Saat Pintu Pertolongan Terbuka, H. Ahmad Imron Dampingi Keluarga Rentan di Cisoka

waktu baca 3 menit
Kamis, 8 Okt 2026 11:58 86 Redaksi

TANGERANG | TD — Saat sebuah keluarga berada dalam kondisi yang nyaris tak sanggup mereka hadapi sendiri, pertolongan menjadi berarti ketika ada seseorang yang bersedia datang, mendengar, dan ikut mencari jalan keluar. Itulah yang dilakukan H. Ahmad Imron saat mengetahui kondisi sebuah keluarga di Kampung Panggang, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang.

Keluarga tersebut terdiri atas seorang ayah dan dua anak yang menghadapi persoalan gangguan kejiwaan dalam kondisi memprihatinkan. Keterbatasan ekonomi dan keadaan keluarga membuat mereka kesulitan memperoleh penanganan yang layak.

Salah seorang anak laki-laki mengalami kondisi cukup berat. Dalam kesehariannya, ia kerap berkeluyuran tanpa mengenakan pakaian. Situasi itu bukan hanya menjadi persoalan bagi keluarga, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya kehidupan yang tengah mereka jalani.

Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian H. Ahmad Imron, Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Bagi H. Ahmad Imron, persoalan itu tidak cukup disikapi dengan rasa prihatin. Ia memilih datang, melihat kondisi keluarga secara langsung, sekaligus mencari kemungkinan penanganan yang dapat dilakukan.

“Terus terang, saya sangat prihatin melihat kondisi keluarga ini. Saya tidak tega hanya melihatnya begitu saja. Mereka adalah manusia yang juga berhak mendapatkan pertolongan dan kehidupan yang lebih layak,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (8/10).

Pendampingan kemudian dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Sosial, untuk mencari penanganan yang memungkinkan bagi sang anak.

Upaya tersebut akhirnya membawa anak itu ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol untuk mendapatkan rehabilitasi.

Bagi H. Ahmad Imron, membawa sang anak ke fasilitas kesehatan bukanlah akhir dari persoalan. Justru, langkah itu menjadi awal dari upaya yang lebih panjang agar ia memperoleh penanganan yang tepat dan keluarganya mendapatkan dukungan untuk menghadapi situasi yang selama ini mereka jalani.

“Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan gangguan kejiwaan. Ini persoalan kemanusiaan. Ketika ada orang yang sedang berada dalam kondisi seperti ini, jangan sampai kita justru menjauh. Mereka membutuhkan kita untuk hadir, mendampingi, dan membantu mencari jalan keluar,” ujarnya.

Kondisi keluarga tersebut juga belum sepenuhnya selesai. Orang tua mereka berada dalam keadaan yang tidak kalah memprihatinkan. Karena itu, perhatian tidak berhenti setelah sang anak mendapatkan akses rehabilitasi.

Masih ada orang tua yang membutuhkan dukungan. Masih ada keluarga yang membutuhkan pendampingan. Dan masih ada kehidupan yang harus perlahan-lahan ditata kembali.

Persoalan itu menunjukkan bahwa penanganan keluarga rentan tidak cukup hanya dengan melihat satu masalah secara terpisah. Di balik persoalan kesehatan jiwa, terdapat persoalan sosial, ekonomi, keluarga, dan akses terhadap layanan yang saling berkaitan.

Karena itu, H. Ahmad Imron berharap proses pendampingan yang telah dimulai dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik bagi keluarga tersebut.

“Saya berharap setelah mendapatkan penanganan, anak ini dan keluarganya bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik dan manusiawi,” katanya.

Kisah dari Kampung Panggang tersebut memperlihatkan bahwa bagi keluarga yang berada dalam situasi paling rentan, pertolongan tidak selalu bermula dari sesuatu yang besar.

Kadang, pertolongan dimulai dari kesediaan untuk datang dan melihat persoalan lebih dekat. Dari sana, kepedulian dapat berubah menjadi pendampingan, dan pendampingan membuka jalan menuju penanganan.

Bagi H. Ahmad Imron, kehadiran itu menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan. Sebab di balik persoalan kesehatan jiwa, tetap ada manusia yang membutuhkan perhatian. Dan di balik keluarga yang sedang berjuang, selalu ada harapan yang perlu dijaga agar tidak padam. (*)

LAINNYA