Menavigasi Algoritma Tanpa Kehilangan Jiwa Pendidikan

waktu baca 8 menit
Kamis, 1 Okt 2026 22:27 52 Redaksi

BUKU | TD — Resensi Buku Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi (Jilid 1 – Fondasi dan Konsep)

Di tengah semakin mudahnya siswa mendapatkan jawaban melalui kecerdasan artifisial (AI), pertanyaan penting bagi dunia pendidikan bukan lagi sekadar apakah teknologi tersebut boleh digunakan di ruang kelas. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: ketika mesin semakin pandai memberikan jawaban, apakah manusia masih memiliki cukup ruang untuk berpikir?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu kegelisahan utama dalam buku Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi (Jilid 1 – Fondasi dan Konsep) karya Dr. Iman Nurjaman, M.Pd.

Buku setebal 225 halaman ini hadir ketika pendidikan Indonesia sedang berhadapan dengan perubahan besar. AI generatif menawarkan kecepatan dalam mencari informasi, menyusun teks, menerjemahkan bahasa, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan akademik. Namun, kemudahan tersebut sekaligus membawa persoalan baru: batas antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu belajar dan menyerahkan proses berpikir kepada teknologi menjadi semakin tipis.

Di titik inilah buku Iman Nurjaman menarik untuk dibaca. Alih-alih memosisikan AI sebagai ancaman yang harus dijauhi atau sebagai solusi yang harus diterima tanpa kritik, penulis mencoba menempatkannya dalam posisi yang lebih proporsional: AI adalah teknologi yang harus diarahkan oleh tujuan pendidikan, bukan teknologi yang menentukan ke mana pendidikan bergerak.

Ketika AI Datang ke Ruang Kelas

Salah satu gagasan penting yang dibahas buku ini adalah fenomena cognitive offloading, yakni kecenderungan manusia mengalihkan sebagian beban kognitif kepada alat atau teknologi.

Dalam konteks pendidikan, persoalan tersebut menjadi serius ketika siswa tidak lagi menggunakan AI untuk memperluas proses berpikir, tetapi justru menggunakannya untuk menggantikan proses berpikir.

Siswa dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Namun, memperoleh jawaban tidak selalu berarti memahami persoalan.

Di sinilah paradoks AI dalam pendidikan muncul. Teknologi dapat membuat proses belajar menjadi lebih cepat, tetapi kecepatan tidak otomatis menghasilkan kedalaman. Kemudahan memperoleh informasi juga tidak dengan sendirinya melahirkan kemampuan bernalar.

Penulis kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan tantangan mendasar pendidikan Indonesia, khususnya literasi, numerasi, dan sains. Pesannya cukup jelas: AI tidak seharusnya menjadi jalan pintas bagi fondasi pendidikan yang belum kokoh.

Jika kemampuan membaca, memahami, memverifikasi, menganalisis, dan menyusun argumen belum kuat, penggunaan AI justru berpotensi memperbesar ketergantungan terhadap mesin.

Dari “AI-Centered” Menuju “Human-Centered”

Kekuatan utama buku ini terletak pada upayanya mengembalikan manusia sebagai pusat pembicaraan.

Penulis mengajak pembaca membongkar anggapan bahwa AI adalah sumber kebenaran. Large Language Models (LLM), misalnya, bukan mesin yang “mengetahui” kebenaran sebagaimana manusia memahaminya. Model tersebut bekerja dengan memprediksi keluaran berdasarkan pola dalam data yang dipelajarinya. Karena itu, keluaran AI tetap perlu diperiksa, diverifikasi, dan ditempatkan dalam konteks.

Konsekuensinya bagi pendidikan cukup penting.

Guru tidak cukup mengajarkan siswa bagaimana membuat prompt. Mereka juga perlu mengajarkan bagaimana mempertanyakan jawaban AI, memeriksa sumber, mengenali bias, memahami keterbatasan teknologi, serta mempertanggungjawabkan hasil penggunaannya.

Dengan kata lain, literasi AI tidak berhenti pada kemampuan menggunakan AI, tetapi mencakup kemampuan menilai AI.

Gagasan tersebut kemudian diperluas melalui kerangka AI-TPACK+. Jika TPACK selama ini mempertemukan teknologi, pedagogi, dan konten, penulis menambahkan apa yang disebut sebagai “cincin pelindung” berupa literasi AI, etika digital, dan pengelolaan privasi data.

