Retret di Puncak, IKG Konsolidasikan Pengurus untuk Wujudkan Sapta Cita 2026–2031

waktu baca 4 menit
Senin, 12 Okt 2026 12:42 44 Nazwa

BOGOR | TD — Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) menggelar retret pada 10–11 Oktober 2026 di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat soliditas kepengurusan, menyatukan visi, dan mengoptimalkan aset serta potensi organisasi dalam mewujudkan Sapta Cita IKG 2026–2031.

Ketua Umum IKG Ipda (Purn.) Saimo, S.E., M.M., saat membuka kegiatan, menekankan pentingnya pengelolaan seluruh sumber daya organisasi, mulai dari aset fisik, jaringan kepengurusan, sumber daya manusia, hingga potensi warga Gunungkidul di perantauan.

Ia menyebut Omah Joglo IKG dan Sekolah Budi Harapan sebagai contoh aset yang perlu dioptimalkan agar memberikan manfaat nyata bagi organisasi dan masyarakat.

“IKG memiliki aset, potensi, dan jaringan yang luar biasa, misalnya Omah Joglo IKG, Sekolah Budi Harapan, dan lainnya. Tantangan kita adalah bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan nyata bagi organisasi dan manfaat bagi warga Gunungkidul di perantauan,” ujar Saimo.

Ia mengajak seluruh pengurus mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan organisasi melalui kerja sama, gotong royong, dan pengabdian.

“Saya mengajak seluruh pengurus untuk menyatukan visi, memperkuat komitmen, dan bekerja secara solid dalam mewujudkan Sapta Cita IKG 2026–2031. Mari kita kesampingkan ego pribadi, utamakan kepentingan organisasi, dan bergerak bersama dalam semangat guyub rukun, gotong royong, serta pengabdian yang tulus,” katanya.

Selaraskan Program Kerja dan Tata Kelola

Retret tersebut dihadiri jajaran Dewan Pengawas, Dewan Pembina, Dewan Penasihat, pengurus pusat, serta perwakilan wilayah IKG. Peserta di antaranya Dewan Pengawas IKG Sudarminto Darmawan, Dewan Pembina Gampang Harjono, Dewan Penasihat Sukardio, Ketua I Suyanto, Ketua III Rahmat Sutopo, Ketua IV Bambang Krisnadi, S.H., dan Ketua V Kapten AD H. Suyadi.

Hadir pula Sekretaris Jenderal IKG Hj. Siti Hardjarijah, S.E., M.M., Wakil Bendahara Umum Sukarna, serta 18 ketua kapanewon dan tujuh ketua wilayah atau koordinator wilayah (korwil).

Pada Sabtu (10/10), agenda berlangsung pukul 09.00 hingga 17.00 WIB dengan pemaparan rencana dan program kerja dari jajaran ketua, Sekretaris Jenderal, serta Bendahara Umum IKG.

Forum tersebut menjadi sarana untuk menyelaraskan program, menentukan prioritas, mengidentifikasi kebutuhan, dan memperkuat koordinasi antarpengurus. Pembahasan juga mencakup optimalisasi aset serta penerapan tata kelola organisasi yang baik, transparan, dan akuntabel.

Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah untuk mempererat hubungan antarpengurus. Agenda tersebut juga diisi penyampaian materi oleh Sudaryanto, S.H., M.M., yang menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Anggota Dewan Pengawas IKG, Sudarminto Darmawan, turut memberikan motivasi mengenai pentingnya komitmen, kekompakan, dan soliditas dalam menjalankan organisasi.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi juga oleh kesungguhan pengurus dalam menjalankan tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemauan mendahulukan kepentingan organisasi.

Pada Minggu (11/10), rangkaian retret dilanjutkan dengan olahraga bersama dan diskusi santai. Kegiatan ditutup setelah makan siang.

Tujuh Fokus Sapta Cita IKG

Sekretaris Jenderal IKG, Hj. Siti Hardjarijah, S.E., M.M., mengatakan retret tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat arah pembangunan organisasi melalui Sapta Cita IKG 2026–2031.

Tujuh fokus tersebut meliputi tata kelola, kemandirian, sekretariat IKG, soliditas, kegiatan sosial, pendidikan dan olahraga, pelestarian budaya Gunungkidul dan Jawa, serta sinergi kelembagaan.

“Melalui kegiatan ini, IKG berharap seluruh jajaran pengurus memiliki pemahaman dan komitmen yang semakin kuat terhadap arah organisasi, sekaligus mampu menerjemahkan visi bersama menjadi program kerja yang konkret, terukur, dan berkelanjutan,” ungkap Siti.

Ia menambahkan, retret bukan sekadar pertemuan pengurus, melainkan momentum untuk melakukan refleksi, menyatukan tekad, dan memperkokoh fondasi organisasi.

Dengan optimalisasi aset, penguatan jaringan, serta pemeliharaan soliditas dan semangat pengabdian, IKG berupaya menjadi wadah persaudaraan warga Gunungkidul di perantauan yang guyub, mandiri, dan bermanfaat.

Miliki Jaringan hingga Tingkat Dusun

Humas yang juga Sekretaris IV IKG, Tarsih Ekaputra, menjelaskan bahwa IKG merupakan paguyuban warga Gunungkidul di perantauan yang berdiri pada 12 Desember 1970 di Jakarta.

Berlandaskan semangat guyub rukun, saling membantu, dan gotong royong, IKG memiliki jaringan kepengurusan yang terdiri atas 18 koordinator kapanewon, tujuh koordinator wilayah, 144 koordinator kelurahan, dan 1.431 koordinator dusun.

Menurut Tarsih, Sapta Cita IKG 2026–2031 menjadi landasan untuk memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian, dan meningkatkan kontribusi organisasi bagi warga Gunungkidul, baik di perantauan maupun di tanah kelahiran.

“Berlandaskan Sapta Cita IKG 2026–2031 yang mencakup tata kelola, kemandirian, sekretariat, soliditas, sosial, pendidikan dan olahraga, pelestarian budaya Gunungkidul dan Jawa, serta sinergi kelembagaan, IKG terus memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi warga Gunungkidul di perantauan maupun tanah kelahiran,” jelasnya. (*)

LAINNYA