Jangan Mudah Terprovokasi! Membaca Drama di Balik Kegaduhan Media Sosial

waktu baca 7 menit
Minggu, 18 Okt 2026 14:35 38 Redaksi

KOLOM | TD — Sebuah potongan video bisa mengubah reputasi seseorang. Satu kalimat dapat memicu kemarahan ribuan orang. Bahkan, tuduhan yang belum terbukti bisa telanjur dipercaya sebelum fakta sebenarnya terungkap.

Di media sosial, persoalan tidak selalu membesar karena substansinya. Terkadang, cara sebuah peristiwa diceritakan, siapa yang menyebarkannya, dan bagaimana publik diarahkan untuk memandangnya justru lebih menentukan.

Sebuah video pendek diunggah, diberi keterangan provokatif, lalu menyebar luas. Warganet berbondong-bondong mengecam atau membela, sementara sebagian lainnya membagikan konten tanpa memeriksa konteks. Dalam hitungan jam, sebuah peristiwa dapat berubah menjadi penghakiman massal.

Ketika klarifikasi muncul, perhatian publik mungkin sudah beralih. Reputasi yang telanjur rusak belum tentu pulih, sedangkan mereka yang menyebarkan tuduhan belum tentu merasa perlu bertanggung jawab.

Apakah kita masih menggunakan media sosial untuk memahami kenyataan, atau justru terbawa oleh cerita tentang kenyataan?

Pemikiran Kenneth Burke, teoretikus retorika yang mengembangkan teori dramatisme, dapat membantu menjawab pertanyaan tersebut. Menurut perspektif ini, komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan juga tindakan simbolik yang dapat membentuk persepsi, membangun solidaritas, dan menciptakan konflik.

Di tengah budaya viral, polarisasi, perang narasi, dan konten berbasis kecerdasan buatan (AI), memahami cara kerja komunikasi menjadi penting agar kita tidak mudah dimanipulasi oleh pesan yang beredar.

Bahasa Bisa Membentuk Cara Kita Melihat Dunia

Perhatikan dua pernyataan berikut: “Kebijakan ini perlu dikritik” dan “Mereka telah mengkhianati rakyat.”

Keduanya mungkin merujuk pada persoalan yang sama, tetapi membangun kesan berbeda. Pernyataan pertama mengajak orang mengevaluasi kebijakan, sedangkan pernyataan kedua membingkai persoalan sebagai pengkhianatan yang memancing kemarahan.

Dalam pemikiran Burke, bahasa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi cara manusia memahami dan merespons suatu peristiwa.

Di media sosial, proses tersebut berlangsung melalui judul provokatif, potongan video, meme, tanda pagar, dan komentar emosional. Pesan yang menarik perhatian bisa membentuk persepsi sebelum orang membaca informasi secara utuh.

Bukan berarti setiap pesan emosional merupakan manipulasi. Kritik keras terkadang diperlukan untuk memperjuangkan keadilan. Persoalannya muncul ketika emosi menggantikan pemeriksaan fakta dan sebuah narasi langsung dipercaya hanya karena sesuai dengan keyakinan kita.

Mengapa Kita Mudah Terjebak dalam Perang Narasi?

Burke memperkenalkan konsep identification, yaitu proses ketika manusia merasa memiliki kesamaan dengan orang lain berdasarkan nilai, kepentingan, pengalaman, atau identitas.

Di media sosial, kesamaan ini membangun komunitas dan solidaritas. Orang-orang dapat bersatu untuk membantu korban bencana, memperjuangkan hak masyarakat, atau melindungi lingkungan.

Namun, identifikasi juga dapat mempertegas batas antara “kita” dan “mereka”. Kritik terhadap kelompok sendiri dianggap sebagai pengkhianatan, sedangkan informasi negatif tentang kelompok lawan lebih mudah dipercaya tanpa pemeriksaan memadai.

Akibatnya, fakta seolah menjadi pendukung dalam pertandingan. Informasi yang menguntungkan kelompok sendiri diterima, sementara informasi yang merugikannya dicurigai.

Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: jika informasi yang sama datang dari kelompok yang tidak saya sukai, apakah saya akan menilainya dengan standar yang sama?

