BLU Women’s Journey 2026 Soroti Perjalanan Perempuan dan Tantangan Stigma Patriarki

waktu baca 7 menit
Rabu, 7 Okt 2026 15:03 84 Nazwa

JAKARTA | TD — Budi Luhur University melalui Suhanah Women and Youth Center (SWYC) bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) menggelar BLU Women’s Journey 2026 di Auditorium Grha Mahardika Budjana, Rabu (7/10/2026).

Mengusung tema “Celebrating Courage, Purpose, and Every Woman’s Story”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merayakan keberanian perempuan sekaligus mendorong terciptanya lingkungan kampus yang aman, setara, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Kegiatan menghadirkan Dr. Devi Rahayu, S.H., M.Hum. sebagai keynote speaker, Rachmawati Alida Bahaweres, Heni Priska selaku professional makeup artist, serta Dr. Dewi Dwianti, S.T., M.Eng., seorang environmental engineer. Diskusi dimoderatori Vivi Puspitasyari, S.I.P., M.Si.

Selain diskusi, rangkaian kegiatan diisi berbagai kompetisi kreatif, antara lain video pendek YouTube, konten Instagram Reels/TikTok, serta poster infografis. Peserta didorong menyampaikan pesan tentang perempuan melalui karya yang kreatif, informatif, dan mudah dipahami.

Ketua Satgas PPKPT sekaligus SWYC Universitas Budi Luhur, Chazizah Gusnita, M.Krim., mengatakan BLU Women’s Journey merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun dengan tema yang berbeda.

Menurut Chazizah, tema women’s journey tahun ini dipilih untuk memperlihatkan perjalanan perempuan dari berbagai latar belakang profesi. Para pembicara tidak hanya berbicara mengenai profesi yang mereka jalani, tetapi juga proses panjang yang dilalui hingga mencapai posisi saat ini.

“Bagaimana perempuan-perempuan ini mulai meniti kariernya dari nol, mau itu dari wartawan, pendidik, saintis, atau dari MUA (makeup artist) sekalipun,” kata Chazizah.

Ia mengatakan keberagaman profesi tersebut penting untuk menunjukkan bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan dan perjuangan masing-masing.

Menurut Chazizah, profesi yang selama ini mungkin dianggap biasa oleh sebagian masyarakat justru memiliki keterampilan, kreativitas, dan nilai perjuangan tersendiri. Ia mencontohkan profesi makeup artist (MUA) yang tidak sekadar berkaitan dengan merias wajah, tetapi juga membutuhkan kemampuan artistik dan kreativitas.

“Pekerjaan-pekerjaan yang mungkin di masyarakat dilihat biasa-biasa saja, justru kita di sini melihatnya,” ujarnya.

Selain MUA, BLU Women’s Journey 2026 mempertemukan perempuan dari berbagai bidang, termasuk saintis, motivator, pendidik, dan wartawan. Keragaman latar belakang tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan gambaran yang lebih luas mengenai perjalanan perempuan di tengah masyarakat.

Terinspirasi Sosok Suhanah

Tema perjalanan perempuan juga berkaitan dengan sosok Suhanah yang menjadi nama lembaga tersebut.

Chazizah menjelaskan, nama Suhanah diambil dari nama almarhumah istri Ketua Yayasan Universitas Budi Luhur. Sosok tersebut dikenang sebagai seorang ibu sekaligus figur perempuan yang menjadi panutan di lingkungan kampus.

“Beliau mungkin seorang ibu rumah tangga, seorang ibu, tetapi beliau tokoh perempuan yang ada di kampus ini. Jadi itu tadi diambil tematiknya menjadi sebuah perjalanan perempuan,” jelas Chazizah.

Kegiatan yang berkaitan dengan Suhanah juga memiliki momentum khusus karena September menjadi bulan yang berkaitan dengan hari berdirinya lembaga tersebut sekaligus momentum ulang tahun Suhanah.

Pelaksanaan kegiatan kemudian bergeser ke Oktober karena kendala teknis dan agenda Ketua Yayasan yang berada di luar negeri.

Hadapi Stigma dan Budaya Patriarki

Chazizah mengatakan BLU Women’s Journey 2026 juga diarahkan untuk memberikan motivasi kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah menghadapi stigma dan pelabelan terhadap perempuan.

Menurutnya, perempuan masih menghadapi pandangan sosial yang membatasi ruang geraknya, termasuk anggapan bahwa perempuan kurang tepat menjadi pemimpin karena dianggap lebih mengutamakan perasaan.

“Walaupun kita ada di lingkungan sosial yang ada budaya patriarkinya, karena ada pembedaan-pembedaan bagaimana orang melihat perempuan yang katanya kalau jadi pemimpin lebih mengutamakan perasaan,” ujarnya.

Karena itu, pengalaman para pembicara dalam BLU Women’s Journey 2026 diharapkan menjadi pembelajaran bagi generasi muda bahwa keberhasilan merupakan hasil dari perjalanan panjang.