Kerangka ini menarik karena mengingatkan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan bukan sekadar persoalan perangkat dan keterampilan teknis. Ada dimensi pedagogis, etis, bahkan kemanusiaan yang tidak boleh ditinggalkan.

Membawa Ki Hadjar Dewantara ke Era Algoritma

Bagian lain yang menjadi karakter kuat buku ini adalah upaya penulis menghubungkan perkembangan AI dengan pemikiran pendidikan Indonesia.

Di tengah dominasi wacana teknologi yang banyak berasal dari ekosistem pengetahuan global, penulis kembali melihat pemikiran Ki Hadjar Dewantara, termasuk Sistem Among, Kodrat Alam dan Kodrat Zaman, serta Asas Trikon.

Langkah tersebut penting karena pertanyaan tentang AI pada akhirnya bukan hanya pertanyaan teknologi.

Pertanyaannya adalah: manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh pendidikan?

Jika pendidikan hanya mengejar efisiensi, kecepatan, dan produktivitas, maka AI mungkin dengan mudah ditempatkan sebagai mesin untuk mempercepat semuanya. Namun jika pendidikan bertujuan membentuk manusia yang mampu berpikir, memiliki karakter, memahami lingkungan sosialnya, dan bertanggung jawab atas tindakannya, maka teknologi harus ditempatkan dalam kerangka yang berbeda.

Dalam perspektif ini, AI bukan pusat pendidikan. Ia adalah salah satu alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pendekatan semacam ini membuat buku Humanizing AI tidak semata-mata menjadi buku tentang kecerdasan artifisial. Buku ini juga merupakan perbincangan tentang kedaulatan manusia atas proses pendidikan.

Dari Teknologi ke Praktik Pembelajaran

Buku ini tidak berhenti pada perdebatan filosofis.

Pada bagian kedua, penulis mulai membawa gagasan tersebut ke wilayah praktik pembelajaran. Salah satu konsep yang dibahas adalah tiga pilar pembelajaran mendalam: berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Ketiga konsep tersebut menjadi penting karena penggunaan teknologi sering kali membuat pembelajaran terjebak pada persoalan efisiensi.

Padahal, kelas yang menggunakan banyak teknologi belum tentu merupakan kelas yang menghasilkan pembelajaran mendalam.

Penulis juga menawarkan gagasan tentang AI sebagai Socratic Tutor. Dalam pendekatan ini, AI tidak diarahkan untuk memberikan jawaban akhir secara langsung, tetapi digunakan sebagai mitra dialog yang membantu peserta didik mengembangkan pertanyaan, menguji argumen, dan menemukan kelemahan dalam proses berpikirnya.

Di sinilah prinsip human-in-the-loop menjadi relevan. Manusia tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan.

AI membantu proses berpikir, tetapi tidak mengambil alih tanggung jawab berpikir.

Model SOI dan Upaya Membumikan Gagasan

Salah satu bagian yang cukup aplikatif adalah pembahasan model SOI (Select, Organize, Integrate).

Penulis mengembangkan model tersebut menjadi tujuh tahapan pembelajaran, mulai dari pendahuluan, pengenalan diri, eksplorasi konsep, eksplorasi diri, diskusi, elaborasi, hingga refleksi.

Model ini menunjukkan bahwa penulis tidak hanya ingin berbicara tentang AI pada tingkat konseptual. Ada upaya untuk menerjemahkan gagasan tentang pembelajaran mendalam ke dalam sintaks yang dapat digunakan guru.

Di sinilah buku ini memiliki nilai tambah bagi pembaca dari kalangan pendidik. Guru tidak hanya diajak bertanya “apa itu AI?”, tetapi juga “bagaimana AI ditempatkan dalam proses pembelajaran tanpa menghilangkan aktivitas kognitif siswa?”

Pertanyaan kedua justru menjadi lebih penting ketika teknologi semakin mudah digunakan.

Kekuatan Buku: Teknologi Tidak Dipisahkan dari Etika

Ada tiga hal yang membuat buku ini cukup relevan untuk dibaca.