Pertanyaan ini penting agar identitas tidak mengalahkan penilaian rasional.

Lima Pertanyaan untuk Membongkar Drama Digital

Kenneth Burke menawarkan perangkat analisis yang disebut dramatistic pentad. Kerangka ini membantu kita membaca peristiwa komunikasi melalui lima unsur:

1. Act (tindakan): Apa yang sebenarnya terjadi?
2. Scene (situasi): Dalam konteks apa peristiwa berlangsung?
3, Agent (pelaku): Siapa yang melakukan atau terlibat dalam tindakan tersebut?
4. Agency (sarana): Bagaimana pesan disampaikan atau disebarkan?
5. Purpose (tujuan): Tujuan apa yang mungkin hendak dicapai?

Bayangkan sebuah video kontroversial yang viral. Sebelum ikut mengecam tokoh di dalamnya, cari rekaman lengkap, pahami konteks, telusuri sumber unggahan, dan periksa bagaimana video tersebut disebarkan.

Apakah konten itu bertujuan memberikan informasi, mengkritik tindakan, mencari perhatian, atau menyerang reputasi seseorang?

Motif tidak boleh dipastikan hanya berdasarkan dugaan. Namun, dengan memeriksa isi pesan, pola penyebaran, dan bukti yang tersedia, kita dapat menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.

Kerangka ini bukan alat untuk memastikan seseorang bersalah atau tidak. Fungsinya adalah membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih tepat sebelum mengambil sikap.

Ketika Semua Orang Mencari Kambing Hitam

Dalam pemikirannya, Burke membahas siklus guilt-redemption, yaitu ketegangan akibat rasa bersalah dan upaya memulihkan keadaan.

Salah satu bentuk pemulihan adalah mortification, yakni pengakuan kesalahan dan kesediaan menanggung tanggung jawab. Bentuk lainnya adalah victimage, yaitu menjadikan pihak tertentu sebagai sasaran untuk menanggung kesalahan.

Pola ini dapat ditemukan dalam konflik digital. Ketika sebuah organisasi mendapat kritik, misalnya, respons yang bertanggung jawab adalah memeriksa keluhan, menjelaskan fakta, dan memperbaiki kekurangan jika terbukti.

Sebaliknya, jika organisasi justru menyerang pengkritik tanpa menjawab substansi persoalan, perhatian publik dapat beralih dari masalah utama menuju pertengkaran antarpihak.

Tentu, kritik juga bisa keliru dan tuduhan harus diperiksa. Namun, kita patut waspada ketika perdebatan lebih banyak membicarakan siapa yang harus disalahkan daripada bagaimana masalah diselesaikan.

Jangan hanya bertanya, “Siapa yang salah?” Tanyakan pula, “Apa yang sebenarnya terjadi, bukti apa yang tersedia, dan apa yang harus diperbaiki?”

Ketika AI Ikut Membentuk Cerita

Kecerdasan buatan membuat teks, gambar, suara, dan video sintetis semakin mudah diproduksi. Teknologi ini bermanfaat bagi pendidikan dan kreativitas, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk meniru seseorang atau membuat informasi palsu tampak meyakinkan.

Karena itu, penampilan bukan jaminan keaslian. Video yang terlihat nyata belum tentu autentik, sementara informasi yang disampaikan dengan percaya diri belum tentu benar.

Kita perlu menelusuri sumber, mencari versi asli, membandingkan bukti, dan memeriksa konteks. Pemikiran Burke membantu kita mempertanyakan pelaku, sarana, situasi, dan tujuan komunikasi, tetapi verifikasi keaslian konten tetap membutuhkan pemeriksaan bukti secara langsung.

Jangan langsung percaya hanya karena sebuah video memancing emosi. Jangan pula menyebutnya palsu hanya karena bertentangan dengan keyakinan kita.

Tujuh Langkah Praktis Memverifikasi Informasi Digital

Memahami teori saja tidak cukup. Kita perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

1. Berhenti sebelum bereaksi. Jika unggahan memancing kemarahan atau ketakutan, jangan langsung membagikannya. Beri waktu untuk memeriksa klaim yang disampaikan.

