Bedah Buku 21 Lessons, Warga Cengkok Diajak Siap Hadapi Era AI

waktu baca 3 menit
Senin, 21 Sep 2026 17:09 29 Nazwa

TANGERANG | TD — Jika mesin kini bisa menulis, menerjemahkan, menganalisis data, hingga mengerjakan berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, lalu apa yang harus dipelajari manusia agar tidak kehilangan relevansinya?

Pertanyaan itu mengemuka dalam bedah buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari yang digelar Taman Baca Masyarakat (TBM) bersama Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC), Sabtu malam, 19 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Balaraja, Kabupaten Tangerang, tersebut tidak sekadar membicarakan isi buku. Forum itu menjadi ruang diskusi tentang perubahan dunia kerja, pendidikan, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga kemampuan manusia menghadapi masa depan yang belum sepenuhnya dapat diprediksi.

Pembedah buku, Ade Irawan, mengatakan perubahan teknologi yang semakin cepat membuat manusia tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang dimiliki saat ini.

Mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) itu menilai kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi semakin penting karena dunia terus berubah.

“Pendidikan di masa depan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum kita ketahui,” ujar Ade dalam diskusi tersebut.

Bukan Sekadar Takut Kehilangan Pekerjaan

Dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari mengajak pembaca melihat dampak revolusi teknologi secara lebih luas.

AI, otomatisasi, big data, dan perkembangan bioteknologi tidak hanya berpotensi mengubah jenis pekerjaan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, hingga cara manusia memandang dirinya sendiri.

Karena itu, persoalan masa depan bukan semata-mata apakah manusia akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi.

Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana manusia tetap memiliki peran ketika semakin banyak pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin.

Dalam konteks tersebut, kemampuan manusia untuk berpikir kritis menjadi penting. Termasuk kemampuan memilah informasi, membedakan fakta dari informasi menyesatkan, memahami keterbatasan pengetahuan, beradaptasi, serta belajar kembali ketika keadaan berubah.

Pendidikan Harus Mengajarkan Cara Belajar

Perubahan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi dunia pendidikan.

Di era banjir informasi, mendapatkan informasi bukan lagi persoalan utama. Dengan perangkat digital dan internet, seseorang dapat mengakses informasi dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas.

Persoalannya adalah bagaimana memilih informasi yang relevan, menguji kebenarannya, memahami konteks, lalu menghubungkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi.

Karena itu, pendidikan tidak cukup berhenti pada kemampuan menghafal.

Peserta didik perlu dibekali kemampuan membaca, menganalisis, mempertanyakan, dan menyintesis informasi. Lebih jauh, mereka perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar ketika pengetahuan dan kebutuhan masyarakat mengalami perubahan.

Bagi generasi muda, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Dunia kerja yang mereka masuki beberapa tahun mendatang bisa berbeda dengan dunia kerja yang dikenal generasi sebelumnya.

Pekerjaan baru dapat muncul, sejumlah pekerjaan dapat berubah, sementara keterampilan yang hari ini dianggap penting belum tentu memiliki posisi yang sama di masa depan.

“Semakin cepat perubahan terjadi, semakin penting manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar, memiliki fleksibilitas mental, mampu beradaptasi, dan siap memulai kembali ketika keadaan berubah,” kata Ade.

Dari Buku Menjadi Ruang Belajar Bersama

Diskusi dipandu Alin Febrian, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua IPPC Ilham Roza, Ketua RT Moch. Sidik, tokoh agama Ubaidilah MD, tokoh pendidikan Saripudin Zuhri, serta mahasiswa, guru, pelajar dan pemuda Sentul, Balaraja.

Forum ini merupakan bagian dari agenda rutin dua mingguan yang digelar untuk menumbuhkan minat literasi di Tangerang.

TBM Cengkok Cerdas Mandiri bersama IPPC menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang bertemu, membaca, dan mendiskusikan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tengah laju teknologi yang sulit dibendung, pertanyaan tentang masa depan manusia akhirnya kembali pada satu hal sederhana: mau atau tidak manusia terus belajar.

Sebab teknologi boleh berubah secepat apa pun, tetapi kemampuan untuk belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan memahami diri tetap menjadi bagian penting dari perjalanan manusia menghadapi zaman. (*)

LAINNYA