Gagasan tersebut dipertautkan dengan konsep flourishing dalam psikologi positif, yang menekankan perkembangan manusia melalui emosi positif, keterlibatan, relasi, makna, dan pencapaian. Buku ini juga menghubungkannya dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan sebagai tuntunan terhadap kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Pertautan tersebut memberikan warna tersendiri. Kebahagiaan tidak diperlakukan semata-mata sebagai persoalan psikologis individual, tetapi juga sebagai tujuan pendidikan yang memiliki dimensi moral dan spiritual.
Dalam perspektif pendidikan Islam, pengetahuan semestinya membantu manusia memperbaiki diri, membangun akhlak, dan menemukan makna kehidupan. Karena itu, sekolah tidak cukup menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan. Sekolah juga perlu menjadi lingkungan yang menumbuhkan kesadaran, membiasakan kebaikan, dan memelihara keseimbangan antara akal, hati, serta perilaku.
Meskipun demikian, pertautan konsep-konsep tersebut tetap memerlukan kehati-hatian akademik. Sa’adah dalam tradisi Islam memiliki landasan teologis dan orientasi akhirat, sedangkan flourishing berkembang dalam kerangka psikologi positif. Keduanya dapat dipertemukan pada sejumlah dimensi kesejahteraan dan perkembangan manusia, tetapi tidak serta-merta identik. Justru dialog kritis di antara keduanya dapat memperkaya landasan filosofis pendidikan kebahagiaan.
Buku ini tidak berhenti pada perdebatan konseptual. Melalui 16 bab pembahasan, penulis mengembangkan gagasan sekolah kebahagiaan ke dalam berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan.
Pembahasan tentang mindful teaching, misalnya, mengingatkan bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan figur yang turut menentukan suasana emosional kelas. Guru yang mampu mengenali dan mengelola emosinya akan lebih siap membangun komunikasi yang empatik, merespons perilaku peserta didik secara proporsional, serta menghadirkan keteladanan dalam keseharian.
Gagasan tersebut dilengkapi dengan pembahasan mengenai ruang kelas yang menenangkan dan inklusif, fleksibilitas pembelajaran, kepemimpinan sekolah yang empatik, asesmen autentik, literasi emosi, kesejahteraan guru, serta sinergi keluarga dan sekolah. Buku ini juga memberi perhatian pada tantangan era digital, termasuk perundungan siber, penggunaan kecerdasan buatan, dan integritas karakter di ruang maya.
Bagian yang penting ialah penegasan bahwa sekolah bahagia bukan sekolah tanpa disiplin. Disiplin tetap diperlukan, tetapi harus dibedakan dari hukuman yang mempermalukan atau merendahkan anak. Aturan perlu mendidik peserta didik untuk memahami tanggung jawab, bukan sekadar menumbuhkan kepatuhan karena takut.
Lebih jauh, penulis menawarkan indikator untuk memahami pengalaman peserta didik di sekolah serta roadmap yang dapat digunakan untuk merencanakan perubahan secara bertahap. Sekolah diajak memetakan kondisi awal, menentukan persoalan prioritas, menyusun program, menetapkan indikator keberhasilan, memantau perkembangan, dan melakukan evaluasi.
Pendekatan ini memperkuat nilai praktis buku. Sekolah kebahagiaan tidak ditempatkan sebagai slogan atau program seremonial, tetapi sebagai proses perubahan budaya yang membutuhkan keterlibatan kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Sebagai gagasan pendidikan, sekolah kebahagiaan menawarkan perspektif yang relevan. Namun, keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam praktik yang konsisten.
Kebahagiaan merupakan pengalaman yang kompleks dan tidak selalu mudah diukur. Karena itu, indikator yang digunakan perlu mempertimbangkan usia, kebutuhan, latar belakang, serta keragaman pengalaman peserta didik. Pengukuran juga tidak boleh berubah menjadi perlombaan baru antarsekolah atau alat untuk memberi label kepada anak. Sebagaimana ditekankan dalam buku ini, informasi tentang pengalaman siswa semestinya digunakan untuk memperbaiki lingkungan pendidikan, bukan untuk mempermalukan atau menghukum.
Tantangan lainnya terletak pada kondisi struktural sekolah. Guru tidak mungkin dituntut selalu empatik apabila beban kerja, tekanan administratif, dan dukungan institusional tidak diperhatikan. Demikian pula, sekolah sulit membangun iklim yang sehat jika keberhasilannya terus-menerus dipersempit menjadi capaian angka.
Karena itu, transformasi menuju sekolah kebahagiaan tidak dapat dibebankan kepada guru secara individual. Diperlukan dukungan kepemimpinan, kebijakan yang berpihak pada perkembangan anak, serta evaluasi pendidikan yang memberi tempat proporsional bagi kesejahteraan dan pembentukan karakter.
Buku ini akan semakin kuat sebagai rujukan akademik apabila gagasan-gagasannya terus dikembangkan melalui penelitian empiris, pengujian instrumen, dan dokumentasi praktik baik dari berbagai konteks sekolah. Dengan demikian, sekolah kebahagiaan tidak hanya menjadi visi normatif, tetapi juga pendekatan yang semakin teruji dan dapat diadaptasi.
Pada akhirnya, Sekolah Kebahagiaan: Fondasi Karakter Masa Depan mengajak kita kembali kepada pertanyaan paling mendasar tentang pendidikan: manusia seperti apa yang hendak kita bentuk melalui sekolah?
Jika pendidikan hanya melahirkan individu yang unggul dalam kompetisi, tetapi rapuh menghadapi kesulitan, kurang berempati, dan kehilangan kepekaan moral, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari cara kita memahami keberhasilan.
Pendidikan masa depan membutuhkan manusia yang cerdas sekaligus berakhlak, terampil sekaligus peduli, mandiri sekaligus mampu hidup bersama orang lain. Untuk mewujudkannya, sekolah perlu menghadirkan lingkungan yang aman, pembelajaran yang bermakna, relasi yang sehat, dan disiplin yang mendidik.
Buku ini layak dibaca oleh guru, kepala sekolah, mahasiswa pendidikan, pengelola lembaga pendidikan, dan pengambil kebijakan yang ingin melihat pendidikan dari perspektif yang lebih utuh. Sumbangan pentingnya terletak pada upaya menghubungkan kebahagiaan, kesehatan mental, karakter, spiritualitas, dan tata kelola sekolah dalam satu percakapan pendidikan.
Sekolah kebahagiaan bukanlah sekolah yang menjanjikan bahwa setiap hari anak akan selalu merasa senang. Ia adalah sekolah yang membuat anak merasa aman untuk belajar, berani menghadapi tantangan, mampu memperbaiki kesalahan, dan tumbuh sebagai manusia yang bermakna. Sebab, pendidikan yang berhasil bukan hanya pendidikan yang membuat anak mampu menjawab soal dengan benar, melainkan juga pendidikan yang menolong mereka menjalani kehidupan dengan benar.
Dan mungkin, di tengah kesibukan kita mengukur keberhasilan pendidikan, pertanyaan yang paling penting justru bukan berapa tinggi nilai yang diraih anak, melainkan manusia seperti apa yang sedang kita tumbuhkan melalui sekolah.
Penulis: Mubarok Somatri, Dosen UPI Bandung & Sekretaris Program Studi S1 PGSD, S2, dan S3 Pendidikan Dasar FIP UPI. (*)