2. Telusuri sumber asli. Cari unggahan pertama, dokumen resmi, rekaman lengkap, atau pernyataan langsung. Jika sumbernya tidak jelas, perlakukan informasi sebagai klaim yang belum terverifikasi.

3. Periksa tanggal dan konteks. Pastikan foto, video, dan pernyataan memang berkaitan dengan peristiwa yang sedang dibicarakan. Konten lama dapat beredar kembali dengan keterangan baru.

4. Bandingkan dengan sumber independen. Cari pemberitaan atau keterangan dari sumber lain yang memiliki bukti tersendiri. Banyak akun yang mengulang informasi sama tidak berarti informasi tersebut sudah terbukti.

5. Periksa foto dan video. Gunakan pencarian gambar terbalik, misalnya melalui Google Lens, untuk menemukan kemunculan sebelumnya. Cari versi lengkap video dan jangan menyimpulkan konten dibuat AI hanya berdasarkan kejanggalan visual.

6. Bedakan fakta, opini, dan tuduhan. Periksa bukti yang mendukung klaim. Berikan kesempatan kepada pihak yang dituduh untuk menjelaskan, terutama jika informasi dapat merusak reputasinya.

7. Putuskan apakah informasi layak dibagikan. Bagikan jika klaim didukung bukti yang memadai. Tunda jika informasi belum jelas. Jangan sebarkan konten yang terbukti menyesatkan atau memuat tuduhan tanpa dasar. Jika telanjur salah membagikan informasi, lakukan koreksi.

Agar mudah diingat, langkah-langkah tersebut dapat diringkas menjadi prinsip 3P: Periksa, Pertimbangkan, Publikasikan.

  • Periksa sumber, tanggal, konteks, dan bukti.
  • Pertimbangkan dampak pesan dan kemungkinan manipulasi.
  • Publikasikan hanya jika informasi cukup terverifikasi dan penyebarannya dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk memeriksa informasi yang beredar di Indonesia, pembaca dapat menelusuri CekFakta dan TurnBackHoax. Untuk mencari jejak publikasi sebuah gambar, gunakan Google Lens. Hasil pemeriksaan tetap perlu dibandingkan dengan sumber asli dan bukti pendukung.

Verifikasi bukan berarti harus selalu curiga. Justru dengan memeriksa informasi, kita dapat tetap terbuka terhadap fakta baru tanpa mudah terjebak dalam manipulasi.

Kita Bukan Sekadar Penonton

Setiap kali membagikan unggahan, menulis komentar, atau menyebarkan potongan video, kita ikut membentuk jalannya cerita di ruang digital.

Satu tindakan kecil dapat memperluas jangkauan tuduhan, memperkuat prasangka, atau membantu masyarakat memahami persoalan. Karena itu, tanggung jawab komunikasi digital tidak hanya berada pada pembuat konten dan perusahaan platform, tetapi juga pada setiap pengguna.

Sebelum menekan tombol bagikan, periksa sumbernya. Sebelum mengecam seseorang, pastikan informasi yang menjadi dasar kecaman dapat dipertanggungjawabkan. Jika menemukan bukti baru, bersedialah memperbarui penilaian.

Kita tidak harus berhenti mengkritik atau kehilangan keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan. Yang perlu ditinggalkan adalah kebiasaan menghakimi sebelum memeriksa dan menyebarkan sebelum memverifikasi.

Teori dramatisme Kenneth Burke mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menceritakan dunia. Bahasa juga dapat memengaruhi cara manusia bertindak di dalamnya.

Di tengah budaya viral, tidak semua hal yang ramai layak dipercaya dan tidak semua yang membuat kita marah telah terbukti benar.

Jangan biarkan emosi orang lain menentukan penilaian kita. Periksa sebelum membagikan, pahami sebelum menghakimi, dan berani mengoreksi diri ketika keliru. Sebab, ruang digital yang sehat tidak dibangun oleh orang-orang yang paling keras berteriak, melainkan oleh mereka yang bersedia mencari kebenaran sebelum ikut berbicara. (Red)

LAINNYA