UMN Luncurkan Enam Buku Akademisi, Bahas AI, Jurnalistik hingga Semiotika Media Baru

waktu baca 6 menit
Rabu, 30 Sep 2026 20:07 55 Nazwa

TANGERANG | TD — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) meluncurkan enam buku karya akademisinya melalui kegiatan “From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing”, Rabu (30/9/2026).

Bertempat di Ruang Borneo, P.K. Ojong–Jakob Oetama Tower, kegiatan yang digelar Divisi Riset, Inovasi, dan Keberlanjutan (RIS) UMN itu tidak sekadar menjadi agenda peluncuran buku. Forum tersebut juga menjadi ruang dialog tentang bagaimana gagasan akademik, hasil riset, dan pengalaman keilmuan diolah menjadi karya yang dapat menjangkau publik.

Acara dipandu Dr. Kristina Nurhayati, M.I.Kom dengan menghadirkan pembahasan mengenai proses kreatif dan akademik di balik lahirnya sebuah buku, sekaligus tantangan penulis di tengah perubahan teknologi digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Enam buku yang diluncurkan membawa tema yang beragam. Mulai dari komunikasi politik, metodologi penelitian komunikasi, bahasa dan jurnalistik di era teknologi, pengelolaan sumber daya manusia rumah sakit, perubahan masyarakat melalui komunikasi, hingga semiotika media baru.

Keenam buku tersebut yakni:

1. “Narasi Historis dan Mitologis dalam Arsitektur Komunikasi Politik”
Penulis: Dr. Lestari Nurhayati, S.Sos., M.Si.

2. “Tinjauan Literatur dalam Penelitian Komunikasi”
Penulis: Prof. Dr. Elly K. Sarwono, M.A.

3. “Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Ejaan”
Penulis: Dr. Dra. Niknik Medyawati, S.Pd., M.Hum, dkk.

4. “Human Capital Rumah Sakit Berkelanjutan”
Penulis: Dr. Mikaria Gultom, S.Pd., M.A. dan Dr. Hendro Gudianto.

5. “Membaca Zaman melalui Komunikasi”
Penulis: Dr. Arsa Widitiarsa Utoyo, S.T., M.Sn.

6. “Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital”
Penulis: Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.

Keenam karya tersebut menunjukkan luasnya bidang keilmuan yang berkembang di lingkungan UMN. Masing-masing buku berangkat dari disiplin dan pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki irisan yang sama: membaca perubahan manusia dan masyarakat di tengah perkembangan teknologi.

AI dan Tantangan Bahasa Jurnalistik

Salah satu isu yang mengemuka dalam forum tersebut adalah perubahan dunia bahasa dan jurnalistik akibat perkembangan AI.

Persoalan itu antara lain dibahas melalui buku “Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Ejaan” karya Dr. Dra. Niknik Medyawati, S.Pd., M.Hum, dkk.

Buku tersebut mempertemukan tiga ranah yang kini semakin sulit dipisahkan, yakni bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi.

Perkembangan teknologi digital dan AI membuat produksi informasi berlangsung semakin cepat. Namun, kecepatan tersebut juga membawa persoalan baru, mulai dari ketepatan penggunaan bahasa, konteks informasi, hingga kualitas pesan jurnalistik.

Dalam konteks itulah dikembangkan Utapis, sistem berbasis AI yang dirancang untuk membantu mendeteksi dan memperbaiki kesalahan penggunaan bahasa.

Nama Utapis merujuk pada konsep “menapis”, yakni menyaring untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sistem tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan pendekatan machine learning, deep learning, serta model bahasa berbasis transformer.

Meski demikian, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan peran manusia.

Dalam jurnalistik, bahasa bukan sekadar susunan kata untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga membawa konteks, pengalaman, rasa, dan perspektif manusia. Karena itu, kemampuan memahami konteks dan mengambil keputusan editorial tetap menjadi bagian penting dalam proses produksi informasi.

Ketika Sejarah Dipadatkan Menjadi Konten

Persoalan konteks juga muncul dalam pembahasan buku “Narasi Historis dan Mitologis dalam Arsitektur Komunikasi Politik” karya Dr. Lestari Nurhayati, S.Sos., M.Si.

Buku tersebut membahas bagaimana sejarah dan mitologi dapat membentuk narasi dalam komunikasi politik.

Di tengah ekosistem media sosial, sejarah kini semakin mudah diproduksi dan dikonsumsi dalam bentuk konten singkat. Sebuah peristiwa yang kompleks dapat diringkas menjadi potongan video, gambar, infografik, atau narasi beberapa kalimat.

Kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan. Ketika sejarah dipadatkan terlalu jauh, konteks yang menyertainya berpotensi ikut hilang.

Perkembangan AI, deepfake, dan berbagai bentuk manipulasi digital semakin memperkuat kebutuhan terhadap kemampuan memeriksa sumber dan memahami konteks sebuah informasi.