Pertama, buku ini berusaha mempertemukan teknologi, pedagogi, dan filsafat pendidikan. AI tidak dibahas hanya sebagai perangkat teknis, tetapi sebagai fenomena yang memengaruhi cara manusia belajar dan mengajar.

Kedua, penulis mencoba membumikan diskusi AI melalui pemikiran pendidikan Indonesia. Penggunaan perspektif Ki Hadjar Dewantara memberikan konteks yang berbeda dari sekadar mengadopsi kerangka pendidikan berbasis teknologi yang berkembang di luar negeri.

Ketiga, buku ini tidak mengabaikan persoalan etika. Privasi data, bias, literasi AI, dan posisi manusia dalam pengambilan keputusan menjadi bagian dari pembahasan.

Hal tersebut penting karena perkembangan teknologi pendidikan sering kali lebih cepat daripada kemampuan institusi pendidikan membangun aturan dan budaya penggunaannya.

Catatan Kritis: Fondasi yang Masih Membutuhkan Jembatan Praktis

Sebagai Jilid 1 – Fondasi dan Konsep, buku ini memang lebih kuat sebagai peta pemikiran daripada sebagai buku panduan teknis.

Pembaca yang berharap menemukan contoh lengkap penggunaan AI untuk berbagai mata pelajaran, rancangan modul ajar, skenario pembelajaran per jenjang, atau instrumen asesmen yang siap digunakan mungkin belum sepenuhnya mendapatkan kebutuhan tersebut dalam jilid ini.

Namun, keterbatasan tersebut sekaligus dapat dipahami dari posisi buku sebagai jilid pertama.

Justru karena membangun fondasi konseptual terlebih dahulu, pembaca diajak memahami mengapa AI perlu ditempatkan dalam kerangka pedagogis dan etis sebelum berbicara tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan secara teknis.

Tantangan berikutnya adalah memastikan konsep-konsep yang ditawarkan dapat terus diuji dalam praktik. Sebab, pendidikan tidak hanya membutuhkan kerangka yang baik, tetapi juga bukti bagaimana kerangka tersebut bekerja di ruang kelas dengan kondisi yang beragam.

Menjaga Agar Teknologi Tetap Menjadi Alat

Pada akhirnya, kekuatan utama Humanizing AI bukan terletak pada seberapa banyak istilah teknologi yang berhasil dibahas, melainkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk siapa teknologi pendidikan dikembangkan?

Pertanyaan itu penting karena AI menawarkan sesuatu yang sangat menggoda bagi dunia pendidikan: kecepatan.

Namun pendidikan tidak selalu tentang menjadi lebih cepat.

Ada proses yang memang membutuhkan waktu: membaca dengan teliti, mengalami kegagalan, menyusun pertanyaan, berdiskusi, meragukan sebuah jawaban, mencoba kembali, dan menemukan pemahaman melalui proses yang tidak selalu instan.

Jika seluruh proses tersebut diserahkan kepada mesin, pendidikan mungkin menjadi lebih efisien, tetapi belum tentu menjadi lebih mendidik.

Buku karya Dr. Iman Nurjaman ini karena itu dapat dibaca sebagai ajakan untuk menjaga keseimbangan. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pendidikan tetap harus memastikan manusia tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi cerdas dengan caranya sendiri.

AI dapat membantu siswa menemukan jawaban. Namun tugas pendidikan yang lebih besar adalah membantu mereka memahami mengapa jawaban itu benar, kapan jawaban itu perlu diragukan, dan apa konsekuensi dari keputusan yang mereka ambil.

Di tengah derasnya arus algoritma, barangkali inilah bentuk literasi yang paling penting: bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, melainkan tetap memiliki kedaulatan nalar ketika menggunakannya.

Identitas Buku

Judul: Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi (Jilid 1 – Fondasi dan Konsep)
Penulis: Dr. Iman Nurjaman, M.Pd.
Editor: Ayu Sri Wulandari, M.Kom.
Setting Layout & Desain: Adisty Hanny Asri, ST. & Tim PT. SAN
Penerbit: PT. Sigufi Artha Nusantara
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2026
Ukuran: 17,6 × 25 cm
Tebal: xiii + 225 halaman
ISBN: 978-634-97257-1-2 (Jilid 1) / 978-634-97257-0-5 (Jilid Lengkap). (*)

LAINNYA