Setiap perempuan memiliki latar belakang, tantangan, dan pengalaman berbeda sebelum mencapai posisi yang mereka jalani saat ini.

Chazizah berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan tetap berjuang menghadapi berbagai stigma yang mungkin muncul dalam perjalanan mereka.

“Generasi ini tidak pantang menyerah, tetap menjalani aktivitasnya, baik itu sebagai perempuan yang mandiri ataupun sebagai seorang ibu yang tetap bekerja di kemudian hari,” katanya.

Dorong Perempuan Berani Bersuara

Sebagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap perlindungan perempuan dan anak, SWYC juga menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai persoalan kekerasan.

Chazizah mengatakan perempuan yang mengalami kekerasan perlu memiliki keberanian untuk berbicara dan memperjuangkan hak-haknya.

Namun, keberanian untuk bersuara tidak harus diwujudkan dengan mengekspos penderitaan korban secara berlebihan kepada publik. Menurutnya, perempuan tetap dapat menyampaikan pengalaman dan memperjuangkan hak tanpa menjadikan penderitaan sebagai komoditas.

“Ketika ada sesuatu hal yang terjadi terhadap mereka terkait dengan kekerasan, tetap mampu berbicara secara luas, tapi tidak juga mempublikasikan diri menjadi seseorang yang mengkomodifikasikan penderitaan itu,” kata Chazizah.

Ia menegaskan, keberanian untuk speak up seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan memperoleh hak sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Keteladanan Perempuan di Balik Nilai Kejujuran dan Kemandirian

Selain perjalanan perempuan dari berbagai profesi, BLU Women’s Journey 2026 juga mengangkat nilai keteladanan perempuan melalui sosok Suhanah.

Perempuan tidak hanya memiliki peran dalam keluarga, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai, keteladanan, dan kemandirian bagi lingkungan di sekitarnya. Sosok Suhanah dikenang melalui nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, terutama kejujuran, kesederhanaan, kreativitas, dan kemandirian.

Dalam perjalanan Budi Luhur University, kontribusi perempuan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses membangun lingkungan pendidikan. Sosok perempuan yang turut hadir dalam perjalanan awal kampus tersebut dikenang bukan semata karena perannya, tetapi juga karena nilai yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu nilai yang paling kuat adalah kejujuran. Kejujuran dipandang sebagai prinsip yang tidak berubah oleh keadaan. Seseorang dapat berada dalam kondisi sulit, sederhana, bahkan mengalami keterbatasan, tetapi kejujuran tetap menjadi ukuran utama dalam menjalani kehidupan.

Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro, M.B.A., yang merupakan putra Suhanah, turut mengungkapkan nilai tersebut ketika menceritakan sosok ibunya.

“Yang paling saya kenal, pertama itu … kejujurannya,” ungkap Kasih.

Menurutnya, kejujuran merupakan sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan kekayaan maupun status sosial.

Nilai tersebut semakin bermakna karena dibarengi dengan kesederhanaan. Perubahan kondisi ekonomi tidak serta-merta mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Ketika kemampuan untuk memiliki kendaraan atau fasilitas yang lebih baik datang, kebahagiaan tetap tidak semata-mata diukur dari benda yang dimiliki.

Keteladanan lainnya terlihat dari dorongan agar perempuan memiliki daya kreativitas dan kemandirian. Perempuan tidak seharusnya kehilangan ruang untuk berkarya hanya karena telah menikah atau memiliki pasangan dengan penghasilan yang baik.

Usaha tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Warung kecil, berjualan, atau kegiatan ekonomi sederhana sekalipun dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian, kreativitas, dan kemampuan mengambil keputusan. Dari pengalaman sederhana itu, seseorang juga dapat belajar mengenal konsep untung-rugi dan membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini.

Nilai kemandirian tersebut memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak dalam kehidupannya sendiri. Perempuan bukan hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu menciptakan peluang dan memberikan kontribusi.

Kisah Suhanah menjadi relevan dalam konteks pendidikan karena keteladanan tidak selalu lahir dari ruang kelas. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, kreativitas, dan kemandirian kerap ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari.

Bagi lingkungan Budi Luhur, sosok perempuan seperti Suhanah dapat dimaknai sebagai bagian dari perjalanan nilai yang membentuk manusia, bukan sekadar mengejar pencapaian akademik. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan juga berlangsung melalui contoh nyata: bagaimana seseorang bersikap ketika menghadapi kesulitan, tetap sederhana ketika memiliki lebih banyak pilihan, dan terus berusaha meski memulai dari hal kecil.

Pada akhirnya, inspirasi dari seorang perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk pencapaian besar yang terlihat publik. Ia dapat tumbuh dari kejujuran yang konsisten, kesederhanaan yang dijaga, serta keberanian mengajarkan kemandirian kepada generasi berikutnya.

Nilai-nilai tersebut membuat sosok Suhanah layak dikenang sebagai bagian dari keteladanan perempuan di lingkungan Budi Luhur—seorang perempuan yang menunjukkan bahwa kontribusi besar dapat lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. (Rom)

LAINNYA