Dengan demikian, literasi sejarah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga kemampuan membaca bagaimana sebuah peristiwa dibentuk dan disampaikan kembali dalam ruang digital.

Tinjauan Literatur Bukan Sekadar Bab dalam Penelitian

Sementara itu, Prof. Dr. Elly K. Sarwono, M.A., melalui buku “Tinjauan Literatur dalam Penelitian Komunikasi”, menempatkan kajian literatur sebagai bagian penting dari proses membangun penelitian.

Tinjauan literatur tidak berhenti pada pemenuhan struktur formal skripsi, tesis, atau disertasi. Lebih dari itu, proses tersebut diperlukan untuk memahami perkembangan pengetahuan, memetakan penelitian terdahulu, menemukan celah penelitian atau research gap, serta merumuskan kebaruan yang hendak ditawarkan.

Kemudahan teknologi dan AI dalam mencari maupun merangkum literatur memberikan peluang baru bagi peneliti. Namun, kemampuan memahami teori, membaca perspektif epistemologis dan ontologis, serta membangun argumentasi tetap membutuhkan kerja intelektual peneliti.

Teknologi dapat membantu proses pencarian dan pengolahan informasi. Tetapi, pertanyaan mengenai apa yang hendak diteliti, mengapa penelitian itu penting, dan bagaimana pengetahuan baru dibangun tetap berada dalam wilayah berpikir manusia.

Membaca Perubahan Zaman melalui Komunikasi

Perubahan masyarakat dari perspektif komunikasi menjadi perhatian dalam buku “Membaca Zaman melalui Komunikasi” karya Dr. Arsa Widitiarsa Utoyo, S.T., M.Sn.

Buku tersebut memperluas pembahasan mengenai komunikasi, media digital, komunikasi visual, serta perubahan masyarakat.

Perkembangan platform digital telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, membangun relasi, memproduksi pesan, sekaligus memahami realitas sosial.

Komunikasi tidak lagi berlangsung dalam ruang media konvensional. Pesan bergerak melalui berbagai platform dengan karakter, kecepatan, dan pola interaksi yang berbeda.

Sementara itu, “Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital” karya Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si., mengajak pembaca melihat bagaimana tanda dan makna bekerja dalam ekosistem media baru.

Dalam media digital, pesan tidak hanya hadir melalui teks. Gambar, video, simbol, emoji, desain visual, hingga mekanisme algoritma ikut memengaruhi cara sebuah pesan diproduksi, disebarkan, dan dimaknai oleh khalayak.

Manusia Tetap Menjadi Kunci Rumah Sakit Berkelanjutan

Dari bidang kesehatan, buku “Human Capital Rumah Sakit Berkelanjutan” karya Dr. Mikaria Gultom, S.Pd., M.A. dan Dr. Hendro Gudianto mengangkat persoalan pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi rumah sakit.

Pengalaman panjang di lingkungan rumah sakit menjadi salah satu pijakan pembahasan mengenai pengelolaan talenta, pengembangan kompetensi, kepemimpinan, dan budaya organisasi.

Perkembangan fasilitas serta teknologi kesehatan memang terus berlangsung. Namun, kualitas pelayanan tetap melibatkan manusia yang menjalankan sistem tersebut.

Komunikasi, empati, kepemimpinan, dan kemampuan membangun pelayanan yang berorientasi pada manusia menjadi bagian dari pembahasan mengenai keberlanjutan organisasi rumah sakit.

Dari Manuskrip ke Ruang Publik

Peluncuran enam buku tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah karya akademik tidak berakhir ketika penelitian selesai.

Sebuah gagasan masih harus dikembangkan, diuji, ditulis, disunting, dan dikomunikasikan sebelum akhirnya dapat dibaca oleh publik.

Di titik inilah “From Manuscript to Bookshelf” menemukan relevansinya. Manuskrip merupakan titik awal, sedangkan buku menjadi salah satu medium untuk membawa pengetahuan keluar dari ruang akademik dan memasuki ruang publik.

Enam karya yang diluncurkan UMN mempertemukan berbagai bidang—komunikasi, bahasa, jurnalistik, teknologi, kesehatan, sejarah, dan kajian media—dalam satu persoalan yang sama: bagaimana manusia memahami perubahan zaman.

Di tengah semakin luasnya penggunaan AI, tantangan akademik dan jurnalistik bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan kecepatan tidak mengorbankan ketepatan, kemudahan tidak menghilangkan kedalaman, dan teknologi tidak menggeser kemampuan manusia untuk berpikir kritis.

Pada akhirnya, perjalanan dari manuscript menuju bookshelf bukan sekadar proses menerbitkan buku. Ia merupakan proses membawa gagasan, riset, dan pengetahuan dari ruang akademik menuju ruang publik—agar tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi terus dibaca, diperdebatkan, dan dikembangkan. (*)

LAINNYA