Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Erupsi Strombolian Muncul Setelah 25 Jam Erupsi Menerus

waktu baca 3 menit
Senin, 7 Sep 2026 12:43 59 Nazwa

BANTEN | TD — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III (Siaga) setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas vulkanik gunung api kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian.

Berdasarkan laporan evaluasi Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Senin (7/9/2026), episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

Episode tersebut berlangsung selama sekitar 25 jam. Setelah berakhir, Badan Geologi mencatat tiga kali erupsi Strombolian pada periode pengamatan 6-7 September 2026.

Aktivitas Vulkanik Masih Dipantau

Badan Geologi menegaskan berakhirnya episode erupsi menerus tersebut tidak berarti aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah sepenuhnya berhenti.

Hasil pengamatan visual dan CCTV pada periode 6-7 September menunjukkan adanya erupsi Strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dalam pengamatan tersebut.

Dari sisi instrumental, PVMBG merekam 3 kali gempa erupsi, 9 kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, 4 kali tremor menerus, dan 1 kali gempa vulkanik dangkal.

Badan Geologi menyebut dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Bahkan, probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih dinilai tinggi.

Ancaman bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Apabila erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi bahaya berupa aliran lava.

Status Tetap Level III atau Siaga

Berdasarkan analisis dan evaluasi hingga 7 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).

PVMBG meminta masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, Badan Geologi menyarankan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang serta tidak mempercayai isu mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan arahan dari pemerintah daerah maupun BPBD setempat.

Abu Vulkanik Masih Berdampak

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir juga berdampak terhadap sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah.

BMKG sebelumnya mengidentifikasi sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia.

Pada Senin (7/9), laporan internasional juga menyebut sejumlah bandara masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kondisi angin dan sebaran abu menjadi salah satu faktor yang terus dipantau untuk keselamatan penerbangan.

Dengan status yang masih berada pada Level III, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dievaluasi oleh Badan Geologi. Status Siaga dan rekomendasi keselamatan tersebut tetap berlaku sampai diterbitkan laporan evaluasi berikutnya atau terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. (Nazwa)

LAINNYA